Peringatan HUT ke-94 Pakasa Berlangsung di Tengah Heboh “Raja Kembar” (seri 1 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:December 28, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Peringatan HUT ke-94 Pakasa Berlangsung di Tengah Heboh “Raja Kembar” (seri 1 – bersambung)
SEMUA ARAH : Salah satu dari pusaka Kiai Singkir Naga Sangga Tirta dan Patrem Sangga Sastra, diacungkan KRRA Panembahan Didik Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) di depan Bangsal Bale-Bang, beberapa saat menjelang kirab, Sabtu (27/12). (foto : iMNews.id/Dok)

Bisa Terwujud Sukses dan  Meriah dari Segala Keterbatasannya

IMNEWS.ID – “SUKSES dan Meriah”. Itulah kata-kata yang paling tepat diberikan untuk menilai jalannya peringatan HUT ke-94 Pakasa dengan segala “sajiannya”. Bahkan, masih banyak kata-kata yang ideal dan pantas diberikan atas jalannya event seni budaya yang berlangsung di tempat kelahiran organisasi Pakasa, 94 tahun lalu.

“Lancar, aman dan membanggakan”. Demikian kata-kata ideal paling mendekati realitas untuk melengkapi kata-kata di atas. Namun, semua kata-kata indah dan ideal yang diberikan, bukan berarti telah menunjukkan kesempurnaan. Tidak. Sama sekali tidak. Karena, kesempurnaan hanya milik Tuhan YME, Allah SWT, Sang Khalik.

Kekurangan tetap ada untuk melengkapi kelebihan yang dicapai semua yang terlibat dalam gelar event HUT ke-94 Pakasa di tahun 2025 ini. Tetapi, tak baik bila hanya melihat kekurangannya, padahal kelebihannya jauh bermanfaat bagi kehidupan secara luas. Walaupun, sadar punya kekurangan adalah sikap ksatria dan edukasi yang baik.

Dan, kesadaran pada kelengkapan dari semua capaian itulah yang akan mendorong kehidupan akan menjadi semakin lebih baik. Karena, mau belajar dari kekurangannya untuk memperbaiki pada capaian di kemudian hari. Kira-kira seperti itulah fakta  yang diraih sajian HUT ke-94 Pakasa di tahun 2025 dan harapan di tahun 2026.

MEMIMPIN DOA : KRRA Panembahan Didik Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus) juga bertugas memimpin doa bersama para pangarsa Pakasa cabang di Pendapa Sitinggil Lor, sebelum mengikuti kirab budaya peringatan HUT Pakasa ke-94, Sabtu (27/12). (foto : iMNews.id/Dok)

Itulah antara lain yang sempat disebut GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa Lembaga Dewan Adat (LDA), dalam sambutan selaku penyelenggara. Berikut juga diungkapkan KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer) selaku pelaksana HUT ke-94 Pakasa saat mendapat giliran memberi sambutan.

Walau tak ada deklarasi secara khusus, tetapi Gusti Moeng dalam kapasitas di internal Kraton Mataram Surakarta, bersama jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan semua elemen masyarakat adat, menjadi penggerak dan pelaksana peringatan HUT. Termasuk pengurus Pakasa Punjer dan pengurus cabang, elemen Pasipamarta dan sebagainya.

Dalam dua hari (26-27/12), semua aktivitas pengisi peringatan HUT digelar di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Bahkan di beberapa bagian bangunan penting yang menjadi pusat kegiatan HUT, juga difungsikan menjadi transit para kontingen Pakasa dari berbagai daerah yang jauh seperti Pakasa Ponorogo, Jepara dan Pakasa Ngawi.

Karena mereka rata-rata membawa pasukan kontingen lebih dari 50 orang, bahkan sampai 150-an orang. Masih ditambah dengan berbagai properti kirab yang melengkapi mereka untuk kebutuhan kirab budaya, misalnya berbagai atribut seni reog, korsik drumband Banser Demak, untuk pementasan wayang-kulit dan berbagai kesenian lain.

PAKASA BOYOLALI : Pakasa Cabang Boyolali yang kepengurusannya baru beberapa bulan ditetapkan setelah vakum lama, kontingennya tampil mengikuti kirab budaya peringatan HUT ke-94 Pakasa yang dipusatkan di Pendapa Pagelaran, Sabtu (27/12). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pakasa Cabang Kudus yang dipimpin KRRA Panembahan Didik Alap-alap Singonegoro selaku ketuanya, memilih transit di lingkungan Masjid Paramasana, walau jumlah kontingennya tidak sampai 50 orang. Tetapi, selain membawa serta properti payung bersusun, kehadiran kontingennya sangat vital di lapangan, karena ada tugas berat.

Tugas berat itu adalah untuk menjawab keinginan semua pihak agar pelaksanaan HUT ke-94 Pakasa dalam dua hari itu (26-27/12), berlangsung “tanpa hujan”. Namun, alam bisa berbicara lain, Tuhan YME juga “maha penentu”. Walau sudah sekuat tenaga KRRA Panembahan Didik Singonegoro memohon agar tertunda, tetapi hujan tetap jatuh juga.

“Biasanya, kalau hari-hari sekitar Natal, datang hujan malah membuat kedamaian. Curah hujan juga dipandang sebagai derasnya rezeki mengalir. Apalagi kalangan petani. Bagi muslim, ada shalat meminta hujan. Tetapi shalat minta tidak hujan, tidak ada. Yang diupayakan ini, memohon agar hujan ditunda atau digeser jatuhnya”.

“Jadi, pawang hujan tidak menolak hujan. Tetapi memohon kepada Allah SWT untuk menunda atau menggeser jatuhnya hujan. Untuk itu, saya dan rombongan harus berpuasa tidak minum dari pagi hingga sore. Dan kontingen Pakasa Kudus, tidak boleh masuk finish, sebelum semua peserta kirab masuk,” ujar KRRA Panembahan Didik.

PAKASA PACITAN : Kontingen Pakasa Cabang Bhumi Wengker Pacitan (Jatim), ketika memasuki gapura pintu masuk kawasan Kraton Mataram Surakarta di Gladag, dalam kirab budaya peringatan HUT ke-94 Pakasa, Sabtu (27/12). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kalau Pakasa Cabang Kudus kembali mendapat tugas sebagai “pawang hujan”, Pakasa Cabang Ngawi, Magetan dan cabang Ponorogo mendapat tugas untuk mengisi panggung kesenian yang disediakan di dalam dan di luar ruang Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Bahkan, sajian seni reognya mampu memberi “kehebohan” di sepanjang rute kirab.

Rute kirab budaya memang hanya sejauh kurang-lebih 2 KM, dari start di halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa menuju Tugu Pemandengan depan Balai Kota Surakarta lalu finish di tempat start. Tetapi kehebohan seni reog dan berbagai kesenian khas masing-masing daerah cabang Pakasa, mampu mengundang perhatian publik secara luas.

Bagaimana tidak heboh, karena dari lebih 30 cabang Pakasa dan 19 cabang yang hadir sesuai daftar yang diisi mengirim kontingen, rata-rata memiliki kesenian daerah khas. Bahkan cabang-cabang Pakasa di Jateng, Jatim, Jabar dan di luar Jawa yang punya seni reog khas Ponorogo, rata-rata mengirim wakil walau tidak semua tampil.

Di saat upacara pembukaan HUT Pakasa ke-94, jumat malam (26/12), hujan sempat jatuh dengan ukuran sedang dan tidak lama. Tetapi, jalannya acara dan sajian seni terutama dari Pakasa Ngawi, Klaten, Boyolali dan Ponorogo tetap melaju lancar. Pentas wayang kulit persembahan Pakasa Ponorogo lakon “Sri Mulih”, cukup berkesan.  

PAKASA MAGELANG : Kontingen Pakasa Cabang Magelang juga tampil di acara kirab budaya peringatan HUT ke-94 Pakasa, Sabtu (27/12). Sejak kelahirannya tiga tahun lalu, Pakasa Magelang adalah cabang yang aktif mengikuti berbagai acara. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pakasa Cabang Jepara yang dipimpin KP Bambang S Adiningrat (Ketua) juga mendapat ugas “ngoprak-oprak” para kontingen dari cabang lain untuk hadir dan bersiap tampil di jadwal masing-masing. Walaupun, Bregada Prajurit Nguntarapraja dan Korsik Drumband Banser dari Demak pimpinan Alim Samsudi, tampil di kirab, Sabtu (27/12).

Demikian gambaran umum jalannya acara dan tugas-tugas di belakang layar yang sudah dijalankan beberapa pihak, untuk lancarnya peringatan HUT ke-94 Pakasa tahun 2025. Ilustrasi sekilas di atas juga sekaligus menggambarkan perpaduan antara kelebihan dan keberhasilan bersama kekurangan dan situasi dan kondisi yang dihadapinya. (Won Poerwono – bersambung/i1)