Tembang Macapat Berkumandang Gayung Bersambut di Arena Pertemuan Rutin
SURAKARTA, iMNews.id – Mungkin hanya di kalangan keluarga besar masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta khususnya elemen Pasipamarta, sebuah gerakan bernada “politis” begitu halus bisa diwujudkan. Mencipta tembang Macapat yang liriknya berisi sebuah deklarasi, lalu ditembangkan silih berganti gayung-bersambut.
Bagi yang tak bisa memahami atau tak pernah mengenal karya sastra berupa tembang Macapat, mungkin tak akan tahu apa yang sedang dilagukan dan untuk maksud apa isi syair tembangnya. Tetapi, itulah keunggulan Budaya Jawa dan masyarakat adat khususnya elemen Pasipamarta, ketika mengharapkan sesuatu yang ideal dan urgen.

Maka, dalam sebuah pertemuan rutin tiap “weton” Minggu Kliwon (14/12) siang hingga sore tadi, sesuatu yang ideal, indah, santun tetapi urgen itu benar-benar bisa diekspresikan. Ada 70-an warga paguyuban lulusan Sangar Pasinaon Pambiwara (Pasipamarta) hadir “berekspresi” dalam tembang di ndalem Kayonan, Baluwarti itu.
Tembang Macapat yang berisi 11 jenis mulai dari “Mijil” hingga “Wirangrong” yang tentu dalam Bahasa Jawa Jawa “krama”, bahkan Bahasa Kawi, disajikan bertutur-turut oleh tiga warga Pasipamarta. Dan hebatnya, dua dari tiga tembang “Dhandhang Gula” itu adalah ciptaan spontan di tempat, oleh KP Budayaningrat Ki Dr Purwadi.

Tembang yang disajikan gayung-bersambut seakan mirip sedang berpantun itu, kali pertama adalah Dhandhang Gula “Babad Pasipamarta” yang ditulis spontan oleh Ki Dr Purwadi. Salah seorang warga Pasipamarta, diminta KP Siswantodiningrat (Ketua Pasipamarta) untuk menyanyikannya, dan suasana khidmatpun terbangun seketika.
Lirik tembang itu adalah, “Paguyuban Pasinaon ngudi; Pambiwara Marcukundha samya; Sigra sigrak gya suwiteng; Surakarta Kedhatun; Nguri-uri budaya adi; Luhung ing kesenian; Mrih kuncara arum; Saindenging jagad raya; Pinersudi angrembaka edi-peni; Angrengga Nuswantara”. Satu bait atau “pupuh” tembang bersejarah lahir.
Kepada iMNews.id yang sama-sama menyaksikan pertemuan Minggu siang tadi, Ki Dr Purwadi menyatakan baru kali ini bisa menulis “Babad Pasipamarta” dalam tembang Macapat. Begitu pula, tulisan “Babad Pambiwara Kraton Surakarta” yang juga lengkap 11 “pupuh” atau bait sesuai nama tembang Macapatnya ditulis untuk melengkapinya.
“Baru kali ini saya sadar, saya belum menulis babad Sanggar Pasinaon Pambiwara dan Pasipamarta. Padahal lembaga sanggar sudah ada sejak 1993 dan Pasipamarta juga sudah lama berdiri. Ini mumpung teringat dan momentumnya tepat. Saya datang pukul 12.00 WIB tadi. Sambil nunggu pertemuan dimulai, nulis saja,” ujar Ki Dr Purwadi.

Dua karya sastra dalam tembang berjudul “Babad” itu langsung di-share (dibagikan-Red) kepada beberapa tokoh Pasipamarta dan Sanggar Pasinaon Pambiwara. Oleh para tokoh penting seperti KP Siswantodiningrat dan KP Budayaningrat, karya “Babad” itu lalu dibagikan ke grup WA Pasipamarta yang kemudian ditembangkan langsung.
Karena merasa “terpancing”, KP Siswantodiningrat meminta anggotanya menyanyikan tembang “Kinanthi” dari “Serat Wulangreh” karya Sinuhun PB IV. Isi tembang itu, menjadi ilustrasi KP Siswantodiningrat untuk melukiskan ketokohan KGPH Hangabehi. Sinuhun PB XIV Hangabehi dilukiskan sebagai tokoh yang jauh dari kesan “kadonyan”.

Ketua Pasipamarta yang juga Wakil Pengageng Sasana Wilapa itu, dalam sambutannya pada pertemuan weton Minggu Kliwon itu, melukiskan tokoh yang benar-benar layak dari berbagai ukuran ideal. Namun, selama ini seakan “tersisih” dari “popularitas tendensius” yang dikembangkan pihak tertentu, yang tujuannya menciptakan opini.
“Opini publik” yang dikesankan serba tidak layak, sengaja dibangun selama ini. Padahal KGPH Hangabehi adalah tokoh yang memiliki modal sosial, budaya, nilai-nilai paugeran dan sebagainya. Dia hanya tinggal di ruang sempit sayap samping Pendapa Sasanamulya tanpa ruang tamu, sebagai kediaman rumahtangga kecilnya.

“Saya sering melihat istri beliau umbah-umbah, dan beliau yang menjemur. Kediaman hanya satu kamar tidur dan dapur jadi satu dengan tempat mencuci. Saya sering menyaksikan kesederhanaan hidup beliau. Ruang tamunya hanya teras samping pendapa yang ditutup tirai bambu. Beliau sungguh jauh dari sifat kadonyan”.
“Maka saya memohon dukungan doa semua anggota Pasipamarta, agar kesederhanaan beliau justru menjadikan Sinuhun PB XIV Hangabehi selalu menjadi teladan yang baik masyarakat adat dan publik secara luas. Semoga selalu dalam bimbingan dan ridloNya. Selalu dinaungi keselamatan dan kebaikan,” pinta KP Siswantodiningrat.
Sambutan KP Siswantodiningrat itu, tentu menggunakan Bahasa Jawa “krama” yang jelas menjadi cirikhas etika dan estetika Budaya Jawa masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. Begitu pula, ketika dari 70-an anggota yang hadir menyampaikan pertanyaan dan pandangan, persentasi “jet audio” latihan sebagai “pambiwara”.
Dari tembang Macapat karya Ki Dr Purwadi dan Tembang Kinanthi dari Serat Wulangreh yang dinyanyikan, tak lama kemudian disajikan tembang “Dhandhang Gula” karya KP Budayangirat berjudul “Manunggal Sedya”. Tembang inilah yang menjadi puncak ekspresi pertemuan itu, karena merupakan “deklarasi pernyataan sikap” yang halus.

“Nunggal sedya ing Prasapa Adi; Para warga sutresna budaya; Pasipamarta arane; kang tansah hanyengkuyung; Adeg Nata Sinuhun Behi; Madeg Suraning ndriya; Agelar Sang ratu; Jumangkah ing gelarira; Sang Apekik Biwadha Nata Narpati; Karaton Surakarta”. Sebuah “sanggit” pernyataan sikap mendukung yang sangat berestetika.
Sementara itu, selain menciptakan tembang “Dhandhang Gula” dukungan untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi, KP Budayaningrat juga diminta memberikan bimbingan. Menurutnya, latihan praktik sambutan dalam upacara adat pernikahan itu, disebut banyak sekali catatannya. Berbicara dalam konteks itu harus “ringkes, teges, nges” dan “mentes”. (won-i1)




