KP Budayaningrat : “Sebaiknya Ada Prosesi dari Kraton Menuju Masjid Agung…”

  • Post author:
  • Post published:December 11, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing KP Budayaningrat : “Sebaiknya Ada Prosesi dari Kraton Menuju Masjid Agung…”
PB XIV HANGABEHI : Sinuhun PB XIV Hangabehi ditegaskan lagi tahapan pososi tahta yang dicapainya melalui momentum donga wilujengan peringatan 40-an hari Sinuhun PB XIII di Sasana Handrawina, Rabu (10/10/2025). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pakasa Cabang Kudus Gelar Donga Wilujengan Untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi

SURAKARTA, iMNews.id – Masa Berkabung 40 hari atas wafatnya Sinuhun PB XIII sudah berlalu, tetapi Kraton Mataram Surakarta belum membuka kembali layanan kunjungan wisatanya. Museum Art Gallery masih ditutup dan belum ada rencana dibuka kembali, meski masa berkabung 40 hari sudah lewat dan ditandai donga wilujengan peringatan “kawandasadinten surud-dalem” di Sasana Handrawina, Rabu Legi (10/12) kemarin.

“Layanan kunjungan wisata umum melalui museum belum dibuka. Kami masih menunggu dawuh dari Sinuhun PB XIV Hangabehi (Pengageng Museum-Pagelaran-Alun-alun Lor). Juga dari Bebadan Kabinet 2004. Kami juga belum tahu, apakah masa berkabung tetap sampai 100 hari untuk beberapa kegiatan seperti kunjungan wisata, atau ada kebijakan lain,” ujar KRMH Sutyo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu).

Pengawas proyek revitalisasi museum yang juga putra tertua KGPH Puger itu menjelaskan hal di atas, saat dihubungi iMNews.id, Kamis (11/12) pagi tadi. Dan penjelasan KRMH Suryo itu, merupakan perkembangan situasi dan kondisi terakhir di kraton, pasca-Sinuhun PB XIII wafat. Proses pergantian tahta yang berdinamika sedang berjalan, pekerjaan riil revitalisasi di dua lokasi juga sedang berjalan.

Pekerjaan proyek revitalisasi di museum dan menara Panggung Sangga Buwana itu, sudah disinggung Sinuhun PB XIV Hangabehi dan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) dalam wawancara dengan para wartawan secara terpisah, kemarin (iMNews.id, 10/12/2025). Beberapa peristiwa itu sudah lewat tetapi masih berproses, sementara Jumat besok (12/12), adalah shalat kelima di Masjid Agung.

UNTUK KEDUANYA : Donga wilujengan yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Sasana Handrawina, Rabu (10/10/2025), adalah permohonan untuk kedua tokoh sekaligus, yaitu kawilujengan Sinuhun PB XIV Hangabehi di 40 hari wafat Sinuhun PB XIII. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Syarat shalat Jumat kelima di kagungan-dalem Masjid Agung, besok, diharapkan akan dipenuhi Sinuhun PB XIV Hangabehi seperti sebelumnya. Bahkan mungkin, akan ada banyak warga dari berbagai elemen masyarakat adat khususnya Pakasa yang akan hadir mengikuti. Untuk itu, KP Budayaningrat selaku dwija Sanggar Pasinaon Pambiwara,  berharap ada yang bertugas menata kehadiran Sinuhun PB XIV Hangabehi ke masjid.

“Dalam kondisi yang bagaimanapun, kelihatannya kok masih bisa ditata lebih baik. Kehadiran Sinuhun PB XIV Hangabehi bisa ditata dalam sebuah prosesi. Berangkat dari dalam atau entah dari mana. Kalau perlu para abdi-dalem Kanca-Kaji dilibatkan untuk mengiringi. Jangan ada yang nyegat di jalan atau baru bergabung di masjid. Ini ‘kan tradisi kraton. Semua ada pedomannya,” tunjuk KP Budayaningrat.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara di tv lokal Surakarta melalui podcast “Ngobrol Dululah”, seorang dalang dan akademisi dari UGM Jogja membahas tentang “Dualisme Kraton Surakarta”. Materi yang diajukan reporter tv pewawancara itu bertema “Pecah Tahta”, yang menurutnya sedang hangat dibicarakan masyarakat melalui berbagai platform media. Akademisi narasumber itu adalah Dr Rudy Wiratama.

Menjawab pertanyaan tentang apakah Kraton Mataram Surakarta masih “punya arti dan makna” bagi masyarakat luas, Ki Dr Rudy Wiratama memberi contoh melalui dua ilustrasi peristiwa. Yang pertama ada peristiwa pesta perkawinan digelar sebuah keluarga luar Jawa di Bandung, dan Ki Dr Rudy Wiratama hadir untuk memberi “ular-ular”. Saat itulah, MCnya meminta memberi jalan “tamu dari Kraton Solo” mau lewat.

UNTUK TIGA HAL : KRRA Panembahan Didik Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus) mengantar doa Subuh bersama, Rabu pagi (10/12), untuk peringatan 40 hari Sinuhun PB XIII, kawilujengan Sinuhun PB XIV Hangabehi dan tiga warganya yang berangkat umrah. (foto : iMNews.id/Dok)

Ilustrasi kedua, dalang khusus wayang Gedhog yang pernah aktif di kraton itu bertutur, ketika dirinya hendak menggelar wayang di ndalem Joyokusuman, 300 meter selatan tembok (Baluwarti) kraton. Saat hendak berganti busana dalang ditanya warga, pentas wayangnya sampai jam berapa?. Dia menjawab sampai jam 23.00, tapi warga itu mengatakan kalau bisa jam 10.00, agar tidak mengganggu pentas dangdut.

Ki Dr Rudy hanya menjelaskan bahwa ada pandangan masyarakat yang menganggap kraton masih ada pengaruhnya. Tetapi di sisi lain, ada sikap masyarakat yang memandang kraton itu apa?. Dia melukiskan ada dua pandangan yang bertolak-belakang atau terbelah menjadi dua di masyarakat, dan mungkin ada yang apatis. Sikap masyarakat yang asyik berkegiatan sendiri, dan kraton juga punya aktivitas sendiri.

Ketika ditanyakan tentang fenomena “Raja Kembar”, Ki Rudy yang mengaku warga Surakarta yang sama sekali tidak mewakili kraton menunjukkan, bahwa fenomena itu sudah ada pada suksesi 2004. Mengenai persaingan “Raja kembar” sekarang ini, disebut sebagai upaya merebut legitimasi siapa siapa yang berhak mewakili kraton? Bukan seperti yang disebut berbagai media sebagai sekadar “main raja-rajaan”.

Menurutnya, perebutan tahta itu merupakan bagian dari genetik masyarakat bangsa di Nusantara. Karena, masalah itu sudah ada sejak zaman dulu. Kepala Pusat Kajian Jawa FIB UGM itu juga mengidentifikasi seni pedalangan khusus wayang “Gedhog” yang digeluti sebagai profesi, adalah identik dengan lingkungan kerajaan. Hampir semua babad yang dibacanya, menyebutkan kisah-kisah perang dan konflik perebutan tahta.

SAMPAI DI LUAR : Doa Subuh bersama yang digelar di kantor sekretariat Pakasa di Desa Singocandi, Kecamatan Bae, sampai tak bisa menampung semua yang hadir dan terpaksa berdiri di luar kantor yang juga kediaman Ketua Pakasa Cabang Kudus itu. (foto : iMNews.id/Dok)

“Tak bisa dipungkiri, bahwa ada pandangan orang Jawa tentang tahta dan kekuasaan. Kalau kita berbicara tentang tahta dan kekuasaan, tetapi dimaknai karena ada bantuan hibah sebesar Rp 200 juta, dari provinsi dan sebagainya seperti ungkapan pejabat (Sekda Kota Surakarta) itu, ya sangat ‘saru’. Bantuan (materi) memang penting. Tetapi saya kira bukan sekadar itu,” ujar Kepala Pusaka Jawa FIB UGM itu.

Soal jaminan proses pergantian tahta agar damai itu, Ki Dr Rudy hanya menyebut tiap-tiap zaman punya beban berbeda. Tetapi bagaimana agar diberi “wilujeng” dan tahtanya bisa lestari?, harus dicarikan solusi. Misalnya, peningkatan kapasitas calon secara lahiriah dan batiniah. Menjadi penerus tahta sangat lompleks, dan banyak perhitungan teknis dan nonteknis, pragmatis juga unsur ideologis religius.

“Dari yang sudah saya pelajari, ketika ada orang ingin menulis sejarah Indonesia, sesungguhnya mereka akan menuliskan sejarah politik. Dan, di dalamnya pasti ada dinamika intrik politik, termasuk raja kembar. Jadi, ini bukan fenomena baru. Ratusan tahun lalu sudah sering terjadi dan berulang. Kalau ada harapan persaingan raja kembar bisa berjalan damai, sepertinya tidak ada jaminan,” ujarnya.

Sementara itu, bersamaan dengan berlangsungnya ritual peringatan 40-an hari di kraton, Pakasa Cabang Kudus juga menggelar donga wilujengan di Kantor Sekretariat Pakasa Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Donga wilujengan digelar Rabu (10/12) mulai pukul 04.00 WIB hingga lepas shalat Subuh, untuk mendoakan 40 hari wafat Sinuhun PB XIII dan tiga warga Pakasa yang akan berangkat umrah.

PAMITAN HARU : Saat berpamintan yang dilakukan tiga warga Pakasa Cabang Kudus yang hendak berangkat umrah, Rabu pagi (10/12) kemarin, langsung menjadi suasana haru semua yang hadir dan mendoakan mereka dalam doa Subuh bersama itu. (foto : iMNews.id/Dok)

“Karena Pakasa tidak dilibatkan dalam wilujengan pengetan 40 hari surud-dalem, kami Pakasa Kudus mengirim doa dari sekretariat. Yang pertama donga wilujengan untuk Sinuhun PB XIII, kedua untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi dan doa untuk tiga warga kami yang akan berangkat umrah. Kami kumpulkan warga Pakasa yang juga para santri di rumah Singocandi, untuk mengirim doa dari sini,” ujar KRRA Panembahan.

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro selaku Ketua Pakasa cabang Kudus yang dimintai konfirmasi iMNews.id kemarin menyebutkan, ada tiga hal penting yang menjadi inti doa Subuh, kemarin. Doa Subuh itu diikuti sekitar 50 orang warga  dan pengurus Pakasa yang sekaligus santri dari 4 Majelis Taklim miliknya. Acara itu juga untuk pamitan tiga warga yang akan berangkat umrah, Rabu pagi kemarin. (won-i1)