Gusti Moeng : “Upacara Jumenengan Nata, Biarlah Terjadi Secara Alami…”
SURAKARTA, iMNews.id – Jajaran Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng menggelar upacara adat peringatan “kawandasadinten” wafat Sinuhun PB XIII, yang berlangsung sederhana di “gedhong” Sasana Handrawina, Rabu Legi (10/12/2025). Ritual peringatan “patangpuluhdina” atau 40 hari yang jatuh pada 19 Jumadilakhir tahun Dal 1959 siang tadi, hanya dihadiri beberapa terbatas sekitar 300-an orang.
Upacara adat yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) mulai pukul 11.00 WIB, hanya berisi “donga wilujengan” pembacaan Surat Yassin, tahlil dan dzikir yang dipimpin abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro. Satu-satunya sambutan hanya dari Gusti Moeng yang dilakukan setelah rangkaian donga wilujengan selesai, yaitu sekitar 60 menit kemudian.
Ada sedikit kejutan yang terjadi dalam upacara adat 40-an hari, siang tadi, yang diperlihatkan Gusti Moeng. Yaitu penegasan mengenai posisi status kedudukan KGPH Hangabehi, yang sudah sah menjadi Sinuhun PB XIV, sebagai penerus tahta dinasti dari ayahandanya sebagai Sinuhun PB XIII. Status ini bahkan sudah lengkap pada donga wilujengan 13 November 2025 lalu, dan tinggal menjalani jumenengan nata.
Secara tersirat, perubahan status itu disinggung Gusti Moeng dalam sambutannya menutup ritual. Ada rangkaian kalimat yang menyebut minta doa restu untuk GRM Suryo Suharto yang berganti nama menjadi KGPH Mangkubumi. Kemudian dilanjutkan perubahannya menjadi KGPH Hangabehi, Pangeran Adipati Anom dan menjadi Sinuhun PB XIV. Pernyataan itu kembali ditegaskan dalam wawancara dengan para wartawan.

“Iya, betul. Jadi, ini tadi adalah donga wilujengan peringatan 40 hari wafatnya Sinuhun PB XIII. Sekaligus minta doa restu semua pihak, bahwa KGPH Hangabehi sudah sah berubah status dan posisi sebagai Sinuhun PB XIV. Donga wilujengan tanggal 13 November itu mengangkat sebagai Pangeran Adipati Anom, yang sekaligus sudah sah menjadi Sinuhun PB XIV. Kalau tinggalan upacara jumenengan nata, ya nantilah”.
“Biarlah nanti berjalan secara alami saja, upacara adat jumenengannya. Nanti ya akan ada upacara jumenengan nata seperti itu di sana (Pendapa Mangunturtangkil). Ya pakai Bedhaya Ketawang. Karena, lengkapnya begitu. Sesuai paugeran adat menjadi keharusan. Tidak ada target waktu kapan, tapi nanti, mengikuti alam saja. Kalau soal Bebadan kabinet, ya meneruskan yang ada dan sudah bekerja,” ujar Gusti Moeng.
Dalam menjawab pertanyaan para wartawan yang mewawancarai di teras Sasana Handrawina, Gusti Moeng menjelaskan banyak hal. Baik mengenai posisi kabinet yang menggunakan jajaran Bebadan yang sudah terbentuk sejak 2004, yang di dalamnya kini masih banyak para tokoh yang setia bekerja. Termasuk dirinya, salah seorang putri Sinuhun PB XII (anak ke-25) yang sudah bekerja dan akan tetap meneruskan bekerja.
Dia juga menyebut, setiap pergantian tahta di Kraton Mataram Surakarta, selalu dilaporkan kepada seluruh jajaran pemerintah, dari pusat ke daerah. Karena, kraton menyadari sejak 17 Agustus 1945 lembaganya sudah berada di dalam NKRI. Ini yang disebut mendasari bahwa keberadaan kraton dan setiap pergantian pemimpinnya, selalu diberitahukan kepada pemerintah sebagai mitra sekaligus “pengayom” kraton.

Gusti Moeng bahkan menjelaskan kesepakatan awal saat NKRI berdiri didukung oleh kraton-kraton se-Nusantara. Pemerintah yang menjalankan amanat konstitusi sebagai tangan-panjang negara, harus menjadi pangayom, pelindung, “pangayem” dan pemelihara kraton bersama budayanya. Kalau sekarang giliran Kraton Mataram Surakarta sedang ada sedikit gejolak karena pergantian kepemimpinan, menurutnya wajar.
Dalam ritual 40-an hari siang tadi, tidak tampak beberapa tokoh penting seperti Maha Menteri KGPH Tedjowulan yang sebelumnya sebagai “Plt” Sinuhun. Gusti Moeng menjelaskan, yang bersangkutan memang tidak diundang, tetapi sebelumnya sudah diberi laporan dan diyakini sudah mengetahui mengenai acara itu. Dia menegaskan, bahwa pihaknya selalu terbuka bekerjasama dengan pemerintah di berbagai bidang.

“Ini kami akan segera mengadakan rapat untuk membahas revitalisasi Panggung Sangga Buwana. Karena, nanti akan ada penyerahan dari pelaksana kepada pemberi proyek dan kepada kraton selaku penerima bantuan. Dalam kesempatan ini, saya juga ingin berterimakasih kepada masyarakat luas yang menunjukkan perhatiannya melalui medsos. Harapan agar kraton cepat tenteram kembali, itu sangat kami perhatikan”.
“Kami merasa diingatkan untuk terus menjaga pelestarian peninggalan leluhur, dengan tetap memegang teguh paugeran adat. Kami justru minta doa restu masyarakat luas dan bimbingan Allah SWT, untuk meneruskan kerja adat melestarikan Budaya Jawa yang bersumber dari kraton. Begitu juga, pelestarian semua peninggalan leluhur. Kami tahu masih banyak masyarakat yang cinta Budaya Jawa,” tunjuk Gusti Moeng.

Sementara itu, KGPH Hangabehi yang sudah melewati tahapan perjalanannya menjadi pangeran Adipati Anom bahkan sah sebagai Sinuhun PB XIV, nyaris tak menunjukkan sikap congkak dan berubah sikap. Hadir di ritual 40-an hari justru semakin tampak “merendah” mirip pepatah tentang padi, justru makin santun dan santai, seolah tak punya beban. Berkacamata hitam karena habis “masuk-angin”, saat ditanya wartawan justru mengajak bercanda.
“Jadi, setelah ini tidak ada rencana apa-apa. Ya terus bekerja saja. Kalau soal upacara jumenengan nata, ya biar nanti saja. Ini ada hal yang lebih penting, yaitu revitalisasi Panggung Sangga Buwana yang hampir selesai. Revitalisasi museum yang baru dimulai. Dan itu, atap Bangsal Pradangga yang sudah melengkung dan harus disangga dengan tiang bambu. Itu lebih butuh perhatian,” ujar Sinuhun PB XIV.

Tawa riang menghiasi wawancara para wartawan yang mencegat Sinuhun PB XIV di depan Sasana Handrawina, sehingga bisa menunjuk ke arah Bangsal Pradangga yang penuh disangga batang bambu di seberang halaman. Suasana bercanda akrab itu terjadi saat ditanya soal kacamata hitam yang dikenakan. Dengan berkelakar menjawab, selain mata pedas dan terus berair, “Ya ben rada beda sithiklah, yen nganggo kacamata”.
Jawaban Sinuhun PB XIV hangabehi itu tentu mengundang senyum dan tawa belasan wartawan yang mengerumuninya. Suasana segar dan riang itu juga sama saat wawancara dilakukan para wartawan terhadap Gusti Moeng. Ketika ditanya “apakah puasanya berbicara sudah selesai?”. Gusti Moeng menjawab, “ooo, puasa berbicara ta…? Ya, sekarang selesai, tapi besok lanjut lagi,” ujar Gusti Moeng sambil senyum-senyum.

Dengan berlangsungnya ritual 40-an hari itu, menjadi jelas perkembangan situasi dan kondisi terakhir di kraton. Karena, kini ada dua tokoh yang sudah dinyatakan mencapai tahtanya. Dan yang menyertai itu ada banyak pertanyaan muncul dan belum terjawab. Yaitu penjelasan soal posisi Maha Menteri KGPH Tedjowulan, apakah statusnya sebagai “Plt” Sinuhun sudah berakhir atau menunggu sampai jumenengan?.
Pertanyaan berikut, rencananya mengundang kembali dua pihak (Sinuhun PB XIV) untuk bertemu untuk membahas ritual 40-an hari, apakah berarti gagal? Pertanyaan ini baru terjawab oleh peristiwa ritual itu, juga pernyataan Gusti Moeng dan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Kabar pihak “seberang” juga akan menggelar peringatan 40-an hari terpisah di lain hari, dan KGPH Tedjowulan tidak hadir juga masih jadi pertanyaan. (won-i1)




