Gusti Moeng Titip Doa Peringatan HUT Pakasa, Untuk “Tahta” KGPH Hangabehi
IMNEWS.IDÂ – PAKASA Cabang Kudus masih “menyelipkan” harapan di antara semua jawaban yang diberikan untuk jajak-pendapat yang diinisiasi iMNews.id, kemarin (iMNews.id, 24/11/2025). Harapan itu terbungkus dalam kalimat doa yang disampaikan secara khusus atas nama dan mewakili Pakasa Cabang Kudus, bersamaan dengan datangnya peringatan HUT 94 tahun Pakasa yang tepat jatuh hari ini, 29 November.
Bahkan, kalimat doa yang disampaikan kepada iMNews.id itu seperti gayung-bersambut dengan permintaan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA), yang titip doa kepada semua pengurus Pakasa cabang yang menggelar malam tirakatan dan doa untuk peringatan HUT ke-94 Pakasa, Jumat (28/11) semalam. Isi doa itu adalah “panyuwunan” untuk keselamatan dan kelancaran “perjalanan” KGPH Hangabehi.
“Itu pesan Gusti Moeng yang diberikan kepada semua pangarsa Pakasa cabang. Titip doa untuk Kanjeng Gusti (KGPH) Hangabehi. Bersamaan itu ada saran bagi Pakasa cabang untuk menggelar malam tirakatan menjelang HUT ke-94 Pakasa, tadi malam (Jumat, 28/11). Kami Pakasa Kudus, sudah bersiap-siap untuk mengadakan pertemuan menggelar doa bersama memperingati HUT Pakasa itu, sehubungan belum ada dhawuh”.
“Sejak rapat koordinasi Pakasa sebelum Sinuhun PB XIII wafat, ‘kan belum ada pertemuan lanjutan. Selama masa berkabung sambil menunggu dhawuh-dhawuh wilujengan dan jumenengan nata, kami sebenarnya menunggu pemberitahuan soal HUT Pakasa. Tapi kelihatannya tidak mungkin, maka Pakasa Kudus mengagendakan gelar pertemuan doa semalam, bersamaan datangnya dhawuh Gusti Moeng,” ujar KRRA Panembahan Didik.

Tetapi sayang, lanjut KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro itu saat dihubungi iMNews.id semalam, acara tirakatan terpaksa tidak bisa digelar. Undangan kepada semua warga dan pengurus Pakasa Cabang Kudus juga dibatalkan, karena kondisi kesehatan Ketua Pakasa Cabang Kudus kurang baik. Dikatakan, sejak pulang dari menghadiri penobatan Adipati Anom, 13/11, dirinya jatuh sakit.
“Yaitu, sepulang dari pisowanan di Sasana Handrawina itu, sampai rumah saya sakit. Esoknya saya mencoba berobat ke dokter langganan, tapi tidak kuat, semaput di tengah perjalanan. Ndilalah, ada anak saya yang juga sakit dan ke dokter. Istri saya juga menyusul sakit. Sampai sekarang, saya belum pulih. Maunya mengajak pengurus tirakatan dan berdoa bersama, tidak kuat. Batal,” ujar KRRA Panembahan.
Karena dirinya masih sakit dan tirakatan batal, lanjutnya, dirinya sendiri berdoa untuk HUT Pakasa dan “kelancaran perjalanan” KGPH Hangabehi menuju tahta. Dirinya hanya bisa mengirim doa seandainya ada peringatan HUT ke-94 Pakasa yang digelar di Punjer. Apalagi, bersamaan dengan “dhawuh” titip doa dari Gusti Moeng agar KGPH Hangabehi “pinaringan” hidayah sebagai Sinuhun PB XIV, nglungsur keprabon PB XIII.
Di antara kalimat doa yang disampaikan kepada iMNews.id itu, berisi :”Dhuh Gusti Allah Ingkang Maha Asih lan Maha Welas, kula nyuwunanken kekiatan lan pangestu kangge SISKS Paku Buwana XIV Hangabehi. Mugi pinaringan hidayah, kawicaksanan, pitedah, katentreman manah, tansah saget ngemban lan nindakaaken paugeran kanthi raos hasta brata, ngayomi kadang, pepunden, kraton-dalem lan sadaya kawulanipun”.

Sementara itu, KRMH Suryo Kusumo Wibowo selaku unsur pengurus Pakasa Punjer yang dimintai konfirmasi iMNews.id siang tadi menyebutkan, donga wilujengan HUT ke-94 Pakasa digelar di Bangsal Smarakata secara sederhana. Wilujengan dipimpin Gusti Moeng dan doa dipimpin abdi-dalem RT Irawan Pujidipuro. Potong tumpeng dilakukan Gusti Moeng dan dihadiri 30-an orang dari Pakasa Punjer dan Bebadan Kabinet 2004.
Sementara itu, rencana peringatan HUT ke-94 Pakasa seperti pernah diagendakan dalam rakor beberapa waktu lalu akan jatuh 25-26 Desember, hingga kini belum ada kabar keputusan lebih lanjut. Energi dan konsentrasi seluruh kerabat, Bebadan Kabinet 2004 dan semua elemen, kini sedang tertuju pada agenda donga wilujengan peringatan 40 hari wafat Sinuhun PB XIII dan agenda “mengantar” KGPH Hangabehi.
Bersamaan dengan itu, dinamika yang menyertai rencana upacara adat peringatan “kawandasadintenan” (40 hari) di dalam masa berkabung juga terus bergerak maju. Setelah shalat Jumat ketiga (28/11/2025) kemarin, KGPH Hangabehi menghadiri undangan Maha Menteri Panembahan KGPH Tedjowulan yang menggelar pertemuan di kediaman Wali Kota Surakarta, Loji Gandrung, malamnya atau semalam.
Sebuah pertemuan yang diininisiasi Maha Menteri selaku ad-interim “raja” untuk mengisi kekosongan sebelum Sinuhun PB XIV secara definitif jumeneng nata, dimaksudkan untuk tujuan rembug keluarga sebagai kelanjutan “musyawarah agung” pertama, 13 November di sasana Handrawina. Namun setelah yang pertama, pertemuan kedua di Loji Gandrung semalam, KGPH Purubaya kembali tidak hadir tanpa alasan.

Atas ketidakhadiran KGPH Purubaya dua kali berturut-turut tanpa penjelasan apapun itu, Kanjeng Pakoenegoro selaku juru-bicara Maha Menteri KGPH Tedjowulan sangat menyesalkan sikap itu. Disebutkan, dua kali surat undangan secara resmi dikirim kepada KGPH Purubaya dan KGPH Hangabehi yang isinya sama keperluan bertemu dalam rangka “rembug keluarga”. Undangan itu disebut juga ditembuskan kepada Wali Kota.
“Surat undangan itu juga ditembuskan kepada Wali Kota Surakarta Respati Adi. Karena, beliau memfasilitasi dengan meminjamkan Loji gandrung sebagai tempat pertemuan dua pihak. Pihak KGPH Hangabehi menyatakan siap hadir dan benar-benar tiba di Loji Gandrung, semalam. Sementara, undangan untuk KGPH Puruboyo diterima KGPH A Dipokusumo. Tetapi semalam tidak hadir,” ujar Kanjeng Pakoenegoro.
Disebutkan, setelah dua kali diundang tidak hadir tanpa keterangan apapun, menurut juru-bicara Maha Menteri itu masih diupayakan gelar pertemuan ketiga yang kembali mengundang pihak KGPH Purubaya, selain pihak KGPH Hangabehi. Maha Menteri berharap dalam pertemuan ketiga yang diagendakan nanti, KGPH Purubaya bersedia hadir. Namun tidak dijelaskan, kapan dan dimana pertemuan berikut akan digelar kembali.
“Salah satu hal penting yang akan dibahas dalam pertemuan, adalah agenda persiapan wilujengan 40-an. Selain itu, tentu menyangkut agenda penting suksesi kepemimpinan di kraton. Juga komitmen bersama untuk menjaga kerukunan keluarga besardinasti dan upaya menjaga kelangsungan dan masa depan Kraton Mataram Surakarta. Itu yang utama,” jelas Kanjeng Pakoenegoro.

Di sisi lain, dinamika yang berkembang seiring perjalanan menuju tahta, ternyata juga menarik berbagai pihak kalangan internal maupun eksternal kraton, khususnya yang memiliki kepentingan pribadi. Menurut seorang pengamat dari akademisi, pihak-pihak yang punya kepentingan pribadi/kelompok baik bisnis maupun politis, selalu mengikuti ke mana “arah angin” menuju tokoh tertentu yang makin menguat.
Seiring dengan itu, lembaga dan berbagai elemen masyarakat adat di ring satu dan menjadi daya dukung tahta, harus tetap waspada agar lingkungan KGPH Hangabehi steril dari para “destroyer” yang menyusup dan pihak yang ingin mendekat untuk berbagai kepentingan. Karena, para tokoh “buta sabrang” yang membawa dua karakter itu selalu ada di setiap suasana suksesi, termasuk yang sudah terpantau saat ini. (Won Poerwono – bersambung/i1)









