Simbol Gula-Klapa Merah-Putih Sering Ikut “Dijarah”, Ternyata Dibagi-bagi Warga Sedesa
IMNEWS.ID – HAMPIR setiap kraton menggelar upacara adat jenis “Garebeg” terutama “Garebeg Mulud” yang terhitung paling besar, ada risiko yang sulit dihindari para abdi-dalem petugas pelaksana yang membawa “uba-rampe” upacara di lapangan. Yaitu, ketika terjadi atraksi “berebut dan menjarah” benda apa saja yang menempel pada “hajad-dalem Gunungan”, termasuk bendera kecil merah-putih, simbol “gula-klapa”.
Simbol lambang negara Sang Dwi Warna dalam ukuran kecil itu, sebenenarnya hanya sebagai hiasan yang membuat penampilan “Gunungan” semakin tampak indah, penuh warna. Tetapi, hiasan itu justru menjadi simbol penegas, bahwa Kraton Mataram Surakarta tetap konsisten pada sikapnya saat mendukung kelahiran NKRI. Karena, simbol merah-putih itu justru pusaka kraton yang melestarikan peninggalan Majapahit.
Oleh sebab itu, ketika terjadi “chaos” massa berebut dan menjarah isi “Gunungan” baik di halaman masjid maupun di halamana Kamandungan, sebenarnya ada yang dikhawatirkan abdi-dalem petugas di lapangan. Yaitu, sedapat mungkin bisa melindungi beberapa bendera kecil merah-putih yang menghiasi lingkar “Gunungan”. Begitu juga “kampuh” merah-putih yang membungkus bagian bawah “Gunungan” atau “Ancak Tantaka”.

Karena ketika “chaos” sedang terjadi tetapi hiasan merah-putih belum sempat “diselamatkan”, peristiwa itu dianggap risiko tetapi bisa membuat haru atau “trenyuh”. Karena, bendera kecil bahkan kampuh,yang ikut “dijarah” massa yang “ngalab berkah”, ternyata berkait dengan keyakinan spiritual kebatinan warga. Semua yang didapat dari “ngalab berkah” lalu dibagi-bagi rata di kalangan tetangganya di desa.
“Dulu saya pernah khawatir, hiasan bendera dan ‘kampuh’ itu harus dijaga sangan sampai ikut ‘dirayah’ (dijarah). Tetapi setelah saya mendengar penjelasan warga yang datang jauh-jauh dari berbagai desa untuk ‘ngalab berkah’, saya bisa memaklumi. Meskipun belum bisa 100 persen memahami. Karena, yang ikut dibagi-bagikan untuk disimpan di rumah masing-masing keluarga itu, termasuk bendera dan kampuh”.
“Jadi, tidak hanya rengginan, lentho, kacang lanjaran dan janur penghias topengan Kamandungan, semua yang didapat dibagi-bagi. Kalau bendera dan kampuh disimpan di almari atau tempat yang aman dari hama. Kalau yang termasuk bahan pangan atau olahan, dicampurkan waktu memasak atau bercocok-tanam. Mereka meyakini, bisa mendatangkan rezeki. Saya bisa memahami itu,” ujar KPH Suryo Kusumowibowo.

Koordinator lapangan (Korlap) di berbagai upacara adat sesuai penugasannya dari Bebadan Kabinet 2004, ketika dimintai penjelasan soal tugas-tugasnya mengawal setiap upacara adat itu menyebutkan hal-hal yang luput dari perhatian umum. Wakil Pangegang Sasana Prabu itu menjawab pertanyaan iMNews.id menegaskan, dirinya bisa memaklumi alasan yang mungkin oleh masyarakat kebanyakan “dipaido” atau sulit dipercaya.
Tetapi menurutnya, semua hal yang bisa disebut sebagai “kharomah” dari Kraton Mataram Islam, selalu bisa menghadirkan berkah dan keberuntungan. Karena, semua “uba-rampe” upacara adat yang dibagi-bagikan, lebih dulu didoakan di kagungan-dalem Masjid Agung. Dia mengamini penegasan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA), apa saja yang berkait dengan kraton, “kena ora percaya, nanging ora kena maido”.
“Ya, karena hampir semua masyarakat yang ‘ngalab berkah’ menyatakan seperti itu, saya setuju dengan yang selalu dipesan Gusti Wandan (Gusti Moeng-Red) itu. “Ora percaya ya ora apa-apa, ning aja maido”. Karena sudah diyakini akan membawa berkah, maka kami hanya berjaga-jaga saja. Setiap mau menggelar upacara adat Garebeg, pasti kami menyediakan sejumlah bendera kecil dan kampuh baru,” ujar KRMH Suryo Kusumo Wibowo.

Mencermati pernyataan KRMH Suryo Kusumo dari hasilnya “mendengar” ungkapan ekspresi warga pedesaan dari sekitar Kota Surakarta yang datang “ngalab berkah” setiap kraton menggelar “hajad-dalem Gunungan”, maka ada faktor non-teknis yang bisa muncul dari event ritual itu. Karena, setiap ritual di kraton, memiliki kekuatan sakral, mistis dan rasional karena dibangun dengan kekuatan spiritual religi dan kebatinan.
“Upacara adat Sekaten itu sudah ada sejak zaman Kraton Demak (abad 15). Bahkan, wujud ‘gunungan’-nya sudah ada pada zaman leluhur sebelumnya, yaitu Kraton Majapahit (abad 14). Sekaten sebagai upacara ‘wilujengan nagari’, terus disempurnakan pada zaman Kraton Pajang sampai Sinuhun Panembahan Senapati mengawali Mataram. Selain ‘Pareden’ plus uba-rampe, ada sepasang gamelan yang melengkapi upacaranya”.
“Sampai zaman Kraton Mataram saat Sinuhun Sultan Agung jumeneng nata, upacara adat Sekaten menjadi sangat lengkap rangkaiannya, tuntas urut-urutan tatacara dan tahapannya serta final sebagai puncak kebudayaan Jawa yang berakulturasi dengan Islam. Karena, kalender untuk menentukan waktu penyelenggaraan seluruh rangkaian Sekaten, sudah disusun lengkap,” ujar KP Budaya Budayaningrat menjawab iMNews.id.

“Dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara yang bisa menginisiasi fungsi “Lembaga Kapujanggan” di kraton itu lebih lanjut menjelaskan, lembaga kraton yang menggelar upacara adat dengan simbol-simbol “Gunungan” untuk jenis “Garebeg”, karena (dulu) “grate” atau lavelnya adalah negara. Maka, baik ukuran maupun cakupan doa yang disampaikan adalah level “wilujengan nagari”, simbolnya disebut “Pareden” (gunungan).
Dengan begitu, maka ritual-ritual sejenis yang digelar di tingkat kabupaten, desa dan keluarga, baik porsi, wujud dan namanya juga berbeda. Dan, kalau mengacu pada wujud upacara yang ada sebelum Kraton Demak, yaitu zaman Majapahit, ada “wilujengan nagari Murwa Warsa”. Selain “Pareden”, dalam upacara adat ini malah harus ada simbol-simbol kehidupan yang semuanya berpasangan, jaler-pawestri, jantan-betina.
Simbol kehidupan dan genetika dalam hajad-dalem “Pareden Garebeg Mulud”, misalnya, selain ada “Pareden” kakung (jaler) dan putri (pawestri), ada pula “Pareden anakan” (keturunan). Tetapi, “Pareden” sepasang yang diusung dengan “Ancak Tantaka” itu, bisa pula melambangkan “Lingga” (lelaki) dan “Yoni” (perempuan) . Tiap “Pareden” untuk “wilujengan nagari”, masing-masing butuh 40 orang untuk memikulnya. (Won Poerwono – bersambung/i1)
