Gunungan, Simbol Upacara Adat di Kraton Paling Populer, Sarana Doa dan Sarat Makna (seri 4 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 30, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Gunungan, Simbol Upacara Adat di Kraton Paling Populer, Sarana Doa dan Sarat Makna (seri 4 – bersambung)
TIDAK MAIN-MAIN : Menciptakan simbol ekspresi doa permohonan kepada Tuhan Maha Pencipta, bukan kegiatan main-main bagi Kraton Mataram Surakarta. Karena keperluan dan tujuan untuk "wilujengan nagari", agar makro dan mikrokosmos selamat dan lestari, maka peralatan dan proses pembuatannya serius dan baku. (foto : iMNews.id/Dok)

Eforia Kirab dan “Ngrayah Gunungan”, Hanya Memberi Kepuasan dan Kesenangan

IMNEWS.ID – PERUBAHAN paradigma di segala bidang termasuk terhadap Kraton Mataram Surakarta yang terus terjadi dari zaman ke zaman, semakin banyak yang tidak dipahami publik secara luas. Bersamaan dengan itu, lembaga komunikasi publik (public speaking) dan “lembaga kapujanggan” yang hilang atau lama tak berfungsi, semakin menjauhkan simbol-simbol nilai edukasi kehidupan yang dibutuhkan peradaban.

KP Budayaningrat selaku “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara yang juga pemerhati Budaya Jawa dari Kraton Mataram Surakarta, dengan tegas menyebut sejak Sinuhun PB IX kraton tidak lagi memiliki Pujangga (Jawa). Sinuhun PB X yang tampil menggantikan tahta, lalu disebut sebagai “Sinuhun ingkang Wicaksana” selain “Sinuhun ingkang Minulya”. Itu berarti, sifat-sifat Pujangga ada pada diri Raja yang kaya-raya itu.

Kraton yang sudah “kehilangan” Pujangga tetapi menyisakan sifat-sifat “Kapujanggan”, terjadi pada saat tatanan sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya berubah “revolusioner” akibat perang dunia (PD) I dan II. Di saat ini, menurut sejarawan Ketua Lokantara Pusat di Jogja, Ki Dr Purwadi, lahir faham-faham ideologi seperti komunias, sosialis, facis dan lainnya yang menandai perubahan tatanan dunia itu.

INDAH DAN MENARIK : Hajad-dalem “Gunungan” baik “kakung” maupun “pawestri” di Kraton Mataram Surakarta dalam tiga jenis ritual “Garebeg”, selalu tampak indah dan menarik ketika dilihat dari dekat atau via media. Nilai estetika, etika dan makna filosofi selalu melekat pada setiap karya budaya di kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Mencermati perubahan dunia yang terjadi dan berimbas pada perubahan paradigma tentang Kraton Mataram Surakarta, memang sudah wajar bila publik secara luas mulai dari rakyat jelata hingga para praktisi kekuasaan punya cara pandang yang tak “ramah” bagi kraton. Karena, sejak sebelum republik yang merupakan negara baru lahir hingga kini betrusia 80-an tahun, tak ada tokoh yang bisa melakukan komunikasi publik.

Selama itu, nyaris tidak ada nilai-nilai pencerahan dikomunikasikan secara baik dan terbuka kepada publik. Karena, kraton sudah tidak memiliki tokoh yang bisa memberi pencerahan dan bisa melakukan komunikasi kepada publik (public speaking). Nilai-nilai “kapujanggan”, kearifan lokal dan “piwulang kawruh” lihur menjadi “barang mati” tak berfungsi, karena tak ada yang bisa memfungsikan dengan baik.

Inilah yang mungkin menjadi alasan, mengapa eforia masyarakat di desa-desa melepas kepuasannya untuk tampil beramai-ramai dalam kirab dan mengarak sesuatu yang bisa dibag-bagi dengan cara dijarah secara bebas. Dengan motif alasan lain, penguasa sampai di tingkat desa juga berani mengeluarkan dana untuk membiayai kegiatan kirab dan mengarak sesuatu “mirip gunungan”, tanpa perlu mengerti landasan dasarnya.

MEMPERLIHATKAN ISI : Dua abdi-dalem Keparak Mandra Budaya yang bertugas sedang memperlihatkan isi “Ancak Tantaka” yang tertutup “Kampuh” di bawah “Gunungan”. Di situ ada makanan “Cara Bikan”, takir berisi nasi gurih dan lauknya selain aneka simbol2 bermakna filosofi yang menghias bagian luar “Gunungan” bulat itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kalau kekuasaan di tingkat desa “berani” mengeluarkan dana (Dana Desa dari APBN-Red) untuk membiayai kegiatan semacam itu, memang ada beberapa motif dan alasan yang tak mungkin diungkap ke publik, atau bahkan tidak mereka pahami. Karena, ada motif dari skenario besar kekuasaan yang memang tidak suka nama besar Mataram muncul, tetapi ada juga alasan lain agar dana anggaran bisa dikeluarkan dan “dibagi-bagi”.

Masih ada alasan lain mengapa lembaga kekuasaan di tingkat desa yang digunakan? Karena, lembaga di tingkat desa yang paling dekat dengan masyarakat, yang memiliki potensi aset yang menjadi alasan tema kegiatan. Melalui desa sebagai tangan panjang, skenario dari pusat kekuasaan bisa dilakukan. Dengan cara-cara ini desakralisasi, dekulturisasi dan delegitimasi terhadap kraton dan “budayanya” dilakukan.  

Dengan mencermati alur proses perubahan paradigma itu, menjadi jelas dan wajar kalau ada kumintas masyarakat di berbagai daerah termasuk di Jawa Timur, belakangan banyak “berekspresi”. Kirab budaya dengan tema “Sedekah Bumi” atau sejenisnya yang mengarak sejenis “gunungan” dan diduga dibiayai lembaga desa. Di antara sejenis “gunungan” yang diarak, penuh berisikan buah durian diikat bergelantungan.

JUGA MENARIK : Sejenis “gunungan” yang berisi aneka jenis buah dan sayuran yang dikreasi seperti seekor naga dfi sebuah perhelatan kirab haul, memang tampak indah dan memberi makna. Tetapi karya itu belum tentu berfilosofi. Yang jelas, semua isinya menjadi hiasan, tetapi sekaligus disuguhkan untuk dinikmati. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena disajikan sejenis “gunungan” yang di antaranya berisi buah durian, tentu animo berebut semakin besar. Karena, yang disajikan dan tujuan penyajian sejenis “gunungan” itu, diasumsikan sama dengan yang terjadi pada hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud, misalnya. Artinya, semua yang tampak pada upacara adat di Kraton Mataram Surakarta untuk menyambut hari lahir Nabi Muhammad SAW itu, ingin ditiru di desanya.

Persoalan “meneladani” memang selama ini berkonotasi positif dan baik. Apalagi, yang diteladani adalah perilaku budaya di kraton dalam bentuk upacara adat untuk menyambut hari besar keagamaan pada 12 Mulug/Maulud. Tetapi, cara-cara dan proses meneladani hal yang positif itu terjadi kesalahan pemahaman dan persepsi, akibat tidak ada tokoh yang bisa menjelaskan dan faktanya “kebetulan” berbicara lain.

Tak banyak yang bisa dijelaskan dan (nyaris) tak ada tokoh yang bisa menjelaskan, memang menjadi fakta kelemahan yang harus diakui telah berlangsung seperti dijelaskan di atas. Dan fakta yang “kebetulan” berbicara lain itu, adalah pemandangan suasana berebut, dengan ekspresi beringas menjarah hajad-dalam “Gunungan” untuk ritual Garebeg apa saja di kraton, telah dibiarkan terjadi selama ini tanpa solusi.

MAKANAN KEMASAN : Makna sebuah upacara adat dalam bentuk kirab mengarak wujud mirip “gunungan” di sebuah desa di wilayah Jateng utara, mungkin untuk membahagiakan kalangan warga usia anak-anak. Karena, rangkaian yang mengerucut ke atas itu kebanyakan berisi makanan kecil kemasan kesukaan anak-anak. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena terkesan “dibiarkan terjadi tanpa solusi” berulang-ulang sampai puluhan tahun, maka pemandangan itu dianggap sebagai hal yang benar. Cara-cara berebut dan menjarah itulah yang diasumsikan publik secara luas sebagai aktivitas yang benar untuk mendapatkan sesuatu dari “Gunungan” yang dibagi-bagikan. Maka, kalimat “sawise kadonganan, nuli kabage kang warata”, dimaknai dengan “dijarah” dan “direbut”.

Karena asumsi dasar publik sudah menjadi demikian dan diyakini sebagai sebuah kebenaran, maka praktik berebut isi sejenis “gunungan” pada ritual “tumpengan” Bersih Desa di berbagai desa di wilayah luas, hanya memberi kesenangan dan kepuasan sesaat. Tak peduli yang dijarah dan diperebutkan itu buah durian, bisa melukai semua yang “ngalab berkah” atau menjarah untuk mendapatkannya karena kulitnya tajam.

Sampai di sini, makna “sawise kadonganan, nuli kabage kang warata” sebenarnya sudah sangat jelas. Tetapi pesan bijak “tindhih utusan-dalem” sebelum doa dikumandangan di Masjid Agung, sudah tidak bisa dipahami publik di lapangan. Perubahan paradigma telah berpengaruh secara teknis dan non-teknis dalam upacara adat, sehingga pemandangannya hanya ekspresi berebut dan “ngrayah”, memaknai “ngalab berkah”. (Won Poerwono – bersambung/i1)