Masyarakat di Berbagai Daerah Lebih Suka Meniru Aksi Sensasi Atraktif “Ngalab Berkahnya”
IMNEWS.ID – WALAU “nagari” (monarki) Mataram Surakarta sudah meninggalkan salah satu fungsi dasarnya sejak tahun 1945 dan kini sudah 80 tahun berada di zaman perubahan begitu modern, tetapi masih ada beberapa fungsi lain yang lestari. Fungsi lain itu adalah kegiatan menjalankan adat dan tradisi, yang di dalamnya ada seni budaya yang mewarnai sebagai elemen esensi, kualitas, tujuan dan harapan.
Salah satu fungsi dasar yang “terpaksa” ditanggalkan itu adalah fungsi sebagai “negara” (monarki) yang menjadi salah satu kedaulatannya secara politik, administrasi dan kewilayahan. Karena, Sinuhun PB XII “harus mengeksekusi” yang dirintis dua leluhur pendahulunya, Sinuhun PB X dan PB XI. Walau kedaulatan sebagai “negara” sudah lepas, tetapi fungsi dan kedaulatan sebagai lembaga masyarakat adat tetap eksis.
Fungsi dan kedaulatan sebagai lembaga masyarakat adat di bidang seni, budaya, adat dan tradisi Kraton Mataram Surakarta, kini tetap eksis dan akan dijaga sampai akhir hayat (iMNews.id, 21/9). Dan fungsi serta “kedaulatan” di bidang kebudayaan (Budaya Jawa) itu, kini menjadi cirikhas dan simbol ikonik Mataram Surakarta tiada duanya, yang sekaligus menjadi bagian dari “wiradat” (iMNews.id, 25/9).

Berbagai upacara adat yang kini dijalankan Kraton Mataram Surakarta berurutan di bulan dalam kalender Jawa yang berurutan sepanjang tahun (Jawa) dan digelar rutin tiap tahun (Jawa, Islam, Masehi), salah satu faktornya adalah “keberhasilan” menjalankan berbagai bentuk “wiradat” itu. Terlebih, di dalamnya adan peran dan dorongan berbagai tokoh yang berhimpun dalam “Lembaga Kapujanggan”.
Karena “Lembaga Kapujanggan” tidak boleh berhenti setelah kraton “tidak bisa” melahirkan “Pujangga Baru”, maka fungsi dan kedaulatan lembaga masyarakat adat juga tidak berhenti atau dihapus oleh perubahan zaman. Justru sebaliknya, warga peradaban akan tetap membutuhkan fungsi dan kedaulatan lembaga masyarakat adat itu, karena bangsa yang meninggalkan budayanya akan mengalami “krisis identitas”.
Di zaman milenial yang semakin modern ini, memang bisa dimaklumi paradigma Kraton Mataram Surakarta sebagai lembaga masyarakat adat yang merawat Budaya Jawa sudah jauh berubah sikap, kerangka berpikir dan perilakunya. Di sinilah kraton harus bisa menunjukkan fungsi dan kedaulatannya di bidang budaya semaksimal mungkin, dengan cara yang mudah dipahami, dan mengedukasi cara-cara untuk memahaminya.

Ketika menganalisis pernyataan Dr Iskandar Yasin (Dekan FT UST Jogja) yang menyebut adanya sinyalemen bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami “krisis identitas” (iMNews.id, 25/9), jelas terkoneksi dengan kalimat terakhir di atas. Karena lembaga kraton mengalami krisis posisi kelembagaan sejak peristiwa 17 Agustus 1945, bisa dipahami telah terjadi krisis komunikasi publik akibat krisis tokoh Pujangga.
Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertiyah) selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa Lembaga Dewan Adat (LDA), bisa dipahami ketika lahir tak hnya untuk keperluan melanjutkan lembaga kepemimpinan di kraton, semata. Tetapi, ternyata melakukan tugas besar melanjutkan merawat peradaban yang dimulai dari menggerakkan secara rutin semua aktivitas fungsi dan kedaulatannya.
Menjalankan tugas besar rutin itu, adalah proses menjaga eksistensi puncak-puncak kebudayaan yang sudah terbentuk final, seperti yang tampak pada berbagai upacara adat aset kraton. Karena, puncak-puncak kebudayaan di berbagai jenis upacara adat yang begitu lengkap dan tuntas itu, punya berbagai dimensi makna yang tidak boleh berhenti dari tugas menjaga identitas bangsa, yang berarti merawat peradaban.

Dalam catatan iMNews.id, dari semua jenis upacara adat yang selama ini digelar Kraton Mataram Surakarta, ada jenis-jenis yang menjadi favorit dan populer di kalangan masyarakat luas. Tetapi sebaliknya, ada beberapa jenis upacara adat yang tidak populer, bahkan nyaris tak dikenal elemen tertentu masyarakat adatnya. Berbagai jenis upacara adat itu memang bukan pertunjukan untuk ditonton, tetapi itu edukasi.
Seperti halnya masyarakat Hindu di Provinsi Bali, mereka menjalankan upacara adat yang jumlahnya cukup banyak tiap tahun dan dilakukan secara masif, adalah sebuah kewajiban yang menjadi konsekuensi spiritual religinya. Tetapi, dari pemandangan yang secara terbuka bebas dilihat orang, ternyata mendatangkan animo masyarakat dari luar wilayah etniknya untuk menikmati keindahan pemandangan dalam kacamata turistik.
Mungkin karena kecederungan sifat-sifat turistik itu, masyarakat luas kini memandang segala jenis upacara adat yang digelar kraton menuju arah itu. Anggapan ini ada benarnya, karena patadigma kraton di abad modern milenial ini juga sedang berubah. Tetapi, di dalam gelombang sosial yang sudah berubah itu, di dalam masyarakat luas yang berduyun-duyun berwisata, ternyata masih ada yang “ngalab berkah”.

Sebagian masyarakat luas yang datang berkunjung dengan semangat “ngalab berkah” inilah, menjadi bukti bahwa ada hal yang beda secara prinsip antara wisatawan di Bali dengan pengunjung upacara adat Sekaten Garebeg Mulud. Hajad dalem Gunungan Sekaten Garebeg Mulud menjadi contoh pembanding, karena jenis upacara adat ini paling populer dan paling favorit bagi masyarakat luas, ada alasan “ngalab berkah”.
Semangat “ngalab berkah” hajad-dalem Gunungan inilah, yang perlu dipahami masyarakat adat Mataram Surakarta dan publik secara luas. Maka, ruang edukasi yang cukup dan terus-menerus harus selalu terwujud. Walau semua upacara adat yang digelar kraton bukan pertunjukan untuk tontonan publik, Tetapi, daya dukung legitimasi, sakralisasi, kulturisasi dan sebagainya, selamanya sangat dibutuhkan kraton.
Mungkin karena pemandangan yang atraktif dan eksotik semua tahapan tatacara upacara adat Garebeg Mulud bisa dilihat publik secara terbuka dan bebas, maka unsur-unsur yang bisa melibatkan massa dalam jumlah besar dan unsur sensasi yang melekat itu, ditiru masyarakat di berbagai lokasi di wilayah etnik Jawa. Maka tidak aneh, dalam satu dekade terakhir banyak daerah menggelar upacara adat kirab “gunungan”. (Won Poerwono – bersambung/i1)
