Lembaga Kapujanggan Kraton Mataram Surakarta Harus Tetap Eksis Sepanjang Zaman (seri 3 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 24, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Lembaga Kapujanggan Kraton Mataram Surakarta Harus Tetap Eksis Sepanjang Zaman (seri 3 – bersambung)
SIMBOL WIRADAT : Secara simbolik, donga panyuwunan agar Kraton Mataram Surakarta bisa eksis sepanjang zaman, salah satunya diwujudkan dengan bangunan "Tugu Tomasrwara". Simbol itu seiring dengan kebutuhan "Lembaga Kapujanggan" yang harus tetap ada dan terjaga eksistensinya sepanjang zaman. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seiring “Wiradat” yang Diperjuangkan Gusti Moeng Bersama Masyarakat Adatnya  

IMNEWS.ID – PADA masa Sinuhun PB X jumeneng nata (1893-1939) sebagai “Raja ke-8” Kraton Mataram (Islam) Surakarta atau “Raja ke-17” Kraton Mataram Islam yang dirintis Sinuhun Panembahan Senapati, merupakan puncak supremasi hampir di segala bidang kehidupan “bernegara” dan “berbangsa” dalam lingkup monarki. bahkan mungkin masih bisa dipersempit untuk ukuran wilayah Asia Tenggara atau Asia Timur Jauh.

Dalam puncak supremasi hampir di segala bidang itu, terkesan sisi plus atau bahkan surplus lebih mendominasi anggapan atau opini publik tentang Mataram Surakarta, saat itu. Karena, hanya tokoh raja itu yang mendapat sebutan “Sinuhun ingkang Minulya” selain predikat “Sinuhun ingkang Wicaksana”. Namun, dalam kehidupan di bidang apapun tak ada yang sempurna 100%, karena sisi minus atau negatif pasti ada.

Hal yang negatif atau sebagai kekurangan untuk tokoh sebesar Sinuhun PB X, mungkin tidak berarti dibanding hal positif dan kelebihannya, bukan hany bagi masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, tetapi bagi publik secara luas sampai level dunia. Kehadiran hal negatif atau kekurangan sekecil apapun, justru menjadi penyeimbang atau faktur terjadinya equilibrium yang melahirkan idealistik dalam kehidupan.

WUJUD LAIN : Kegiatan pentas tari pada “event “Sekaten Art Festival 2025” yang berbareng dengan ritual sekaten Garebeg Mulud, adalah wujud lain dari simbol “wiradat” yang dilakukan Guasti Moeng untuk menjaga kelangsungan Kraton Mataram Surakarta, agar eksis sampai akhir zaman. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Oleh sebab itu, analisis sejarawan Ki Dr Purwadi dari berbagai data sejarah tentang Sinuhun PB X, juga sangat bermanfaat bagi publik secara luas, khususnya masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. Analisis atas “sabda-dalem” Sinuhun PB X menjelang akhir tahtanya, bahwa dirinya adalah Raja “terakhir” bila merujuk pada prediksi usia “nagari” Mataram Surakarta di Desa Sala hanya 200 tahun, sangat fenomenal.

Walau Sinuhun PB X melengkapi “sabda-dalem” dengan kata-kata yang kurang lebih berbunyi setelah dirinya “sudah tidak ada lagi” Raja di Kraton Mataram Surakarta, tetapi faktanya berbicara lain. Karena, Sinuhun PB X lalu menggelar “donga wilujengan” skala besar di “Tratag Rambat” yang kemudian dinamakan Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Dan simbol permohonan doa itu, berupa prasasti mirip menara setinggi 4 meter.

“Donga wilujengan” untuk “nyenyuwun” agar Kraton Mataram Surakarta diberi umur lebih panjang dari 200 tahun (kalender Jawa) yang diprediksi “Lembaga Kapujanggan” pendamping Sinuhun PB II, waktu itu, dalam terminologi Jawa disebut “wiradat”. Upaya secara spiritual religi kebatinan atau “wiradat” itu, diwujudkan dalam prasasti yang ada di depan Pendapa Pagelaran mirip menara yang diberi nama “Tomaswara”.

AKTIVITAS BERKUNJUNG : Gusti Moeng dalam dua dekade terakhir banyak berkunjung ke berbagai sebagai bentuk “wiradat”, karena sangat sadar paradigma kraton sudah berubah. Dia juga peduli pada eksistensi kraton agar eksis sampai akhir zaman, yang butuh daya dukung masyarakat adat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sabda-dalem Sinuhun PB X tentang usia kraton yang merujuk pada rekomendasi tim “Lembaga Kapujanggan” Sinuhun PB II (1727-1749) itu, diprediksi berusia 200 tahun (Jawa). Usia calon Ibu Kota baru “nagari” Mataram di Desa Sala itu, diprediksi paling baik dari berbagai pertimbangan (usia), antara Talawangi, kini kawasan Kampung Panularan dan Sanasewu, kini kawasan Desa Mojolaban, di timur Bengawan Solo.

Usia 200 tahun yang disebut tim “Lembaga Kapujanggan” Sinuhun PB II, dihitung dari pindahnya Ibu Kota “nagari” Mataram Islam dari Kartasura ke Surakarta mulai 17 Sura Tahun Je 1670 atau 20 Februari 1745. Karena, pada tanggal 20 Februari 1745 harinya Rabu Pahing itu, nama Desa Sala dinyatakan “dihapus” dan dideklarasikan nama Surakarta Hadiningrat sebagai penggantinya sekaligus nama Ibu Kota baru.

Bila dianalisis lebih jauh, atas dasar prediksi usia “nagari” (monarki) Mataram Islam Surakarta yang hanya 200 tahun itu, sangat mungkin berkaitan dengan “sabda-dalem” Sinuhun PB X yang kurang lebih berbunyi “sakpungkurku arep ana kedadean apa?”. Karena, bukan tidak mungkin, Raja yang mendapat sebutan “Sinuhun ingkang Wicaksana”, mendapat “isyarat” tentang berbagai hal yang akan terjadi jauh ke depan.

POTENSI AKADEMISI : Kalangan tokoh akademisi dari UNS seperti yang sedang bersama KPH Edy Wirabhumi ini sebenarnya sangat layak menjadi potensi penguat “Lembaga Kapujanggan” kraton. Tetapi gelagatnya, realitas nyata hingga kini memang belum seindah yang diharapkan kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan analisis seperti itu, menjadi sangat rasional sebelum ajal tiba di tahun 1939, Sinuhun PB X mengeluarkan “sabda-dalem” seperti di atas. “Sabda-dalem” itu juga bisa setelah dirinya “jumeneng nata”, diperkirakan akan terjadi perubahan besar dalam tatanan masyarakat dunia. Termasuk, terbentuknya sebuah wadah bagi seluruh bangsa di Nusantara, dan Mataram Surakarta yang “berperan aktif di dalamnya”.

Oleh sebab itu, “peran aktif” Mataram Surakarta di dalam “wadah” baru yang diperkirakan akan terbentuk, dibarengi sebuah upaya yang disebut “wiradat”. Walau sudah menempuh berbagai upaya demi kelangsungan Mataram Surakarta, tetapi Sang Khalik berkehendak lain. Sinuhun PB X wafat di tahun 1939 dan putra mahkotanya tampil sebagai pengganti bergelar Sinuhun (SISKS) PB XI, yang meresmikan ritual “wiradat” itu.

Donga wilujengan yang yang digelar saat peresmian simbol “wiradat” berupa prasasti itu, yang memohon agar “nagari” Mataram Islam Surakarta bisa berumur panjang, bahkan sampai berakhirnya zaman. Dan doa melalui “wiradat” itu benar-benar diwujudkan, dan prasati “Tomaswara” diresmikan Sinuhun PB XI (1939-1945). Karena ayahandanya wafat sebelum “wadah” baru terwujud, Sinuhun PB XII terpaksa menggantikan.

SEGALA KETERBATASAN : Kraton Mataram Surakarta yang baru bangkit dari “ontran-ontran” jilid kesekian periode 2017-2022, memang berat karena penuh keterbatasan. Tetapi, “Lembaga Kapujanggan” yang dijaga KP Budayaningrat dan organ-organ lain yang menandakan kehidupan di kraton, tidak boleh berhenti. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Sabda-dalem secara tersurat memang bunyinya seperti itu. Tetapi, kita harus paham bahwa ada hal-hal sinandi yang berada di balik sabda-dalem itu. Kita harus bisa mengupas dan menganalisis dengan bijaksana. Karena, sabda-dalem itu adalah produk kawicaksanan seorang Raja yang merangkap sebagai Pujangga atau Lembaga Kapujanggan. Karena, sejak Sinuhun PB IX kraton sudah tidak punya Pujangga”.

“Maka betul. Kraton harus tetap punya ‘Lembaga Kapujanggan’ sampai akhir zaman. Karena, kraton masih dibutuhkan untuk merawat peradaban. Dan, wiradat itu adalah sabda Ratu yang benar-benar memiliki nilai kapujanggan. Tidak terang-terangan menunjuk pada suatu maksud, tetapi penuh makna. Bukan asal bicara. Dan, wiradat itu, harus terus dilakukan demi kelangsungan kehidupan,” tunjuk KP Budayaningrat.

Mencermati penjelasan KP Budayaningrat sebagai salah seorang tokoh yang sangat layak menjadi bagian “Lembaga Kapujanggan” kraton, memang benar adanya dari esensi yang ditandaskan. Ini jelas seiring dengan harapan Ki Dr Purwadi, sejarawan Ketua Lokantara Pusat di Jogja. Sementara, “wiradat” untuk kelangsungan kraton perlu terus dilakukan, seperti berbagai upaya yang selama ini diperjuangkan Gusti Moeng. (Won Poerwono – bersambung/i)