Bebadan Kabinet 2004 Tetap Waspada Atas Upaya “Pihak Seberang” Memancing Keributan

  • Post author:
  • Post published:August 26, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Bebadan Kabinet 2004 Tetap Waspada Atas Upaya “Pihak Seberang” Memancing Keributan
IKUT MENJAMAS : KRT Rawang Gumilar Lebdodipuro mendapat tugas menjamas gong gamelan pusaka di gedhong Langen Katong, Senin siang (25/8). Instrumen itu akan dikeluarkan bersama semua gamelan Sekaten ke Masjid Agung, Jumat pagi (29/8), untuk ditabuh memulai ritual Sekaten 2025, setelah waktu Dhuhur. (foto : iMNews.id/Dok)

Gamelan Sekaten Disiapkan di Masjid Agung, Usai “Jumatan”, 29 Agustus, “Ditabuh”

SURAKARTA, iMNews.id -Sepasang gamelan pusaka Kraton Mataram Surakarta, Kiai Guntur Sari (Pelog) dan Kiai Guntur Madu (Slendro) akan dikeluarkan dari gedhong Langen Katong, untuk dibawa ke Bangsal Pagongan (Pradangga) Lor (utara) dan Kidul (selatan), halaman Masjid Agung, Jumat pagi (29/8). Setelah sholat Dhuhur, ada upacara “ungeling gangsa” atau gamelan ditabuh sebagai tanda ritual Sekaten dimulai.  

“Dari rapat terakhir, belum lama ini, Bebadan Kabinet 2004 yang akan menjalankan seluruh rangkaian upacara adat Sekaten. Tetapi, kami semua diingatkan untuk selalu waspada penuh. Jangan sampai terpancing oleh niat dari ‘sana’ (seberang-Red), yang memang ingin terjadi keributan lalu reaksi kami dijadikan alasan untuk memperkarakan. Pengalaman pada Garebeg Mulud tahun 2024, seperti itu kronologinya”.

“Maka, pada Sekaten Garebeg Mulud tahun 2025 ini, kamu akan waspada penuh. Tetapi mudah-mudahan niat-niat yang kurang baik sudah tidak ada lagi. Kami ingin menghindari potensi-potensi yang membuat citra kraton kurang baik. Kami hanya ingin menjalankan upacara adat ini dengan niatan yang baik. Kami akan bekerjasama dengan pihak aparat keamanan sebagai langkah antisipasi,” ujar KPP Haryo Sinawung.

KPP Haryo Sinawung Waluyo Putra (Wakil Pengageng Karti Praja) selaku panitia penyelenggara Sekaten Garebeg Mulud 2025 yang dimintai konfirmasi iMNews.id siang tadi, menandaskan bahwa kini memang sudah ada keputusan hukum final dan mengikat. Walau putusan Mahkamah Agung (MA) sudah dieksekusi Pengadilan Negeri (PN) Surakarta pada 8 Agustus 2024, faktanya Sekaten 2024 masih ada upaya “mengacau”.

DONGA WILUJENGAN : Donga wilujengan digelar di gedhong Langen Katong, Senin pagi (25/8), sebagai awal dimulainya tatacara ritual jamasan gamelan Sekaten. Jamasan untuk rangkaian gamelan Sekaten yang tersimpan di Bangsal Bale Bang, digelar Selasa Kliwon (26/8) hari ini, dari pagi hingga siang. (foto : iMNews.id/Dok)

Karena fakta keributan yang didahului oleh “pihak seberang” itu, Bebadan Kabinet 2004 justru menjadi “pihak yang disalahkan”, karena publik secara luas dan “aparat” lebih meyakini “hasil pelintiran” sebagian media yang meliput ritual itu. KPP Haryo Sinawung menyatakan, Bebadan Kabinet 2004 sangat menyayangkan cara-cara tidak jujur seperti itu, yang dianggap punya tendensi “mengadu-domba”.

Berlandaskan fakta posisi hukum Lembaga Dewan Adat (LDA) yang sejak 8 Agustus 2024 memiliki otoritas penuh dalam perlindungan dan pengelolaan Kraton Mataram Surakarta, ritual Sekaten Garebeg Mulud 2025 akan dijalankan sepenuhnya sesuai nilai-nilai paugeran adat yang tepat dan ideal. Panitia berkoordinasi dengan berbagai pihak aparat keamanan, untuk menjaga ritual berjalan khidmat, lancar dan aman.

“Jadi, nanti KPH Bimo Djoyo Adilogo mendapat tugas untuk ‘paring dhawuh’ kepada petugas di Bangsal Pradangga. Petugas itu adalah saya, agar ‘paring dawuh’ kepada abdi-dalem tihidih gangsa Sekaten. Ujub dhawuhnya, agar memulai nabuh gamelan atau ‘ngungelaken gangsa hamiwiti Sekaten 2025’. Tetapi, mudah-mudahan tugas yang saya emban nanti tidak dikacau seperti tahun 2024,” pinta KPP Harya Sinawung.

Di bagian lain, sentana trah darah-dalem Sinuhun PB IX ini juga menjelaskan bahwa untuk pelaksanaan ritual “adang sega” menggunakan “dandang” pusaka Kiai Dhudha di Tahun Dal 1959 ini, diharapkan juga berjalan lancar, khidmat dan aman. Karena, masih ada “campur-tangan” pihak “seberang” yang terkesan mengkacaukan tahapan proses ritualnya, sehingga memaksa Gusti Moeng harus “turun tangan”.

TOKOH HEROIK : KPP Haryo Sinawung adalah satu sentana yang paling muda usianya. Dia menjadi tokoh dalam aksi heroik saat mengambil-alih pemberian “dhawuh” kali pertama gamelan ditabuh di Bangsal Pradangga, pada event Sekaten Garebeg Mulud 2024. Di Sekaten 2025 ini, dia akan kembali mendapat tugas penting itu. (foto : iMNews.id/Dok)

“Setiap kami mengutus petugas untuk ‘munjuk atur’ sekaligus menanyakan persiapan menjalankan upacaranya, selalu dijawab tidak ada rapat. Siapa yang bisa diajak kerjasama, selalu dijawab tidak ada. Padahal, Bebadan Kabinet 2004 ingin berkoordinasi, sebisa mungkin menjalankan bersama. Tetapi, harus sesuai dengan paugeran adat yang benar dan tepat. Karena, faktanya ada beberapa hal yang menyimpang”.

“Diam-diam langsung ke sana-ke mari mencari tanah dan air, padahal, belum mengadakan donga wilujengan. Karena tidak memberi informasi apapun, Bebadan Kabinet 2004 mengagendakan wilujengan, sebelum mencari air, tanah dan kayu bakar. Saat ‘keren’ lebih awal dibuat dengan diam-diam pula, akhirnya ketahuan karena salah bentuk dan ukuran. Gusti Moeng terpaksa memulai dari awal,” tambahnya.

Sementara itu, secara singkat Gusti Moeng juga sempat mengabarkan kepada iMNews.id, bahwa pembuatan ‘keren’ atau tungku untuk upacara adat “adang sega” menggunakan “dandang” pusaka Kiai Dhudha, harus dimulai lagi dari awal. Baik setting bentuk maupun ukuran “keren” berlubang 4 di “Pawon Gandarasan” itu, disesuaikan dengan yang dibuat pada ritual “adang” Tahun Dal 1943 atau di tahun 2009 lalu.

Ritual “adang” yang mewarisi tradisi Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, jelas meneladani ritual awal mula yang dilakukan Ki Ageng Tarub saat menggelar ritual “mantu” putrinya bernama Dewi Nawangsih. Ritual adang “sepisanan” dalam rangkaian hajadan itu, biasanya dibarengi tatacara menaikkan “bleketepe”. Dari Babad Ila-ila Ki Ageng Sela, tradisi itu telah melahirkan piwulang “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero”.  

DARI AWAL : “Keren” (tungku) untuk ritual “adang sega” Tahun Dal 1959 awal September nanti, tampak sedang dikerjakan di Pawon Gandarasan dan sudah sesuai dengan desain tahun 2009. Gusti Moeng minta proses pembuatannya dimulai dari awal, setelah mengetahui ada kesalahan bentuk dan ukuran. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ritual “adang” yang akan digelar awal September, biasanya dekat dengan pelaksanaan ritual hajad-dalem  Sekaten Garebeg Mulud. Tetapi upacara adat versi Kraton Mataram Surakarta untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, di tahun 2025 sudah diawali dengan pembukaan pasar malam atau “Maleman Sekaten”, awal Agustus lalu. Senin (25/8) kemarin, rangkaian ritual itu berupa tatacara jamasan gamelan Sekaten.

Abdi-dalem Keparak Mandra Budaya, KRT Rawang Gumilar Lebdodipuro di tempat terpisah kemarin menyebutkan, jamasan gamelan Sekaten dimulai dari yang tersimpan di gedhong Langen Katong, di sisi barat kamar Nyonyah. Ritual jamasan yang dipimpin KP Saptonodiningrat selaku tindhih ritual jamasan, berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga selesai, siang kemarin. Jamasan berikutnya, berlangsung Bale Bang.

Jamasan di Bale Bang yang juga dipimpin KP Saptonodiningrat, mulai pagi hingga siang, Selasa (26/8) hari ini, terutama untuk “memandikan” gong pusaka “Kiai Surak” peninggalan Sultan Agung, karena Kraton Mataram Surakarta menjadi penerus Mataram Islam Sultan Agung. Setelah “dijamasi”, tinggal prosesi membawa seluruh komponen sepasang gamelan dan uba-rampenya ke Masjid Agung, Jumat pagi (29/8).

Prosesi membawa seluruh komponen dari dua “pangkon” gamelan pusaka itu, dilakukan secara manual dengan dipikul bergotong-royong oleh para abdi-dalem Keparak Mandra Budaya”, dari dua tempat penyimpanan itu. Jumat pagi sebelum pukul 09.00 WIB, seperangkat gamelan Kiai Guntur Sari harus sudah terpasang di Bangsal Pradangga Kidul, dan Kiai Guntur Madu di Bangsal Pradangga Lor halaman Masjid Agung.

NGISIS RINGGIT : Kraton Mataram Surakarta selama sehari dari pagi hingga sore, Selasa Kliwon (26/8) tadi menggelar dua upacara adat sekaligus. Yang pertama digelar ritual “ngisis ringgit” wayang KK Kadung di gedhong Sasana Handrawina. Siangnya, dilanjutkan gladen Bedhaya Ketawang di Pendapa Sasana Sewaka. (foto : iMNews.id/Dok)

Sementara itu, di luar tahapan tatacara persiapan ritual hajad-dalem “Sekaten Garebeg Mulud 2025”, Bebadan Kabinet 2004 menggelar ritual “ngisis ringgit” weton Anggara Kasih di gedhong Sasana Handrawina, Selasa Kliwon (26/8). Sekotak wayang Kanjeng Kyai Kadung, pusaka wayang level tertinggi milik kraton itu, dikeluarkan untuk mendapatkan udara segar sebagai bentuk perawatan dalam sebuah upacara adat.

Sekotak wayang pusaka berisi 300-an anak wayang berukuran di atas standar rata-rata itu, dikeluarkan dari kantor Sasana Wilapa untuk kali kedua-ketiga, sejak tahun 2023. Gusti Moeng memimpin ritual dan ikut membersihkan anak wayang dengan kuas, sementara dalang “semi-pro” Ki Dr Poerwadi juga sowan, menyaksikan Ki KRT Suluh Juniarsah (tindhih ngisis ringgit) dan para abdi-dalem “merawat” wayang pusaka. (won-i1)