Ikut Caos Tahlil di Makam Ki Ageng Henis
SURAKARTA, iMNews.id – Semangat KRAT Hendri Rosyad Reksodiningrat bisa diteladani warga Muhammadiyah secara luas, karena ikut mewujudkan kegiatan masyarakat adat Jawa dalam kegiatan spiritual religi “caos bhekti tahlil” di makam Ki Ageng Henis yang ada di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, pagi tadi mulai pukul 08.00 WIB. Doa, tahlil dan dzikir dalam tema “Caos Bhekti Tahlil” yang digelar Kraton Mataram Surakarta di makam leluhur Dinasti Mataram itu, merupakan tradisi masyarakat adat ketika memasuki bulan Ruwah, yang juga dilakukan kalangan masyarakat etnik Jawa secara umum dengan sebutan “Nyadran”, Ruwahan dan sebagainya.
“Saya dari keluarga besar Muhammadiyah. Ayah saya dulu pernah jadi pengurus Muhammadiyah cabang Surakarta. tetapi, saya lahir sebagai orang Jawa, dari keluarga besar orang Jawa. Bahkan kakek buyut saya, abdidalem kraton yang bertugas di Masjid Kepatihan. Saya ingin membuktikan, bahwa sebagai salah satu warga Muhammadiyah, tetap cinta dengan budaya Jawa. Cinta dengan kraton sebagai sumber budaya Jawa. Maka, saya ikut berdoa bersama-sama para kerabat dari kraton, dalam Caos Bhekti Tahlil di masjid Laweyan, kompleks makam Ki Ageng Henis, pagi tadi,” jelas KRAT Hendri ketika ditanya iMNews.id, seusai berdoa di pusara Ki Ageng Henis, pagi tadi.

Salah satu warga Muhammadiyah di Surakarta ini, mengaku ikut “suwita” di kraton sudah sejak 20-an tahun lalu. Di setiap ada kegiatan upacara adat yang digelar kraton, dirinya selalu hadir, apalagi ketika Gusti Moeng dan para pengikutnya berada di luar keraton sejak 2017. Diakui, dirinya tidak pernah absen dari berbagai kegiatan adat yang diinisiasi Gusti Moeng selaku ketua Lembaga Dewan Adat (LDA). Sebagai ungkapan kegembiraannya atas kembalinya Gusti Moeng bisa “bekerja” di dalam kraton, dirinya ikut bergabung dalam kegiatan “Caos Bhekti Tahlil” untuk mengawali bulan kegiatan “nyadran” di bulan Ruwah Tahun Ehe 1956 atau Sya’ban Tahun 1444 H ini.
“Sejak dulu bergabung di kraton, saya tidak pernah ragu-ragu. Karena saya meneladani kakek buyut saya yang abdidalem pengurus Masjid Kepatihan di zaman Sinuhun PB X (1893-1939). Aapalagi setelah membaca berita di iMNews.id, yang memberitakan kunjungan PW Muhammadiyah Jateng di kraton saat menggelar upacara adat Garebeg Mulud, tahun 2022 lalu. menurut KRAT KH Dr Tafsir, Muhammadiyah tidak boleh meninggalkan kraton. Karena pendiri Muhammadiyah (KH Dahlan) berasal dari kraton. Itu yang semakin menguatkan hati saya untuk mengabdikan diri di kraton untuk ikut melestarikan budaya Jawa,” tandas KRAT Hendri yang bersiap pulang, yang karena kondisi fisiknya, tidak mengikuti rombongan Gusti Moeng meneruskan perjalanan berziarah ke Boyolali. (won-i1)