Si Dalang Oye Ki Manteb Soedarsono Meninggal Dunia Pagi Tadi

  • Post author:
  • Post published:July 2, 2021
  • Post category:Regional
  • Reading time:7 mins read

Dikabarkan Sedang Menjalani Isolasi Mandiri

KARANGANYAR, iMNews.id – Dalang senior yang masih berada di papan atas sampai era reformasi, Ki Manteb Soedarsono, tadi pagi sekitar pukul 10.00 WIB meninggal dunia dalam menjalani isolasi mandiri di kompleks kediamannya di Desa Doplang, Sekiteran, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar. Dalang wayang kulit purwa klasik yang memiliki cirikhas di bidang olah sabet itu, meninggal di usia 73 tahun dan disebutkan kalangan keluarga siang ini langsung dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid 19.

Terlepas dari persoalan dinyatakan positif dan harus menjalani isolasi mandiri di rumahnya, almarhum dalang terkenal dengan sebutan ”Si Dalang Oye” itu, selain karena usianya sudah mencapai 73 tahun, juga menderita gangguan paru-paru dalam beberapa tahun terakhir yang membuatnya sering cek kesehatan. Meski sudah pernah dirawat di rumah sakit karena alasan kelelahan sebelum Indonesia dilanda pandemi mulai 2020 lalu, namun almarhum masih sering terlihat mengonsumsi rokok.

”Soal bapak tasih sering ngrokok, enggih. Ning yen bapak seda amargi diisolasi positif Covid 19, kula dereng ngertos,” ujar seorang anak buah almarhum dari kru karawitan yang akrab disapa dengan nama samaran ”Thuling”, menjawab pertanyaan iMNews.id, tadi siang.

WORKSHOP WAYANG : Memiliki komunitas yang bernama Paguyuban Pecinta Manteb Soedarsono (PMS) yang sering datang berombongan ke rumah, secara tidak langsung menjadi ajang workshop tentang seni wayang dan pakeliran seperti yang dilakukan sekitar bulan Mei tahun 2020. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pelestari Seni Pakeliran Klasik

Hingga kini, iMNews.id belum mendapat kabar lebih lanjut almarhum dimakamkan di tempat pemakaman khusus akibat Covid 19 atau di makam keluarga. Begitu pula informasi tentang adanya upacara pemberangkatan jenazah di kediamannya atau tidak.

Sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang juga mengenal dekat almarhum, GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng menyatakan ikut sedih karena kehilangan seorang seniman besar. Atas pribadi dan mewakili lembaga serta masyarakat adat, Gusti Moeng menyampaikan ucapan duka cita kepad keluarga yang ditinggalkan.

”Saya tidak bergaul akrab dengan almarhum, tetapi hanya mengenal cekat. Yang saya tahu, mas Manteb adalah dalang yang masih mau melestarikan gaya pakeliran klasik. Bahkan memiliki ketrampilan yang membuat masyarakat luas tertarik dan mau mencintai wayang kulit purwa, yang segala sumber referensinya banyak berasal dari Keraton Mataram Surakarta. Karena dulu, yang namanya dalang wayang kulit itu abdidalem keraton. Bersama mas Anom (Anom Suroto-Red), Sinuhun PB XII memberikan penghargaan berupa gelar kepada tokoh-tokoh seniman pelestari wayang seperti mas Manteb. Selamat jalan mas Manteb,” ungkap singkat Gusti Moeng ketika iMNews.id meminta kesan dan komentarnya terhadap sosok almarhum, di tempat terpisah, pagi tadi.

PASANGAN MAESTRO : Ki Anom Auroto dan Ki Manteb Soedasrono (alm), merupakan pasangan dalang klasik level maestro. Kehebatan keduanya menjadi kiblat sekaligus panutan generasi dalang sesudahnya, karena keakrabannya dalam persaudaraan seperti saat hadir di tengah pentas wayang Muludan di Alun-alun Kidul, jauh sebelum 2017.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sebesar Ki Anom Suroto

Dalam catatan iMNews.id yang pernah menjadi salah seorang penulis buku biografinya berjudul ”Profil Pekeliran Ki Manteb Soedharsono; Menjadikan Wayang Enak Dipandang” (Yayasan Dwara Budaya-2000), meninggalnya almarhum telah mengurangi satu di antara sepasang dalang hebat yang membahana namanya mulai zaman Orde Baru hingga kini. Almarhum yang mendapat julukan ”Dalang Setan” sebagai judul buku biografinya yang lebih dulu muncul, sebagai dalang klasik dikenal memiliki cirikhas dalam olah sabet anak wayang yang dipersepsikan menjadi lengkap memenuhi segala unsur seni pertunjukan ketika disandingkan dengan pasangan segenerasi, yaitu Ki Anom Suroto (73) yang kini tinggal di kampung Kerten, Laweyan.

Di zaman Orde Baru hingga awal Orde Reformasi, Ki Manteb Soedarsono selalu diidentikkan dengan kekayaan gerak seperti gerakan manusia pada umumnya, terutama saat memperlihatkan gerakan bela-diri dalam suasana peperangan, hingga anak tertua dalang terkenal Ki Hardjo Brahim Hardjo Wijono di zaman Orde Lama hingga awal Orde Baru itu disebut ”Dalang Setan”. Tak hanya olah gerak ”sabet” yang dipersepsikan mirip kelebat gerak setan, dalang yang memiliki gelar KRT Wignyo Manteb Soedarsono dari Keraton Mataram Surakarta sekaligus dari Pura Mangkunegaran itu, juga sangat hebat dalam menyusun ”sanggit” lakon dan karawitan iringannya.

Sementara, nama besar segenerasinya yang dipersepsikan menjadi pasangan serasinya, yaitu Ki Anom Suroto yang kini masih aktif menjalankan profesinya walau juga sering terganggu kesehatannya, memiliki jenis dan kualitas suara di atas rata-rata ketika    
melakukan ”antawecanan” (dialog), apalagi ”suluk” dan ”janturan”. Dalang yang juga mendapat gelar dari Keraton Mataram Surakarta KRAT Lebdonagoro pada waktu yang sama dengan almarhum itu, dipersepsikan publik sebagai sepasang dalang hebat yang memiliki kemampuan sampai pada puncaknya, hingga dijadikan patron generasi dalang sesudahnya serta publik secara luas.

BERSAMA WARTAWAN : Ki Manteb Soedarsono adalah sosok dalang yang paling akrab dengan para wartawan, termasuk para penulis bukunya seperti Wijayadi (Media Indonesia) ketika berkunjung ke rumahnya dan bersendau-gurau membahas apapun sambil ”guyon” kira-kira September 2020.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Banyak Prestasi dan Penghargaan

Ki Manteb Soedarsono, meninggalkan sejumlah anak hasil perkawinannya dengan beberapa istri yang dinikahi secara sah. Dari sejumlah anak itu, lahir sejumlah cucu, dan Ki Medhot Samiyono serta Ki Putut, adalah dua di antara keturunannya yang kini menjadi dalang profesional yag sedang energik dan produktif karena masih di usia 30-40-an. Nyi Suwarti, adalah istri terakhir yang ditinggal dan tidak memberinya keturunan.

Meski zaman sudah berubah dan nyaris menggilas supremasi seni pertunjukan wayang kulit klasik yang menjadi profesi Ki Manteb, tetapi dari sisi jumlah ”tanggapan” atau undangan pentas yang diterima almarhum masih tergolong banyak. Hanya karena dunia sedang dilanda ”pageblug mayangkara” seperti ungkapannya kepada penulis medio 2020 lalu, ruang gerak dan sepak terjang kalangan seniman dalang dan berbagai jenis seni lain menjadi sangat terbatas dan itu berarti jumlah ”tanggapan’ juga menurun tajam.

”Yen ndisik aku mung krungu critane simbah-simbah, saiki aku ngalami dewe, ngrasakne dewe. Kaya ngene iki ta sing jenenge pageblug. Ya iki sing diarani pageblug mayangkara. Nganti isa gawe susah kabeh wong urip. Akeh wong mati. Wong Jawa diwenehi cara kanggo ngusadani kahanan kaya ngene iki. Ning sing genah, awake dewe lagi diuji, kon sabar,” papar Ki Manteb dalam beberapa kali ngobrol dengan iMNews.id di sela-sela menggelar pentas wayang ”climen” dan ”weton” Selasa Legi di kediamannya, antara Mei hingga Agustus 2020.

Dalang dengan segudang prestasi dan penghargaan, di antaranya yang mewakili insan pedalangan di Unesco 2004 dan Nikkei Asia Prize Award 2010 itu, kini sudah tiada. Jasa-jasanya kepada bangsa dan negara dalam seni budaya khususnya seni pakeliran, patut dihargai, setara jasa yang diberikan dalang terkenal di masa lalu, Ki Narto Sabdo, walau besar di zaman yang berbeda. (won)