iMNews.id – MESKI pandemi Corona baru ditetapkan pemerintah sebagai bencana kesehatan se-Nusantara sejak Maret 2020, tetapi bagi wanita pelukis wayang beber Hermin Istiariningsih (70), nasibnya sebagai seorang seniman besar sudah tak terurus jauh sebelumnya. Dan “pageblug mayangkara” Covid 19 yang masih melanda secara nasional hingga kini, justru menambah berat beban hidupnya, ibarat petinju yang sudah tidak bisa mengelak dari berbagai jenis pukulan dari lawannya.
”Leres niku nak. Kados petinju sing sampun saget napa-napa. Mboten saget ngendhani jenis-jenis pukulan napa mawon. Nggih namung glayaran, mboten saget nangkis, mboten saget endha. Terus ambruk, njebabah ngoten mawon,” ujar Soetrisna (83), melukiskan penderitaan sang istri (Hermin Istiariningsih), dan tentu saja sama dengan penderitaan dirinya, saat dikunungi iMNews.Id, kemarin.
Kehidupan sepasang seniman lukis itu, memang kurang-lebih juga dirasakan masyarakat kelas menengah ke bawah atau rakyat jelata kebanyakan, terlebih sejak dilanda pageblug mayangkara pandemi Corona hingga kini. Masih beruntung bagi warga kebanyakan, yang sempat mendapatkan berbagai bantuan dari pemerintah, tetapi tidak demikian beruntung bagi mbah Tris, panggilan akrab Soetrisna dan mbah Ning, panggilan akrab Hermin Istiariningsih.
Karena, bantuan yang sesekali sampai ke tangannya berupa paket sembako, sudah tidak mungkin bisa dikonsumsi, khususnya bagi mbah Ning yang mengidap diabetes dan hipertensi sejak lima tahun silam. Artinya, untuk bisa makan tiga kali sehari, sepasang pelukis itu benar-benar hanya mengandalkan sisa-sisa tabungan dan belas kasihan pihak-pihak tertentu yang bersedia membeli karya lukisan wayang beber.
Mbah Tris, dulunya adalah pelukis yang beraliran realis dan naturalis, tetapi ketika menginjak usia 70-an, sudah nyaris tidak bisa berkarya karena kondisi fisik sudah jauh menurun, ditambah tingkat konsentrasi yang sangat labil. Sisa-sisa kekuatan fisiknya, hanya bisa digunakan untuk membantu mbah Ning, yang produk seninya sangat spesifik, yaitu berupa karya lukis atau sungging wayang beber.
Karena realitasnya, produktivitas mbah Tris nyaris tidak ada, tetapi justru produktivitas mbah Ning cukup tinggi dan nilai ekonomisnya jauh lebih tinggi karena spesifik, kehidupan sepasang kakek-nenek itu justru banyak didapat dari penjualan karya wayang beber. Penopang kebutuhan ekonomi rumah-tangga pasangan pelukis itu, bahkan sudah terwujud sejak akhir tahun 1990-an atau awal 2000, ketika karya lukis wayang beber menjadi karya unik yang sangat dicari di dunia.
Meski wayang beber level popularitasnya sudah menembus referensi karya seni dan pasar seni dunia, tetapi itu bukan berarti kehidupan sepasang kakek-nenek itu menjadi serba enak dan kecukupan di hari-harinya yang makin senja. Keduanya tetap menguni rumah ”kotangan” berlantai tanah kategori ”tidak layak huni” (RTLH), berukuran 40-an meter persegi di Kampung Wonosaren, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres.

Tidak Punya Juragan
Hidup dan berkarya di rumah ”bedeng” yang selalu bocor bila hujan tiba seperti yang terjadi selama 5 bulan ini, mbah Tris dan mbah Ning terkesan hanya bisa pasrah. Makan apa adanya, dengan sangat sederhana dan sudah banyak mengurangi konsumsi obat-obatan untuk diabetes dan hipertensinya, karena uang untuk membeli bahan-bahan kebutuhan penting itu tidak selalu ada.
”La enggih niku nak, meh mawon kepeksa nggadhekne pin emas. La pripun, kaya empun entek dalane. Ajeng njagakne sinten?, wong mbahe mboten gadhah juragan, sanes pegawai. Sagete mung adol lukisan, enggih pripun carane saget payu. Tujune kok enggih tesih enten sing gelem tuku. Yen ngeten niku, sing paling sugih Gusti Allah nggih,” ujar mbah Ning menceritakan ”keajaiban” yang dialaminya di bulan November 2020 lalu.
Meski hidup berdua dalam kondisi makin memprihatinkan selama pageblug ini, namun masih ada ”keajaiban” yang datang kepada mereka. Masih ada keberuntungan yang berpihak kepada mereka, yaitu ketika seorang ”Jendral Polisi” dari Jakarta datang ke rumahnya, membeli beberapa lukisan wayang beber.
Pejabat di Mabes Polri berpangkal Brigjen itu, ternyata juga seorang seniman atau pelukis, yang sekadar ingin membantu sesama seniman, dengan membeli beberapa lukisan karya mbah Ning itu. Tak hanya itu, ada pula seorang pengusaha asal Jatim yang sukses berusaha di Jabar, juga datang membeli lukisan wayang beber, setelah melihat berita-berita di situs internet.
Alhasil, dari menjual sejumlah lukisan sedikitnya kepada dua pembeli itu saja, sudah bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan setiap hari, berobat rutin, bahkan untuk membeli mobil minibus meski bekas. Namun, kebutuhan hidup sepasang pelukis itu tak cukup makan, berobat rutin, punya mobil dan terpenuhinya kebutuhan lain dalam rumah tangga. (Won Poerwono-bersambung)