Jadi Agenda Ritual Tahunan Warga Pakasa Gebang Tinatar
CERITA-CERITA kecil yang terjadi pada zaman kerajaan terutama selama perjalanan Keraton Mataram dari Mataram Hindu, Islam hingga Mataram Surakarta Hadiningrat, ternyata banyak sekali dan banyak pula yang belum terungkap ke ruang publik di zaman modern ini. Publik secara luas terutama di Tanah Air, sudah terlalu banyak ”dicekoki” cerita-cerita tentang peristiwa heroik dalam proses pembentukan republik ini.
Sebuah kekuatan yang muncul sejak republik terbentuk, seakan memutus keberadaan ”siapa, apa dan bagaimana” yang ada pada ruang zaman sebelumnya yang begitu panjang dan berliku-liku tetapi merupakan cikal bakal yang menjadi unsur/komponen penting dari ”siapa, apa dan bagaimana” yang ada di ruang zaman sekarang ini.
Padahal, sangatlah banyak cerita kecil tentang peristiwa di masa lalu yang pantas dijadikan guru bagi peradaban secara luas. Karena guru itu merupakan bagian dari peradaban yang telah memandu kehidupan begitu lengkap, secara makro dan mikro kosmos, yang menyangkut hablumminallah dan hablumminannas, serasi dan equilibrium serta harmoni.
Salah satu cerita kecil yang hingga kini selalu dikenang dan diteladani warga Kabupaten Ponorogo (Jatim), khususnya warga Pakasa cabang yang memiliki nama ”Gebang Tinatar” itu, adalah kisah heroik R Martopuro. Dialah tokoh sentral dalam peristiwa yang dikenal unik oleh warga setempat dengan istilah ”Meteng Pitung Beruk”.
Meski hanya bagian kecil dari peristiwa heroik perang Diponegoro (1825-1830), istilah ”Meteng Pitung Beruk” terdengar menggelitik telinga khalayak luas dan pantas untuk dikupas. Karena, judul itu terdiri dari kata ”meteng” yang berarti hamil, ”pitung” adalah tujuh dan ”beruk” adalah alat takar dari tempurung yang nyaris bulat utuh.
Mirip Hamil 5-7 Bulan
Jadi, rangkaian kalimat ”Meteng Pitung Beruk”, adalah istilah untuk melukiskan seseorang wanita yang seperti sedang hamil kira-kira 5-7 bulan usia kandungannya. Tetapi, karena yang membuat tampak hamil itu, ternyata ada barang yang disimpan di balik baju, yang ternyata berupa biji kopi yang banyaknya kurang lebih 7 beruk dengan berat antara sekitar 5 kg.
”Jadi, waktu terjadi perang Diponegoro, warga Ponorogo juga melakukan perlawanan terhadap Belanda (VOC). Tokoh yang memimpin perlawanan itu adalah eyang R Martopuro. Selain terlibat perang yang medannya sampai di Kabupaten Pacitan, eyang R Matopuro mengajak rakyat di Ponorogo untuk melawan dengan cara menyiasati Belanda (VOC). Siasat itu disebut Meteng Pitung Beruk,” sebut Kanjeng Raden Riya Arta (KRRA) Gendut MN Wreksonagoro Hadipuro, menjawab pertanyaan smnusantara.com, tadi siang.
Siasat ”Meteng Pitung Beruk” itu, menurut Ketua Pakasa Cabang Ponorogo yang memiliki nama khas daerah/keluarga besar Gebang Tinatar itu, adalah siasat para petani warga Ponorogo yang menolak menjual hasil pertaniannya berupa kopi kepada VOC. Kalau kopi hasil Bumi Reog itu dijual ke VOC, harganya ditekan sangat murah dan semua yang terkumpul dibawa untuk dipasarkan di Eropa.
Karena semua kopi hasil bumi dibawa ke Eropa, itu jelas merugikan bagi perekonomian Kabupaten Ponorogo yang waktu itu menjadi wilayah subur di bawah Keraton Mataram Surakarta saat Sinuhun PB VI jumeneng nata. Sebab itu, cicit R Adipati Surodiningrat II yang bernama R Martopuro itu, melakukan perlawanan dengan siasat menyimpan biji kopi dalam baju petani untuk dibawa ke pasar, agar dibeli para pedagang pribumi agar aktivitas perdagangan lokal memberi manfaat secara ekonomis pada warga setempat.
Siasat menjual kopi ke para pedagang pasar dengan cara ”Meteng Pitung Beruk” itu, makin terasa membuat pedagang VOC bingung kehilangan pasokan, di saat R Martopuro menggantikan ayahnya (R Mertokusumo) sebagai ”mantri” gudang kopi di sebuah desa yang bernama Bungkal. VOC kehilangan pasokan besar-besaran, karena gudang di Bungkal selalu kosong, dan ternyata biji kopi hasil panen warga setempat diam-diam dijual kepada pedagang pribumi di pasar yang dibawa tiap orang di balik baju hingga mirip wanita hamil 5-7 bulan.
”Lama-kelamaan, tentara Belanda (yang selalu mengawal VOC) curiga dan mengadakan razia di jalan menuju pasar. Karena, dari pengamatannya dalam beberapa waktu, banyak sekali warga berangkat kepasar yang kelihatan hamil 5-7 bulan secara bersamaan. Dan ketika tiap orang yang tampak hamil diperiksa tentara, ada yang keceplosan menjawab sedang hamil ‘pitung beruk’. Jawaban itu membuattentara melucuti tiap orang yang tampak hamil, dan terbongkarlah siasat Meteng Pitung Beruk,” ketus KRRA Gendut sambil tertawa geli.
Mantri Gudang Kopi
Karena siasat ”Meteng Pitung Beruk” terbongkar dan warga Ponorogo khususnya petani terancam kembali rugi, akhirnya R Martopuro bersama kelompok perlawanan setempat mengatur strategi untuk mengambil langkah tegas. Pada malam Tahun Baru 1853, Asisten Residen Belanda, Antony Willem Viensen dibunuh R Martopuro dan kelompok perlawanan warga setempat sebagai puncak kekesalannya.
Seterusnya, di tiap datang malam Tahun Baru, warga Kabupaten Ponorogo khususnya Pakasa Cabang Gebang Tinatar menyambut hari itu sebagai agenda tahunan hari bersejarah yang secara rutin diperingati, bersamaan dengan peringatan pergantian tahun seperti yang diperingati publik secara luas. Bedanya, bila warga lain menyambut Tahun Baru dengan heboh sukacita, tetapi waga Pakasa Gebang Tinatar menyambut dengan ziarah ke makam R Martopuro, kemudian menggelar doa wilujengan tahlil dan dzikir di rumah bersama seluruh keluarga besar.
Makam R Martopuro, berada di kompleks makam Desa Pelem Gurih, yang jaraknya sekitar 100 meter dari kediaman KRRA Gendut di Kalurahan Mangunsuman, Kecamatan Siman. Makam leluhur keluarga besar itu juga dekat, hanya berjarak sekitar 300 meter dari kompleks makam Bathara Katong, yang merupakan leluhur warga kabupaten karena juga merupakan leluhur Dinasti Mataram di zaman Mataram Kartasura (1703-1742).
”Nilai-nilai keteladan ‘mantri gudang kopi’ Bungkal, eyang Martopuro dari cerita kecil Meteng Pitung Beruk itu yang ingin kami tularkan kepada generasi anak-cucu. Dari situ lahirlah semangat ‘Yen wani aja wedi-wedi; Yen wedi aja pisan-pisan wani’. Artinya, kalau memang berani ya total, tak perlu ada rasa takut. Sebaliknya, kalau memang takut, jangan sekali-kali berlagak berani,” tegasnya.
Pesan bijak sebagai nilai-nilai keteladanan yang lahir dari cerita kecil ”mantri gudang kopi” Bungkal yang dikenal dengan ”Meteng Pitung Beruk” itu, memang terlalu kecil dibanding kisah heroik dalam perang menuju kemerdekaan RI. Tetapi, ketika dibuka dan diurutkan ke belakang, kisah heroik itu tidak lepas dari upaya seorang warga peradaban yang memperjuangkan hak-hak manusia beradab dan berbudaya (Jawa), yang begitu menghargai nilai-nilai peradaban peninggalan leluhur perintis, pendiri dan pelestari Mataram hingga Surakarta Hadiningrat sekarang ini. (Won Poerwono)