Pentas Sinuhun PB XIV Hangabehi, Cara Memuliakan Pusaka Leluhur (seri 4-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Pentas Sinuhun PB XIV Hangabehi, Cara Memuliakan Pusaka Leluhur (seri 4-bersambung)
SARANA IBADAH : Kagungan-dalem Masjid Agung, adalah salah satu bangunan prioritas fasilitas Ibu Kota "negara" Mataram Islam Surakarta, yang mulai dibangun Sinuhun PB II atas biaya ibundanya, KR Kentjana Kudus. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Baru di Zaman Sinuhun PB IV, Penciptaan Karya Seni-Budaya Meningkat Tajam

IMNEWS.ID – SINUHUN Paku Buwana (PB) IV yang bertahta pada tahun 1788-1820, termasuk masa tugas yang panjang yaitu selama 32 tahun. Panjangnya masa tugas pemimpin Dinasti Mataram Surakarta ini, terkesan mendapat “kesempatan longgar” untuk menyempurnakan “karya-karya para pendahulunya”. Karena secara kebetulan, “nagari” (monarki) Mataram Islam Surakarta saat itu, sedang butuh “penuntasan”.

Walau kedua pendahulunya, Sinuhun PB II (1727-1749) dan Sinuhun PB III (1749-1788) yang meneruskan tahtanya, telah menghabiskan waktu 43 tahun membangun dan menata Ibu Kota “negara” baru di Surakarta Hadiningrat, tetapi faktanya dinilai “belum cukup”. Perkembangan zaman dan perubahan peradaban (teknologi) saat itu, tampaknya terus menuntut kelayakan Surakarta sebagai Ibu Kota “negara”.

SISTEM PERTAHANAN : Menara Panggung Sangga Buwana adalah bangunan multi fungsi yang salah satunya sebagai bagian dari sistem pertahanan pusat Ibu Kota negara yang dibangun Sinuhun PB III dan PB IV. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Mencermati fakta-fakta peninggalan fisik (tangible) dan nonfisik (intangibel) dua “Raja Mataram Surakarta” (PB II dan PB III) itu, terkesan sekali seperti sudah “berbagi tanggung-jawab” masing-masing. Karena, Sinuhun PB II berperan penting sebagai penginisiasi rencana perpindahan Ibu Kota dari Kartasura, sekaligus pengeksekusi “boyong kedhaton”, pindah ke Ibu Kota baru, Surakarta.

Sinuhun PB II terkesan menghabiskan masa tugasnya selama 22 tahun (1727-1749) hanya untuk memikirkan nasib negara, keluarga, rakyatnya. Yaitu sejak merancang tata-ruang Ibu Kota Surakarta di Kadipaten Ponorogo (1737-1742), persiapan pindah dan “boyong kedhaton” serta membangun tata-ruang dan infrastruktur Ibu Kota baru. Di situlah, fungsi dan peran prameswari KR Kentjana Kudus luar biasa.

KRATON KULON : Suasana bangunan Pendapi Ijo Kraton Kulon yang dibangun sebagai tempat singgah Sinuhun PB II, ketika mulai tinggal di Ibu Kota negara baru di Surakarta Hadiningrat pada 17 Suro 1670 atau 20 Februari 1745. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam kajian sejarah Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja) menyebut, Sinuhun PB II wafat di tahun 1749 atau hanya 4 tahun menikmati Ibu Kota baru di Surakarta Hadiningrat yang dipindahnya, tetapi di situlah letak jasa besarnya. Karena dialah tokoh “perancang dan pendiri” Ibu Kota baru Kraton Mataram Islam di Surakarta. Dialah pendiri Kota Surakarta Hadiningrat, 20 Februari 1745.

Karya-karya tonggak sejarah Kraton Mataram Islam di Ibu Kota Surakarta mulai 17 Sura Tahun Je 1670 atau 20 Februari 1745, tidak berakhir (selesai) di tangan rokoh pendirinya. Karena, putra mahkotanya yang kemudian jumeneng-nata sebagai Sinuhun PB III, juga punya semangat, kesadaran dan niat luhur yang sama yaitu “melunasi utang” ayahandanya, yaitu melanjutkan membangun Ibu Kota sampai lengkap.

PANTI RUKMI : Di belakang Pendapi Ijo Kraton Kulon, ada bangunan bernama Panti Rukmi di antara sejumlah bangunan di kawasan seluas 1,3 hektare di dalam Kraton Mataram Surakarta. Kawasan itu, kini mulai direvitalisasi. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melihat hasil kajian yang sangat rasional itu, analisis yang muncul kemudian adalah dari mana uang didapat untuk membiayai “mega proyek” memindahkan dan membangun Ibu Kota itu?. Menjawab pertanyaan itu, di sinilah letak tanggung- jawab dan peran seorang istri Sinuhun Amangkurat Jawi (IV) sekaligus ibu dari Sinuhun PB II. Karena, putri Adipati Tirtakusuma Kudus (Bupati) itu pemodalnya.

Bahkan, tanggung-jawab seorang Kanjeng Ratu Kentjana Kudus tak berhenti sampai puteranya berhasil memindahkan Ibu Kota negara dan membangun semua fasilitas infrastrukturnya. Karena diberi umur panjang dan kelimpahan harta keluarga (Adipati Tirtakusuma) yang kaya-raya, KR Kentjana yang diberi umur panjang tetap mendukung cucunya yaitu Sinuhun PB III meneruskan karya ayahandanya.

ADA BUNKER : Kawasan Kraton Kulon yang luasnya 1,3 hektare itu, ada bunkernya. Kawasan tempat singgah Sinuhun PB II setelah “boyong kedhaton” dari Ibu Kota Kartasura ini, kini sedang direvitalisasi sebagai objek wisata baru. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sampai di titik penting itu, bisa disimpulkan bahwa anak dan cucu KR Kentjana, yaitu Sinuhun PB II dan PB III, benar-benar mencurahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk mewujudkan bangunan Ibu Kota Surakarta dan segala fasilitas kelengkapannya. Dan dari pencurahan energi yang terfokus dapa pembangunan itu, ternyata tetap ada celah untuk memikirkan hal-hal intangible (seni-budaya).

Dr Purwadi juga mengkaji sejarah, bahwa Sinuhun PB III akrab dengan grup-grup seniman yang mulai lahir waktu itu. Berbagai kegiatan upacara adat, tradisi dan seni budaya, tetap dijalankan walau porsinya berkurang karena konsentrasi masih terfokus membangun fasilitas Ibu Kota. Baru di zaman Sinuhun PB IV, aktivitas penciptaan karya seni-budaya tangible dan intangible meningkat tajam. (Won Poerwono-bersambung/i1)