Baru di Zaman Sinuhun PB IV, Penciptaan Karya Seni-Budaya Meningkat Tajam
IMNEWS.ID – SINUHUN Paku Buwana (PB) IV yang bertahta pada tahun 1788-1820, termasuk masa tugas yang panjang yaitu selama 32 tahun. Panjangnya masa tugas pemimpin Dinasti Mataram Surakarta ini, terkesan mendapat “kesempatan longgar” untuk menyempurnakan “karya-karya para pendahulunya”. Karena secara kebetulan, “nagari” (monarki) Mataram Islam Surakarta saat itu, sedang butuh “penuntasan”.
Walau kedua pendahulunya, Sinuhun PB II (1727-1749) dan Sinuhun PB III (1749-1788) yang meneruskan tahtanya, telah menghabiskan waktu 43 tahun membangun dan menata Ibu Kota “negara” baru di Surakarta Hadiningrat, tetapi faktanya dinilai “belum cukup”. Perkembangan zaman dan perubahan peradaban (teknologi) saat itu, tampaknya terus menuntut kelayakan Surakarta sebagai Ibu Kota “negara”.

Mencermati fakta-fakta peninggalan fisik (tangible) dan nonfisik (intangibel) dua “Raja Mataram Surakarta” (PB II dan PB III) itu, terkesan sekali seperti sudah “berbagi tanggung-jawab” masing-masing. Karena, Sinuhun PB II berperan penting sebagai penginisiasi rencana perpindahan Ibu Kota dari Kartasura, sekaligus pengeksekusi “boyong kedhaton”, pindah ke Ibu Kota baru, Surakarta.
Sinuhun PB II terkesan menghabiskan masa tugasnya selama 22 tahun (1727-1749) hanya untuk memikirkan nasib negara, keluarga, rakyatnya. Yaitu sejak merancang tata-ruang Ibu Kota Surakarta di Kadipaten Ponorogo (1737-1742), persiapan pindah dan “boyong kedhaton” serta membangun tata-ruang dan infrastruktur Ibu Kota baru. Di situlah, fungsi dan peran prameswari KR Kentjana Kudus luar biasa.

Dalam kajian sejarah Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja) menyebut, Sinuhun PB II wafat di tahun 1749 atau hanya 4 tahun menikmati Ibu Kota baru di Surakarta Hadiningrat yang dipindahnya, tetapi di situlah letak jasa besarnya. Karena dialah tokoh “perancang dan pendiri” Ibu Kota baru Kraton Mataram Islam di Surakarta. Dialah pendiri Kota Surakarta Hadiningrat, 20 Februari 1745.
Karya-karya tonggak sejarah Kraton Mataram Islam di Ibu Kota Surakarta mulai 17 Sura Tahun Je 1670 atau 20 Februari 1745, tidak berakhir (selesai) di tangan rokoh pendirinya. Karena, putra mahkotanya yang kemudian jumeneng-nata sebagai Sinuhun PB III, juga punya semangat, kesadaran dan niat luhur yang sama yaitu “melunasi utang” ayahandanya, yaitu melanjutkan membangun Ibu Kota sampai lengkap.

Melihat hasil kajian yang sangat rasional itu, analisis yang muncul kemudian adalah dari mana uang didapat untuk membiayai “mega proyek” memindahkan dan membangun Ibu Kota itu?. Menjawab pertanyaan itu, di sinilah letak tanggung- jawab dan peran seorang istri Sinuhun Amangkurat Jawi (IV) sekaligus ibu dari Sinuhun PB II. Karena, putri Adipati Tirtakusuma Kudus (Bupati) itu pemodalnya.
Bahkan, tanggung-jawab seorang Kanjeng Ratu Kentjana Kudus tak berhenti sampai puteranya berhasil memindahkan Ibu Kota negara dan membangun semua fasilitas infrastrukturnya. Karena diberi umur panjang dan kelimpahan harta keluarga (Adipati Tirtakusuma) yang kaya-raya, KR Kentjana yang diberi umur panjang tetap mendukung cucunya yaitu Sinuhun PB III meneruskan karya ayahandanya.

Sampai di titik penting itu, bisa disimpulkan bahwa anak dan cucu KR Kentjana, yaitu Sinuhun PB II dan PB III, benar-benar mencurahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk mewujudkan bangunan Ibu Kota Surakarta dan segala fasilitas kelengkapannya. Dan dari pencurahan energi yang terfokus dapa pembangunan itu, ternyata tetap ada celah untuk memikirkan hal-hal intangible (seni-budaya).
Dr Purwadi juga mengkaji sejarah, bahwa Sinuhun PB III akrab dengan grup-grup seniman yang mulai lahir waktu itu. Berbagai kegiatan upacara adat, tradisi dan seni budaya, tetap dijalankan walau porsinya berkurang karena konsentrasi masih terfokus membangun fasilitas Ibu Kota. Baru di zaman Sinuhun PB IV, aktivitas penciptaan karya seni-budaya tangible dan intangible meningkat tajam. (Won Poerwono-bersambung/i1)
