Sisi Penting Lain Eksistensi Situs “Alas Krendhawahana”
IMNEWS.ID – PARADIGMA baru sejarah kepahlawanan Pangeran Diponegoro, pelan-pelan akan menjadi ekspresi berbeda yang berkembang sesuai alur yang lebih rasional. Perkembangan data dan informasi tentang sejarah perjalanan tokoh Pahlawan Nasional itu, akan menjadi makin riil dan membumi. Sisi inilah yang akan lebih bermanfaat dalam membangun kesadaran bersama dan wisata edukasi terpadu ke depan.
Beberapa hal di atas mungkin masih sekadar gagasan sebelum menjadi sebuah konsep pengembangan, setelah membaca alur peristiwa yang sedang berjalan dalam beberapa waktu terakhir. Yaitu, ketika Menbud RI Fadli Zon berkunjung ke Kraton Mataram Surakarta, salah satunya diajak Gusti Moeng melihat seisi museum. Di situ, ada diorama kilasan aksi Perang Diponegoro, yang “diusulkan” untuk direnovasi.

Diorama kisah heroik Pangeran Diponegoro yang menghias museum kraton yang dulu bernama Museum Art Gallery itu, kondisinya sudah kusam karena warna catnya pudar sehingga kurang menarik. Oleh sebab itu, saat Menbud RI Fadli Zon dan rombongan masuk ruang pamer pertama yang ada dioramanya itu, langsung dilaporkan Gusti Moeng bahwa kondisinya urgen perlu direnovasi, begitu pula ruang-ruang lainnya.
Dari Gusti Moeng dan berbagai sumber disebutkan, museum kraton kali pertama berfungsi di tahun 1960-an ketika Sinuhun PB XII jumeneng nata (1945-2004). Dari data internet, museum sudah dirintis sejak zaman Sinuhun PB X (1893-1936), tetapi mungkin saja baru dinyatakan sebagai museum dan dibuka resmi di awal republik. Karena, data internet menyebut museum dibuka Ibu Fatmawati Soekarno tahun 1963.

Karena Kraton Mataram Surakarta sejak 1945 menjadi bagian dari NKRI, maka tidak aneh kalau museum milik kraton secara resmi dinyatakan dibuka oleh seorang tokoh simbol NKRI, yaitu istri Presiden RI ke-1 Ir Soekarno. Dan karena itu pula, tidak aneh kalau isi museum ada nuansa simbol-simbol kepahlawanan, termasuk suasana perang Pangeran Diponegoro. Sedangkan sosok Sinuhun PB VI, ditampilkan di dekatnya.
Bila tidak salah, mungkin hanya itu satu-satunya yang mewakili gambaran sekilas sejarah perjuangan secara nasional sebelum NKRI lahir. Mungkin saja, ada peran heroik para tokoh pemimpin Mataram Surakarta dan sepanjang Dinasti Mataram tampil memimpin. Tetapi, data-data dan eksistensi kepahlawanannya dianggap kurang heroik atau heboh seperti Pangeran Diponegoro, sehingga tidak ditampilkan “kurator”.

Yang pasti, hadirnya diorama aksi perang Pangeran Diponegoro di mesum kraton, ada banyak alasan yang masuk akal. Selain narasi heroisme melawan penjajah sebagai bahan edukasi membangun kerakter bangsa, ada beberapa alasan yang lebih rasional dan nyata. Salah satunya, hubungan sinergitas Pangeran Diponegoro dan Sinuhun PB VI dalam perlawanan menghadapi penjajah, sebagai sesama cucu dari eyang putrinya.
Berikut, ada fakta kolaborasi perlawanan dibangun untuk “keperluan” Pangeran Diponegoro. Walau hingga kini belum ada penjelasan resmi tentang hal riil yang diperjuangkan Pangeran Diponegoro, tetapi aksi peperangannya tidak bisa dipisahkan dari peran Sinuhun PB VI. Karena, faktanya Raja “negara” Mataram Surakarta inilah yang membiayai “keperluan” perang Pangeran Diponegoro itu.

Kajian sejarah yang dilakukan “dalang proporsional-profesional” Ki Dr Purwadi, menghasilkan motif-motif fakta sejarah seperti itu. Tetapi, proporionalitas peran para tokoh dalam peristiwa itu, memang terkesan sengaja tidak ditampilkan pada narasi sejarah secara umum. Padahal, Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa-Pangarsa LDA) pernah menyebutkan, Pangeran Diponegoro sempat sembunyi di kraton.
“Sembunyi” di kraton tentu ada yang menginisiasi dan mengorganisasi, yang jelas menjadi tanggung-jawab Sinuhun PB VI (1823-1830). Bahkan, Gusti Moeng juga mendapat data, kereta yang ditumpangi Pangeran Diponegoro bersembunyi di Kraton Mataram Surakarta, ditinggal dan “dikubur” utuh-utuh di suatu tempat dekat kraton. “Keterlibatan” seperti inilah yang membuat Sinuhun PB VI juga “ditangkap”.

Intinya, “keterlibatan” Sinuhun PB VI pada aksi perlawanan Pangeran Diponegoro, keduanya dianggap bersekongkol dan harus menanggung kesalahan. Pengadilan yang digelar di Belanda, konon menjatuhkan hukuman kedua tokoh ini dibuang dan dipenjara di Makasar (Sulawesi Selatan). Tahun 1849, Sinuhun PB VI dibebaskan, tetapi sesampai di luar penjara Belanda menembak kepalanya hingga tewas.
Beberapa hal baru dari kilasan ketokohan Pangeran Diponegoro, memang nyaris sulit muncul ke permukaan. Karena, sejak republik berdiri ada nuansa rasa “tidak suka” pada kebesaran Mataram dan Mataram Surakarta, sudah tercium menyengat. Oleh sebab itu, fakta-fakta kisah heroisme siapapun tokohnya yang berkait dengan Mataram Surakarta, atau para tokoh Dinasti Mataram khususnya, sengaja “tak ditampilkan”.

Kini, pelan-pelan kebenaran fakta sejarah khususnya sepak-terjang perjalanan Pangeran Diponegoro mulai terungkap. Terutama, dari sisi potensi dukungan lingkungan sekitarnya yang lebih rasional karena memang proporsional dalam kaitan peristiwa itu. Diorama aksi heroisme Pangeran Diponegoro di museum di, menjadi petunjuk yang bisa menuntun akal sehat untuk mengetahui kebenaran sejarah.
Diorama itulah yang mengungkap bagaimana peran Sinuhun PB VI yang juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, yang ikut berperan di belakang layar. Karena nalar sehat berkata, pasti ada “tokoh di belakang layar” di balik “kerepotan” Pangeran Diponegoro membiayai perang selama 5 tahun (1825-1830) itu. Siapa yang punya uang untuk dan mau membiayai banyak pasukan (ratusan-Red), berperang selama itu?.

Logika-logika sederhana seperti itu, jarang ditampilkan dalam narasi sejarah perjalanan bangsa ini. Sayang sekali. Cara-cara edukasi seperti ini, akan menyesatkan generasi anak bangsa yang mengarah pada sikap abai sejarah, kurang respek pada fakta-fakta sejarah dan sesat. Pada giliarannya, cara-cara edukasi macam itu akan berbahaya bagi stabilitas nasional dan ketahanan budaya nasional.
Karena faktanya, “negara” Mataram Surakarta (1745-1945) yang menguasai wilayah hingga dua pertiga Pulau Jawa ini, maka sangat rasional kalau Raja Sinuhun PB VI membiayai aksi Pangeran Diponegoro sebagai sesama “cucu”. Sultan HB II atau ayah Pangeran Diponegoro, jelas belum memiliki kemampuan atau kuat secara ekonomi dan tidak mungkin membiayai perang itu, karena Kraton Jogja baru berdiri tahun 1757.

Selain fakta-fakta yang terungkap dari kunjungan Menteri Fadli Zon di museum itu, belakangan juga muncul lagi fakta adanya situs petilasan bekas pertemuan Pangeran Diponegoro dengan Sinuhun PB VI. Situs prasasti di dalam “Alas Kendhawahana” itu selama ini tertutup oleh popularitas pusat ritual “Wilunegan Nagari Sesaji Mahesa Lawung”. Kini, daya tarik Alas Krendhawahana bertambah karena terbuka objek baru.
Jejak Pangeran Diponegoro dan Sinuhun PB VI ternyata juga ada di Selo (Boyolali) yang kini jadi objek wisata. Itu yang mendorong kraton bersinergi dengan Pemda setempat, mewujudkan monumen bernama “Simpang PB VI di objek wisata Selo. Ini akan membuka rangkaian edukasi sejarah lebih sehat, bahkan bisa dikreasi paket wisata edukasi “Selo-Krendowahono-Museum Kraton” untuk “kesejahteraan bersama”. (Won Poerwono-i1)
