Dihadiri Perwakilan Semua Elemen Masyarakat Adat Kraton Mataram Surakarta
SURAKARTA, iMNews.id -Bebadan kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng sasana Wilapa/Pangarsa LDA) menggelar halal-bihalal “terbatas” di gedhong Sasana Handrawina, Kamis (26/3) siang tadi. Halal-bihalal yang dihadiri sekitar 100 perwakilan semua elemen masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta itu, juga dihadiri Menbud RI Fadli Zon bersama staf yang berkait dengan revitalisasi kraton.
Undangan atau “dhawuh” yang beredar khususnya bagi kalangan pimpinan Pakasa Cabang Surakarta pukul 11.00 WIB, tetapi acara dimulai sekitar pukul 12.00 WIB dan rombongan Menbud Fadli Zon tiba di lokasi acara sekitar 30 menit kemudian. Menteri “terlambat” dari yang dijadwalkan datang sebelum jam 12.00 WIB, karena melakukan kunjungan ke kampus UNS di Kentingan, untuk memberi orasi kebudayaan.

Rombongan menteri tiba disambut beberapa tokoh tuan rumah di kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Menteri dan rombongan di antaranya Dirjen Perlindungan Budaya dan Tradisi Dr Restu Gunawan diajak melihat dari dekat bangunan demi bangunan yang ada di kompleks itu, yang rata-rata sudah mulai kusam bahkan rusak. Termasuk Pendapa Sitinggil Lor yang terdiri beberapa bangunan yang sudah rusak pula.
Dari kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa dan Sitinggil Lor, menteri diajak keluar melalui Kori Rentang untuk menyeberang ke halaman Kamandungan. Tiba di halaman Museum Art Gallery, menteri disambut Sinuhun PB XIV Hangabehi dan para kerabat di antaranya KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Pengageng Museum), KPH Bimo Djoyo Adilogo, KRMH Suryo Manikmoyo, Gusti Moeng dan beberapa pejabat jajaran “Bebadan”.

Di museum, menteri sempat melihat dari dekat layanan petugas loket terhadap para wisatawan yang siang itu masih banyak berdatangan. Bahkan, Menbud Fadli Zon sempat wawancara dengan pengunjung sekeluarga asal Surakarta yang sudah “merantau” ke Kalimantan. Menteri juga mengamati layanan tiket masuk pengunjung yang taripnya Rp 60 ribu (asing), Rp 35 ribu lokal (dewasa) dan Rp 25 ribu (anak).
Menteri diajak Gusti Moeng masuk ruangan dan dijelaskan banyak hal, terutama mengenai penjelasan latar-belakang sejarah yang belum banyak diketahui publik. Misalnya beberapa “dandang” peninggalan Sultan Agung, “satang” (dayung) “gethek” (perahu) Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), ujung haluan perahu berwujud kepala raksasa yang disebut “Canthik Rajamala”, yang pernah dipakai PB IV ke Madura.

Gusti Moeng juga memperlihatkan diorama Perang Diponegoro yang dianggap sudah kusam dan perlu direnovasi. Dia menyebutkan, Menbud Fadli Zon diajak berkeliling museum, karena ada yang ingin diperlihatkan kondisinya dan diharapkan juga dibantu merevitalisasi pada tahap berikutnya. Tetapi Gusti Moeng menegaskan, sebaiknya objek wisata kraton diberdayakan agar bisa menghasilkan pemasukan untuk mandiri.
Sebelum meninggalkan kompleks museum, menteri diajak melihat maket museum yang berada di teras bagian barat. Di situ Gusti Moeng menjelaskan bahwa kompleks museum dulu pernah menjadi ruang kantor Sinuhun PB IX, PB XI dan mulai tahun 1960 mulai berubah fungsi menjadi museum. Dari beberapa ruang pamer, ada 1 atau 2 yang sudah direvitalisasi, dan lainnya masih menunggu tahap berikutnya.

Karena sudah ditunggu untuk berhalal-bihalal, Menteri Fadli Zon dan rombongan agak bergegas karena diajak Gusti Moeng menuju Sasana Handrawina. Tak seperti biasanya ketika ada pisowanan untuk upacara adat, ketika untuk acara halal-bihalal bersama Kemenbud RI siang tadi, Sasana Handrawina “di-setting” jamuan dengan meja bundar di kelilingi kursi, dan deretan kursi untuk masyarakat adat.
Karena yang hadir diperkirakan lebih dari 100 orang, selain di dalam deretan kursi untuk berbagai elemen masyarakat adat juga ditata di teras, termasuk untuk para awak media. Halal-bihalal diawali dengan sambutan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan selaku Pelaksana, Penanggung-Jawab Pemanfaatan Pengelolaan Wisata kraton. Ia mengajak seluruh keluarga besar untuk memanfaatkan momentum bermaafan itu.

Sambutan berikut diberikan Menteri Fadli Zon yang singkat pula, menyinggung soal makna halal-bihalal yang sudah ada di kraton dan kini menjadi milik bangsa secara nasional. Menurutnya, tradisi halal-bihalal hanya ada di Indonesia. Ia juga menyinggung harapan KGPH PA Tedjowulan, bahwa 1 Syawal menjadi momentum tepat untuk bermaafan, untuk kalangan keluarga besar putra/putri PB XII dan PB XIII.
Selesai pidato, kedua tokoh itu berada di depan berjejer dengan Gusti Moeng dan Sinuhun PB XIV Hangabehi, GKR Ayu Koes Indriyah bahkan tampak juga GRAy Putri Purnaningrum dan suami. Di saat itulah semua yang hadir diberi kesempatan untuk bersalaman bergiliran, bermaaf-maafan. Di saat itulah, hujan deras tiba agak lama, hingga saat ada sesi wawancara nyaris tak terdengar penjelasan dua tokoh itu.

Dalam wawancara, Menteri Fadli Zon, KGPH Tedjowulan yang didampingi beberapa tokoh termasuk Gusti Moeng, para awak media menanyakan soal kelanjutan revitalisasi. Baik KGPH PA Tedjowulan dan Fadli Zon bergiliran menjawabnya. Soal keluarga yang dianggap belum benar-benar “rukun”, akan tetap diupayakan terus. Soal revitalisasi, Kraton Kulon menjadi prioritas untuk segera dikerjakan.
Wawancara singkat selesai di saat hujan sudah agak reda, yang membuat Gusti Moeng mengajak Menterdi Fadli Zon dan rombongan bergegas berjalan menuju lokasi Kraton Kulon. Dalam suasana hujan masih rintik-rintik, sebagian berlindung payung, tetapi sebagian besar rombongan dan juga para awak media berbasah-basah mengikuti kunjungan itu. Tiba di Pendapa Kraton Kulon, Gusti Moeng menjelaskan fungsinya.

Menurut Gusti Moeng, bangunan Kraton Kulon yang terakhir sering disinggahi Sinuhun PB X (1893-1939), pernah direnovasi pada tahun 1980-an. Hingga kini, belum pernah direnovasi lagi, begitu pula hampir semua bangunan di sekitarnya. Ketika melintasi bangunan “Panti Rukmi”, Manteri Fadli Zon berhenti dan melihat sekilas dari luar pintu, atap rusak parah dan lantai basah oleh air hujan.
Selain genangan air di jalan setapak menuju rute yang dirunjuk Gusti Moeng untuk dilalui menuju pintu barat Kraton Kulon, hujan masih turun dan sisa semak-belukar masih menjadi penghalang kalau lewat tidak berbaris satupersatu. Sambil memandang suasana dan kondisi semua bangunan yang berada di sekelilingnya, Fadli Zon terkesan berempati ikut prihatin karena hampir semuanya rusak parah.

Sambil berjalan burutan apalagi ketika melewati pintu selebar satu orang, Gusti Moeng menunjuk sebuah bangunan yang menjadi pintu masuk dan tangga menuju “bunker” yang terhubung di bangunan “Panti Rukmi”. Semua bangunan di kawasan “Kraton Kulon” seluas 1 hektare itu, Gusti Moeng berharap jika sudah berhasil direvitalisasi dan menjadi objek kunjungan baru di kraton, bisa memberi “income”.
Sampai di gapura pintu barat “Kraton Kulon”, menteri melihat kondisi gapura, pintu dan lokasi akses keluar-masuk itu. Semua sempat mendongak ke atas, untuk melihat tulisan angka tahun yang ada di bagian atas ambang gapura. Gusti Moeng sempat menjawab pertanyaan para wartawan soal sejarah pintu tersebut, juga dimulainya revitalisasi. Di lokasi itu, kunjungan diakhiri dengan berpamitan. (won-i1)
