Ekspresi Riang Orang-orang “Tertindas”, Pasti Beda dengan “Hura-hura”
IMNEWS.ID – EKSPRESI riang gembira secara lugas dan suka-cita karena merasa lepas dari “tekanan” dan ketertindasan yang membebani bertahun-tahun sejak 2004, menjadi ciri penuh suasana yang terjadi di Pendapa Pagelaran sasana Sumewa, Rabu (18/3) siang. Wajah-wajah ceria lebih dari 500 orang dari berbagai elemen masyarakat adat termasuk Sinuhun PB XIV, siang itu, memang belum “representatif”.
Belum representatif atau mewakili wajah-wajah kraton secara keseluruhan. Atau tidak sama dengan ekspresi seluruh masyarakat adat keturunan Dinasti Mataram Islam Surakarta. Karena, faktanya memang belum mewakili semua trah darah keturunan para pemimpin keturunan Dinasti Mataram. Setidaknya, dari yang pernah terlibat pada friksi pergantian tahta 2004 saja, sepertiganya saja belum ada.

Mengapa memakai ukuran yang terlibat pada pergantian tahta tahun 2004?. Karena, friksi yang terjadi di antara 35 putra-putri-dalem Sinuhun PB XII itu, menjadi pihak utama yang sedang “menciptakan” dinasti baru. Dari 35 putra-putri-dalem PB XII itu, hanya sebagian keluarga kecil yang lahir dari garwa-dalem KR Ageng Pradapaningrum di tambah dua figur dari keturunan dua garwa lain yang mendukung.
Keluarga kecil yang lahir dari KR Ageng Pradapaningrum ada 10 putra-putri, dan Sinuhun PB XIII adalah anak tertua, bahkan tertua dari 35 putra-putri-dalem. Dari 10 putra-putri itu, waktu itu hanya dua saudara lelaki termasuk KGPH Hangabehi dari lima anak yang mendukung Sinuhun PB XIII. Tiga adik lelaki Sinuhun PB XIII tak jelas arah dukungannya kemana?, tetapi 5 adik perempuan solid mendukung.

Namun dalam perjalanan dari 2004 menuju pergantian tahta tahun 2025, ada dinamika yang berkembang. KGPH Kusumo Yudo yang menjadi “senapati perang” pada pergantian tahta 2004, lebih dulu “gugur” setelah beberapa tahun Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa) terbentuk. Sementara, tiga saudara lelakinya berubah posisi, seorang putri-dalem yang pernah “menyeberang” berbalik.
Tetapi, satu-satunya putra-dalem lain ibu yang sejak awal bergabung mendukung dan setia, harus ikut “gugur” dalam “perang dingin” yang terjadi sejak 2004. GPH Nur Cahyaningrat (anak KR Rogasmara), wafat di saat Gusti Moeng bersama Bebadan Kabinet 2004 dan semua elemen masyarakat adat pendukungnya diusir pada “Insiden MOM 2017”. Wafatnya beberapa tokoh penting ini, akibat “pengkhianatan” PB XIII.

Bila kemudian “ditotal”, peristiwa pergantian tahta 2004 hanya 7 dari garwa-dalem KR Ageng Pradapaningrum yang mendukung PB XIII, termasuk Gusti Moeng. Ditambah GRAy Koes Sapardiyah dan GPH Nur Cahyaningrat, dua putra/putri-dalem dari dua istri lain berbeda. Sedangkan lebih dari 20 putra/putri-dalem PB XII memilih “jalan berbeda”, yang konon mendukung Sinuhun PB XIII Tedjowulan, waktu itu.
Ketika waktu sudah berjalan dan terjadi dinamika yang begitu fluktiatif, peta dukungan juga berbeda. Yang jelas, Sinuhun PB XIII “berkhianat” lepas dari dukungan orang-orang setia yang pernah mendukung pada suksesi 2004 dan memilih jalan sendiri. Ternyata, “pengkhianatan” yang datang bersamaan dengan “Insiden MOM 2017” itu, juga diikuti sejumlah “putra-putri-dalem” yang beda haluan pada 2004.

Dinamika fluktuatif kembali terjadi mendekati hingga terjadi pergantian “tahta panas” 2025 sepeninggaln Sinuhun PB XIII. Karena, KGPH Tedjowulan yang pernah “memilih” jalan “seberang” tetapi mulai merapat ke barisan Gusti Moeng saat PB XIII berkhianat, belakangan menjadi daya dukung legitimatif luar biasa pada “tahta panas” 2025. Dialah penentu dan penguat keputusan kerabat untuk PB XIV.
Melalui posisinya sebagai “Plt Sinuhun” ad-interim, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan yang kemudian ditunjuk Kemenbud RI sebagai Penanggungjawab/Pelaksana Badan Pengelola Kraton Surakarta (BPKS), perannya sangat menentukan. Dia ikut menandaskan dan menegaskan dukungan para kerabat yang ada di LDA, terhadap sosok Sinuhun PB XIV Hangabehi yang memang sudah punya kharisma dan peluang kuat.

Dinamika yang berkembang terakhir dalam proses pergantian tahta itu, kini sudah berubah lagi. KGPH Puger dengan pernyataannya mengangkat fakta yang lugas, secara tidak langsung telah memilih jalan sendiri “yang tidak” mendukung Sinuhun PB XIV Hangabehi. Caranya menyatakan tidak mendukung itu yang bisa dimaknai, karena mungkin saja dia kecewa, karena posisi “Kondhang” untuk dirinya, tak berlanjut.
“Kondhang” adalah istilah lain dari Wakil Sinuhun. Padahal, selama perjalanan Kraton Mataram Islam dari Panembahan Senapati hingga Kartasura dan lebih 200 tahun Mataram Islam Surakarta hingga kini, “tidak pernah mengenal” istilah “Wakil Sinuhun”. Karena, sejak Dinasti Mataram Islam didirikan Sinuhun Panembahan Senapati (Raja ke-1), tidak pernah menciptakan paugeran tentang “Wakil Sinuhun”.

Tiadanya “pasal” tentang Posisi “Wakil Sinuhun” dalam paugeran adat itu, juga dibenarkan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan. Dalam berbagai kesempatan dia menandaskan, bahwa dirinya juga ditetapkan sebagai “Wakil Sinuhun” (SK Kemendagri No.430-2933/2017). Tetapi bersamaan dengan itu dia menegaskan, bahwa di Kraton Mataram Surakarta tidak mengenal “Wakil Sinuhun” dan dirinya “tak begitu peduli”.
Bahkan bersamaan dengan itu KGPH PA Tedjowulan menegaskan, bahwa dirinya tidak punya “wahyu Ratu”, meskipun memahami makna “wahyu Ratu”. Penegasan soal inilah sekaligus menjadi jawaban atas yang dilakukan pada pergantian tahta 2004, dan ketegasan mendalam terhadap pergantian tahta di tahun 2025 ini. Bahwa dirinya sudah tidak ingin dan berniat menjadi Sinuhun, tetapi ada yang “perlu didukung”.

Ilustrasi itu melukiskan bagaimana dinamika sedang berkembang begitu fluktuatif saat ini. Karena, selain faktor KGPH PA Tedjowulan yang menjadi modal kuat berubahnya suasana suka-cita dan eratnya keakraban berkerabat dan bersaudara di sebagian besar masyarakat adat Mataram Surakarta, ada beberapa faktor lain yang berdinamika. Kalau KGPH Puger sudah menjauh, KGPH Madu Kusumonagoro makin mantab.
Belakangan, saat Bebadan Kabinet 2004 menggelar khol sejumlah tokoh “pejuang paugeran adat” di Bangsal Smarakata, di situ tampak hadir GRAy Koes Sapardiyah. Putri-dalem Sinuhun PB XII ini pernah bergabung dengan Bebadan Kabinet 2004, tetapi “hanyut” ke dalam gelombang “Insiden MOM 2017” yang isinya pengkhianatan PB XIII. Tetapi tokoh seperti KGPH Benowo, entah “menyesatkan diri” ke mana?.

Dengan gambaran dinamika yang begitu fluktuatif selama 20 tahun sejak tahun 2004 hingga pergantian tahta 2025 ini, pantas saja menjadi puncak tekanan beban psikologis. Belasan ribu masyarakat adat yang tergabung dalam berbagai elemen pendukung Bebadan Kabinet 2004 dan LDA merasakannya. Tetapi wajar ketika dinamika berkembang, ada yang berubah begitu cepat, seperti membalik telapak tangan.
Karena, di balik riang-gembira dan suka-cita di Pendapa Pagaleran, Rabu siang (18/3) itu, tentu ada alasan rasionalnya. Ekspresi riang orang-orang “tertindas”, pasti berbeda dengan ekspresi “hura-hura” dan songkak yang sering ditampakkan kalangan “penindas”. Di satu sisi, suasana suka-cita dilandasi sikap tulus-ikhlas bersahaja, di sisi lain sering memperlihatkan hura-hura, arogansi dan glamor. (Won Poerwono – bersambung/i1)
