Yang Untuk Masyarakat, Tadi Malam Diserahkan ke Masjid Agung
SURAKARTA, iMNews.id – Rabu (18/3) besok, Bebadan Kabinet 2004 akan membagikan zakat dan fitrah kepada sekitar 300 sentana dan abdi-dalem garap (pegawai) Kraton Mataram Surakarta. Di antara mereka, termasuk para abdi-dalem juru-kunci Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY). Paket bingkisan Lebaran zakat-fitrah akan dibagikan dalam pisowanan di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa pukul 12.00 WIB.

“Kalau zakat-fitrah yang ke Masjid Agung, sudah tadi malam (Senin, 16/3). Besok untuk para sentana dan abdi-dalem garap di Pendapa Pagelaran. Tetapi untuk pelaksanaan upacara adat (hajad-dalem) Garebeg Syawal, belum ada dhawuh. Mungkin besok akan diterbitkan,” ujar KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa) menjawab pertanyaan iMNews.id, siang tadi.

Upacara adat hajad-dalem Garebeg Syawal adalah ritual religi menyambut hari besar Idhul Fitri atau Lebaran, yang diwujudkan dengan prosesi arak-arakan mengusung Gunungan dari kraton ke kagungan-dalem Masjid Agung. Semua yang hadir dalam pisowanan itu, akan berkumpul di Masjid Agung saat sepasang Gunungan didoakan, lalu dibagi-bagikan atau “digrebeg” (diperebutkan) oleh semua yang “ngalab berkah”.

Namun, hingga berita ini diturunkan belum ada “dhawuh” atau perintah resmi dari pihak otoritas di Bebadan Kabinet 2004 yang menyebut pelaksanaan ritual Garebeg Syawal itu. “Dhawuh” yang berisi pemberitahuan wajib hadir dalam pisowanan untuk kalangan sentana dan abdi-dalem, untuk Garebeg Syawal biasanya dijatuhkan datang menjelang hari “H” Lebaran, dan pelaksanaan ritualnya, hari kedua Lebaran.

Rangkaian upacara adat menyambut hari besar keagamaan khusus Garebeg Syawal, diawali dengan “Malem Selikuran” untuk menyambut “Lailathul Qadar” yang sudah dilaksanakan Senin malam (9/3). Berikutnya penyerahan zakat-fitrah, yang sudah pula diserahkan kepada takmir Masjid Agung, semalam. Gusti Moeng melepas utusan-dalem untuk menyerahkan zakat-fitrah yang dipimpin KPP Angga selaku Bupati Lampah.

Mengenai pelaksanaan upacara adat hajad-dalem Garebeg Syawal, walau belum ada “dhawuh” penentuan hari pelaksanaannya, biasanya dijatuhkan “H” (Lebaran) plus satu atau dua. Kebijakan itu untuk memberi kelonggaran kalangan abdi-dalem yang bertugas mengusung Gunungan untuk berlebaran di keluarganya. Karena dibutuhkan lebih dari 200 orang untuk mengusung sepasang Gunungan dari kraton ke Masjid Agung.

Seperti diketahui, dalam sepanjang pengalaman lebih 20 tahun terakhir bahkan lebih, upacara adat Garebeg Syawal (Idhul Fitri) dan juga Garebeg Besar (Idhul Adha) paling kurang populer di kalangan masyarakat luas. Selain kesibukan masyarakat di lingkungan keluarga masing-masing, untuk datang dan “ngalab berkah” hajad-dalem Gunungan bagi publik secara luas juga semakin tak populer.

“Tidak populernya” beberapa jenis upacara adat untuk dikunjungi sebagai objek pemandangan maupun objek “ngalab berkah”, menurut beberapa pengamat karena generasi masyarakat masa kini sudah bukan masyarakat yang melegitimasi segala bentuk upacara adat di kraton pada 50-an tahun lalu. Mereka adalah generasi baru yang tak pernah diedukasi tentang nilai-nilai dari Kraton dan Budaya Jawa.

Sementara itu, belum lama ini Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA diundang hadir pada gelar penutupan pengabdian untuk mengakhiri studi para siswa jurusan tari SMKN 8. Ada sekitar 70-an siswa jurusan tari sekolah yang dulu bernama SMKI itu, menggelar beberapa repertoar tari di Pendapa SMKN 8, sebagai ekspresi hasil pengabdiannya di kraton selama 3 bulan sebagai juru beksa kraton. (won-i1)
