Semangat dan Optimistik “Malem Selikuran” Perdana di Era Sinuhun PB XIV (seri 2 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:March 13, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Semangat dan Optimistik “Malem Selikuran” Perdana di Era Sinuhun PB XIV (seri 2 – bersambung)
SUASANA RITUAL : Suasana saat berlangsung puncak tatacara ritual hajad-dalem "Malem Selikuran" di kagungan-dalem Masjid Agung, Senin malam (9/3). Walau dihadang hujan, sekitar 2 ribu warga tetap sowan mengikuti wilujengan di masjid. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dukungan Berbagai Elemen Masyarakat Tidak Goyah, Justru Semakin Kuat

IMNEWS.ID – PROSES pergantian tahta di Kraton Mataram Surakarta dengan tampilnya putra tertua, yang “selangkah lagi” memenuhi syarat dan perjalanan spiritualnya sebagai Sinuhun PB XIV Hangabehi, bisa menjadi ukuran. Dalam dinamika “persaingan” yang penuh tantangan, langkah demi langkah bisa diatasi, baik oleh seluruh kerabat, Bebadan Kabinet 2004 maupun berbagai elemen masyarakat adatnya.

Tantangan yang paling berat adalah gelombang arus informasi terutama di platform medsos yang luar biasa dahsyatnya, menyajikan pesan-pesan perlawanan dari pihak yang selama ini gigih ingin merebut tahta. Dengan berusaha menyajikan pesan yang lebih banyak bias menyimpang dari fakta, tata-nilai dan inti persoalan sebenarnya dibanding nilai ketepatan, kebenaran, kemanfaatan dan nilai penguasaan materinya.

Mungkin hal-hal ini yang membuat sebagian kalangan elemen masyarakat adat seperti mendapat “benturan keras”, hingga membuat goyah dan ragu-ragu dan hampir saja meyakini “propaganda” kosong dan sesat yang dilakukan pihak “sabrang”. Ini jelas menjadi tantangan paling berat, karena dilakukan “pasukan” bayaran yang menguasai teknologi internet dan sering digunakan tokoh “fenomenal” belakangan ini.

Tantangan berat bagi sebagian elemen masyarakat adat seperti Pakasa di cabang-cabang yang tersebar di berbagai daerah. Karena, banyak di kalangan warga Pakasa cabang, berasal dari segmen masyarakat menengah ke bawah yang belum begitu memahami teknologi informasi dan penyimpangan-penyimpangan pesannya. Ini memang perlu dimaklumi, karena seleksi rekrutmen warga Pakasa sangat longgar.

TUGAS MULIA : Di saat arak-arakan prosesi hajad-dalem “Malem Selikuran” yang mengelilingi Baluwarti hampir tiba di halaman Kamandungan, KRRA Panembahan Didik Gilingwesi masih menjalankan “tugas mulia mengendalikan” hujan, Senin malam. (foto : iMNews.id/Dok)

Namun seiring perjalanan waktu, tantangan berat itu sepertinya bisa diatasi oleh cara-cara mereduksi gayung-bersambut para pimpinan yang menjadi panutan mereka masing-masing. Terlebih, masih ada celah ruang berpikir jernih, atau setidaknya ada pihak yang selalu aktif menciptakan “ruang sehat”, untuk mengajak berpikir “rasional” kalangan warga elemen yang paling banyak jumlah anggotanya itu.

Membimbing untuk memahami secara rasional pesan-pesan melalui teknologi internet (platform medsos) yang membanjir belakangan ini, adalah keberhasilan tersendiri yang terjadi di dalam proses pergantian tahta yang panas di tahun 2025-2026 ini. Keberhasilan ini bisa dibuktikan melalui pisowanan upacara adat “Malem Selikuran” perdana di era tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang digelar Senin (9/3) lalu.

Melalui kesempatan ritual perdana di bulan Ramadan Tahun 1447 H (21 Pasa Tahun Dal 1959), bisa dilihat bagaimana dukungan warga elemen Pakasa tidak goyah, tetap kuat bahkan semakin bersemangat. Walau sempat goyah ketika memahami sesatnya banjir informasi di medsos, tetapi tetap kokoh dalam mendukung sumber kiblat budayanya. Faktanya, sekitar 2 ribu warga hadir di Masjid Agung, Senin malam itu.

Kekuatan pendukung Sinuhun PB XIV Hangabehi yang diorganisasi melalui beberapa kanal, karena jumlahnya banyak dan paling besar jumlah warganya yang mencapai belasan ribu. Terutama kanal Pakasa yang memiliki cabang di berbagai daerah luas lintas provinsi. Masih ditambah kanal Pasipamarta dan Sanggar Pasinaon Pambiwara. Kanal berbagai bregada prajurit milik kraton, juga punya daya dukung kuat.

ABDI-DALEM KANCA-KAJI : Sejumlah utusan abdi-dalem “Kanca-Kaji” dari berbagai cabang Pakasa, selalu memperkuat posisi RT Irawan Wijaya Pujodipuro bersama abdi-dalem ulama saat memandu donga wilujengan hajad-dalem “Malem Selikuran”. (foto : iMNews.id/Dok)

Penulis tak sempat bertemu dengan semua perwakilan cabang Pakasa, karena begitu banyaknya wajah baru ataupun lama yang belum sempat dikenal baik. Tetapi, lima  pimpinan cabang Pakasa dari wilayah Jatim seperti Ponorogo, Ngawi, Trenggalek, Nganjuk dan Pacitan tampak di Masjid Agung. Begitu pula pimpinan Pakasa Kudus, Pati, Magelang dan utusan Pakasa Jepara, Tegal dan Grobogan juga tampak “sowan”.

Pakasa Cabang Boyolali, Klaten, Karanganyar dan Sragen ditambah Ngawi, memang lebih sering mengirim utusan yang mendukung pasukan “Semut Ireng”, karena upacara adat kolosal seperti “Malem Selikuran” butuh dukungan “gotong-royong”. Selaku Korlap, KRMH Suryo Kusumo Wibowo selalu menanti inisiatif Pakasa, untuk mengusung uba-rampe wilujengan (jodang dan joli) keliling Baluwarti, maupun menuju masjid.

Penguatan pasukan “Kanca-Kaji” malam itu, berasal dari Pakasa Jepara, Pati, Kudus dan Kabupaten Madiun (KRT Ahmad Faruq Reksobudoyo). Begitu pula pasukan “Semut Ireng”, juga berasal dari Pakasa. Untuk mengusung uba-rampe wilujengan, sangat butuh tenaga kolosal “bergotong-royong”. Sejumlah jodang dan joli berisi nasi “wuduk” (gurih) dan ingkung (lauk), harus diusung dari kraton menuju masjid.

Di peristiwa dukungan legitimatif warga Pakasa pada “Malem Selikuran” perdana di era Sinuhun PB XIV Hangabehi malam itu, adalah pemandangan fenomenal Ketua Pakasa Cabang Kudus, kembali menjalankan “tugas”. Yaitu “tugas” sebagai pawang hujan yang diberikan Pakasa Punjer kepada diri dan timnya. Maka, ketika semua barisan keluar dari Kori Kamandungan dan mulai bergerak, Ketua Pakasa Kudus tetap “diam”.

PAKASA PACITAN : Dukungan abdi-dalem Pakasa Cabang Pacitan juga tak pernah putus saat Kraton Mataram Surakarta menggelar upacara adat. Apalagi pada momentum hajad-dalem “Malem Selikuran” perdana di era Sinuhun PB XIV Hangabehi 2026 ini.(foto : iMNews.id/Dok)

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus) tampak tetap “diam” di ujung “topengan” Kori Kamandungan Lor, sambil mengacungkan sebilah keris ke atas (langit). Karena, rintik hujan sudah terasa semakin meningkat saat pemberangkatan prosesi kirab membawa uba-rampe wilujengan halaman Bangsal Marcukunda, malam itu. “Tugas mulia” rutin, kembali diemban Pakasa Kudus.

“Ya, itu tugas dan amanah yang diberikan kepada kami, Pakasa Kudus. Kami dengan senang hati menjalankan tugas itu. Dan hasilnya, sampai prosesi selesai berkeliling Baluwarti dan sampai di Masjid Agung, hanya berimis tipis saja. Sampai seluruh upacara Malem Selikuran selesai, juga hanya gerimis,” ujar KRRA Panembahan Didik Gilingwesi, menjawab pertanyaan saat sampai di Masjid Agung.

Ketua Pakasa Cabang Kudus itu sampai di Masjid Agung dan bergabung di barisan “Kanca-Kaji” yang paling akhir. Karena, tugas sebagai “pawang hujan” mengharuskan dirinya tidak boleh ikut kirab, tetapi harus “diam” di tempat sebagai bentuk tanggung-jawab “mengatasi” potensi hujan. Maka, dari 17 orang rombongan Pakasa Kudus yang dibawa, semua sudah sampai di masjid, tetapi dirinya paling belakang.

“Saya mendapat pinjaman keris pusaka singkir “Maruta Bayu Tirta”. Ini beda lagi dari yang saya pinjam saat HUT Pakasa, Desember lalu (2025). Dari mulai start sampai finish dan menuju Masjid Agung, hanya gerimis tipis saja. Bahkan sampai upacara adat di Masjid Agung selesai, juga tidak turun hujan. Alhamdulillah, penyuwunan kita dikabulkan,” ujar Ketua Pamong Makam Kyai Glongsor itu.

SELALU BERSEMANGAT : Warga “Kanca-Kaji” Pakasa Cabang Jepara dan pimpinan Pakasa Cabang Ponorogo, juga selalu mencerminkan semangat warga elemen Pakasa dalam mendukung perjalanan kraton yang memasuki era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini. (foto : iMNews.id/Dok)

Dari sisi dukungan legitimatif berbagai elemen masyarakat adat terutama Pakasa, sudah terbukti tidak perlu diragukan lagi bagi Bebadan Kabinet 2004, Lembaga Dewan Adat maupun jumeneng-dalem Sinuhun PB XIV Hangabehi. Semua memperlihatkan kesungguhannya mendukung pemimpin yang sudah kelihatan komitmennya, ingin membawa Kraton Mataram Surakarta kembali punya harkat dan martabat serta berwibawa.

Selain itu, berbagai elemen masyarakat adat khususnya Pakasa, kini juga sedang menggagas untuk “bergotong-royong mendapatkan “Kembang Wijayakusuma”, sebagai syarat spiritual untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi. Dukungan penuh diberikan, karena pemimpin baru Mataram Surakarta itu sudah membuktikan sebagai pecinta/pelestari Budaya Jawa dan meyakinkan sebagai penjaga lestarinya kraton hingga akhir zaman. (Won Poerwono – bersambung/i1)