Libatkan Personel TNI, Untuk Persiapan Calon Objek Kunjungan Baru
SURAKARTA, iMNews.id – Pepatah yang sering terdengar dan menjadi klise, berbunyi “Tidak semudah membalik telapak tangan”. Agaknya ada benarnya dari sisi proses waktu yang dibutuhkan, ketika menyaksikan apa yang sedang terjadi di “Kraton Kulon”, berkait dengan “doa” dan “harapan” Gusti Moeng. Karena, pepatah itu berubah menjadi “Pelan-pelan tapi pasti. Telapak tangan bisa terbalik”.
Pepatah yang tidak lazim itu benar-benar terjadi dan dialami Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertiyah). Karena, ucapan (doa dan harapan) Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang diucapkan Januari 2023 itu, kini mendekati kenyataan, hampir terwujud. Butuh proses waktu sekitar tiga tahun untuk membalik telapak tangan, walaupun memang benar-benar tidak mudah mewujudkannya.

Mulai pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB (Rabu, 11/3), ada 100-an orang dari beberapa elemen terlibat kerja-bhakti “babat-babat alas” di lokasi sekitar “Kraton Kulon”. Lingkungan kraton di bagian barat yang sudah bertahun-tahun menjadi mirip “hutan belantara” (alas-Red) dibersihkan. Hari ini adalah hari kedua setelah dimulai Selasa (10/3), dan berakhir di hari ketiga, Kamis (12/3).
“Jadi, hari ini adalah hari kedua kerja-bhakti. Yang terlibat ada sekitar 100 personel TNI, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jateng-DIY, abdi-dalem prajurit, Kebon-Darat dan Senapati Mataram. Kerja-bhakti babat-babat alas dimulai Selasa (10/3) kemarin. Besok, Kamis (12/3) berakhir. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengukuran ruang lokasi yang akan direvitalisasi,” ujar KRMH Suryo Kusumo.

KRMH Suryo Kusumo Wibowo adalah unsur sentana-dalem atau wayah-dalem Sinuhun PB XII, yang aktif terlibat kerja bhakti sejak hari pertama bersama KPH Bimo Djoyo Adilogo, KRMH Boby Suryo Manikmoyo dan BRM Suryo Mulyo Saputro. KPH Edy Wirabhumi , Gusti Moeng dan beberapa sentana-dalem ikut mengawali di hari pertama kemarin. Sisi timur dari lokasi yang dibabat hari ini, dua tahun lalu sempat dibersihkan.
Dalam berbagai kesempatan, Gusti Moeng menyatakan, kawasan Kraton Kulon yang dalam tiga hari ini dibabat semak-belukar dan pepohonan liarnya, luasnya sekitar 1 hektare. Ketika itu selalu disebut-sebut layak menjadi objek kunjungan baru bagi wisatawan umum, selain museum dan lokasi terbatas di halaman Pendapa sasana Sewaka. Karena objek di Kraton Kulon, lebih banyak bangunan yang “bermakna”.

Saat kerja-bhakti “resik-resik” kawasan Kraton Kulon Januari 2023, Gusti Moeng menyebut kawasan Kraton Kulon banyak bangunan bersejarah dan punya banyak makna yang bagus untuk kunjungan edukatif, perlu segera mendapat perhatian. Kawasan itu adalah bagian lain dari kawasan kraton, yang sudah “dikerja-bhaktikan” dalam serangkaian kegiatan bersih-bersih oleh berbagai elemen antara 2017-2022.
Dalam berbagai kesempatan dan penjelasannya melalui Tik-Tok yang beredar di medsos belum lama ini, Gusti Moeng kembali menyebut bahwa kawasan Kraton Kulon akan segera direvitalisasi. Dari sekitar 3 tahun lalu hanya menjadi doa dan harapan, belum lama ini Kemenbud RI menyetujui revitalisasi. D saat penyerahan SK BPK beberapa waktu lalu, Menbud Fadli Zon sempat di antar meninjau Kraton Kulon.

“Ini merupakan bagian dari yang dulu pernah mau digunakan untuk hotel. Dari peristiwa itu saya diberi julukan Puteri Mbalela. Karena saya dianggap berani menentang sabda Bapak Sinuhun (PB XII), yang mengizinkan seorang investor untuk membangun hotel di dalam kawasan kraton. Saya menentang rencana itu, dan akhirnya batal. Kalau saya tidak menentang, kraton sekarang mungkin sudah jadi hotel”.
“Rencananya waktu itu, di kawasan Pendapa magangan sana, akan dijadikan lobi hotel. Luasnya 3,5 hektare. Meliputi Tursinapuri, Panti Rukmi, Panti Lurah hingga Bangsal Keputren. Coba gimana kalau saya tidak menentang. Walaupun saya disebut sebagai Putri Mbalela, tetapi kraton tetap lestari hingga sekarang. Meskipun kondisinya memerihatinkan,” ujar Gusti Moeng dalam berbagai kesempatan.

Seperti disebut dalam beberapa kesempatan pidato sambutan khususnya di lingkungan kraton, Gusti Moeng mengaku bahwa di tahun 1992 pernah ada rencana pembangunan hotel di dalam kawasan sakral “kedhaton”. Luas lokasi yang akan digunakan mencapai 3,5 hektare, meliputi beberapa kawasan bangunan di dalamnya. Tetapi rencana itu batal karena dia tentang, hingga diberi sebutan “Puteri Mbalela”.
Begitu Bebadan Kabinet 2004 bisa kembali bekerja di dalam kraton melalui peristiwa “Insiden Gusti Moeng Kondur Ngedhaton”, 17 Desember 2022, tercetus ide menjadikan kawasan “Kraton Kulon” sebagai objek baru kunjungan wisatawan umum. Apalagi, di bulan Januari 2023 diadakan kerja-bhakti resik-resik sampai kawasan itu, termasuk Panti Rukmi atau sisi timur lokasi yang “dikerja-bhaktikan” hari ini.

Dalam dua hari sampai Rabu (11/3) siang tadi, kerja-bhakti yang dilakukan 100-an orang dari berbagai elemen, secara khusus membersihkan lokasi lingkungan Kraton Kulon yang beririsan dengan 3,5 Hektare lokasi calon hotel. Di kawasan seluas 1 hektare itu, sampai tiga hari besok dilakukan “babat-babat alas”, karena akan direvitalisasi sebagai kawasan baru objek kunjungan wisata melalui pintu masuk barat.
Gusti Moeng berharap, objek kunjungan di kraton akan lebih luas lagi setelah kawasan Kraton Kulon selesai direvitalisasi Kemenbud RI. Kini hanya museum dan koleksi seisinya, ditambah pemandangan view sebagian bangunan kraton sampai halaman Pendapa Sasana Sewaka sebagai “konsumsi” wisata umum. Kelak, akan ada tambahan atau perluasan objek kunjungan sampai di kawasan Kraton Kulon.

Di awal tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi ini, Kraton Mataram Surakarta benar-benar “merasakan” kehadiran negara. Karena, Kemenbud RI sangat pro-aktif membantu kraton, terutama melalui program revitalisasi kraton-kraton di Nusantara yang jumlahnya 15 lembaga kraton. Revitalisasi yang sudah merampungkan menara Panggung Sangga Buwana dan memasuki tahap dua museum kraton ini, dinilai sangat membantu.
Bantuan pemerintah melalui SKB tiga menteri yang dipimpin Menbud Fadli Zon, dinilai Gusti Moeng sangat memberdayakan kraton. Kelancaran pelaksanaan bantuan revitalisasi itu tidak lepas dari peran Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan yang ditunjuk sebagai pelaksana dan penanggungjawab BPK. Kehadiran TNI kali ini, dinilai benar-benar positif dan konstruktif, karena terlibat dalam kerja-bhakti. (won-i1)
