Besok Malam, Bebadan Kabinet 2004 Gelar Kirab Hajad-dalem Malem Selikuran

  • Post author:
  • Post published:March 8, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:3 mins read
You are currently viewing Besok Malam, Bebadan Kabinet 2004 Gelar Kirab Hajad-dalem Malem Selikuran
DUA JOLI : Dua "joli" berisi "uba-rampe hajad-dalem Malem Selikuran", diusung dari halaman Bangsal Marcukunda menuju Masjid Agung. Prosesi arak-arakan serupa, pada bulan Pasa Tahun Dal 1959 (2026) ini besok malam juga akan digelar. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Keliling Jalan Lingkar Baluwarti Sebelum Menuju Masjid Agung

SURAKARTA, IMNews.id – Besok malam (Senin Kliwon, 9/3/2026), Bebadan Kabinet 2004 menggelar upacara adat hajad-dalem “Malem Selikuran” untuk memperingati”Turunnya Wahyu Illahi” atau “Lailathul Qodar” Tahun Dal 1959. “Dhawuh pisowanan” sudah disebar ke semua elemen masyarakat adat, termasuk warga Pakasa di berbagai daerah, agar mengirim utusan untuk menghadiri ritual di bulan Ramadan 1447 H ini.

Selain disebarluaskan melalui WA grup berbagai elemen masyarakat adat di lingkungan Kraton Mataram Surakarta, rencana upacara adat “Malem Selikuran” juga sudah diberitahukan secara langsung/tidak langsung. Yaitu melalui kesempatan saat Bebadan Kabinet 2004 menggelar ritual “khol” peringatan wafat 8 tokoh “Pejuang Paugeran Adat” yang berlangsung di Bangsal Smarakata (iMNews.id, Jumat-6/3).

WARNA-WARNI : Nyala “ting” (lentera) warna-warni yang melukiskan suasana “Malam Seribu Bintang” atau “Lailathul Qodar” pada ritual “Malem Selikuran” tahun lalu, tampak indah memasuki Masjid Agung. Besok malam, ritual serupa juga digelar. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam surat “dhawuh” yang ditandatangani GKR Koes Moeriyah Wandansari (Gusti Moeng) selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA melalui Pengageng Karti Praja, diharapkan semua abdi-dalem hadir dalam “pisowanan” upacara adat “hajad-dalem Malem Selikuran”. Semua diharapkan berkumpul di Bangsal Smarakata pukul 20.00 WIB, karena prosesi arak-arakan akan dimulai dari halaman Bangsal Marcukunda.

Setelah dilepas dari halaman depan Bangsal Marcukunda, prosesi arak-arakan yang membawa sepasang joli berisi hajad-dalem dan lentera simbol Sri Radya Laksana, akan berkeliling jalan lingkar dalam Baluwarti kira-kira sejauh 1,2 KM. Prosesi akan dipandu beberapa Bregada Prajurit, di antaranya dan Korsik Drumband Prajurit Tamtama. Selain uba-rampe hajad-dalem, prosesi juga diikuti berbagai elemen.

NGALAB BERKAH : Kalangan warga masyarakat adat dari berbagai elemen yang hadir, menunggu selesainya doa ritual “Malem Selikuran” berakhir, lalu bersama-sama “ngalab berkah”. Suasana seperti itu, Senin malam besok juga kembali digelar. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di antara beberapa elemen itu, grup musik hadrah yang biasanya diperkuat dari para santri berbagai daerah seperti dari sekitar makam Ki Ageng Selo, Kabupaten Grobogan. Grup Santiswaran Kraton Mataram Surakarta juga mendapat “dhawuh” untuk tampil, tetapi belum ditentukan ikut prosesi keliling atau hanya saat di kagungan-dalem Masjid Agung. Ting (lentera) dan “oncor (obor), jelas memperkuat.

“Pawai Ting” warna-warni dan “oncor” yang menjadi cirikhas ritual “Malem Selikuran”, adalah melukiskan saat Nabi Muhammad SAW turun dari gunung Jabal Nur setelah mendapatkan Wahyu Illahi. Masyarakat menyambut kedatangannya dengan menerangi sepanjang jalan yang dilalui menggunakan pelita dan obor. Upacara adat religi yang menjadi tradisi kraton, digelar tiap tanggal 20 malam (kalender Jawa/Hijriyah).

DIPIMPIN GUSTI MOENG : Sampai tahun lalu, Gusti Moeng masih memimpin jalannya upacara adat hajad-dalem “Malem Selikuran”. Senin malam besok, pimpinan Bebadan Kabinet 2004 juga memimpin upacara adat menyambut “Turunnya Wahyu Illahi” itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Setelah keliling jalan lingkat Baluwarti, prosesi arak-arakan akan menuju kagungan-dalem Masjid Agung. Di masjid, uba-rampe peringatan “Malam Seribu Bintang” akan didoakan lalu dinikmati bersama-sama. Isi kedua joli berupa nasi gurih dan lauk “ingkung” dan “sega golong”, akan dibagi-bagikan kepada semua yang hadir. Beberapa tahun lalu, ritual serupa juga “diduplikasi” di Taman Sriwedari.

SARASEHAN KUNGKUM : Sarasehan membahas sejarah “Kraton Pengging” untuk mengantar tradisi “kungkum” sebagai laku spiritual kebatinan atau meditasi. Kegiatan yang diorganisasi BRAy Arum Kusumopradopo, Sabtu malam (7/3), menghadirkan Ki Dr Purwadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, Sabtu malam (7/3), kraton juga menggelar sarasehan tentang meditasi “kungkum” di Umbul Ngabean, Pengging, Banyudono, Boyolali. Kegiatan yang diorganisasi BRAy Arum Kusumopradopo itu diikuti sekitar 20 orang, berlangsung di plataran “umbul”. Tampil sebagai pengantar sarasehan, Ketua Lokantara Pusat (Jogja) Ki Dr Purwadi, yang mengupas sejarah Pengging sejak zaman Majapahit. (won-i1)