Keris Kiai Carubuk Bersama 4 Pusaka Lain Rutin Dijamasi Tiap Tahun
SURAKARTA, iMNews.id – Kraton Mataram Surakarta siap mendukung dan bekerjasama dengan pamong makam Sunan Kudus, dalam menyelenggarakan jamasan pusaka-pusaka Sunan Kudus dengan tatacara adat kraton. Kraton punya sejarah panjang tradisi jamasan pusaka peninggalan Wali Sanga dan Kraton Demak yang tersimpan di Masjid Demak. Namun, kerja-sama dengan kraton dalam 1 dekade terakhir itu tak berlanjut.
“Boleh dan sangat bisa, jamasan pusaka Sunan Kudus dilakukan dengan tatacara adat kraton. Itu lebih bagus. Karena malah menjadi sarana mengeratkan ikatan kekeluargaan antara keluarga besar Sunan Kudus dengan keluarga besar Mataram Surakarta. Jangankan hanya abon-abon uba-rampe jamasan, kraton bisa mengirim utusan-dalem untuk bersama-sama melakukan ritual tradisi itu,” ujar Gusti Moeng.

Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertiyah) selaku Pengageng Sasana Wilapa juga Pangarsa LDA menegaskan hal itu, menjawab pertanyaan iMNews.id di Bangsal Smarakata, Jumat (6/3) petang. Di tempat itu, Bebadan Kabinet 2004 sedang menggelar “khol” (haul) peringatan wafat 8 tokoh “Pejuang Paugeran Adat”. Ritual itu dihadiri sekitar 150 kerabat terutama dari 8 tokoh itu dan jajaran Bebadan.
Sementara itu, sebelumnya (iMNews.id, 5/3/2026) KRRA Panembahan Didik Gilingwesi (Ketua Pakasa Cabang Kudus) mengungkapkan, dirinya telah mendapat kunjungan Gus Ova utusan pamong makam Sunan Kudus. Inti pembicaraan, pamong makam mengajak Pakasa Cabang Kudus “sowan” ke kraton, karena punya gagasan akan menggelar jamasan pusaka bekerjasama dengan kraton, khususnya dalam tatacara adat jamasan.

Lebih lanjut, menanggapi ungkapan gagasan pamong makam Sunan Kudus bersama Pakasa Cabang Kudus, Gusti Moeng menunggu proses lebih lanjut, misalnya jika ada yang mau ke kraton untuk membahas soal itu. Pihaknya siap untuk menerima kehadiran utusan itu setiap saat. Tetapi disarankan sebaiknya kontak lebih dahulu untuk menjadwalkan pertemuan, mengingat di bulan Ramadan masing-masing punya kesibukan.
“Kalau mau ke sini, kontak dulu saja untuk janjian. Kita cari waktu yang sama-sama longgar. Intinya, kraton siap bekerjasama. Itu ide yang baik. La wong ibunya Sinuhun PB II, faktanya ‘kan puteri Adipati Tirtakusuma, trah darah-dalem Sunan Kudus. Itu tidak bisa ditutup-tutupi,” ujar Gusti Moeng. Jauh sebelumnya pernah dikatakan, dalam soal jamasan, dulu kraton rutin ke Demak, tetapi sudah putus.

Semalam, KRRA Panembahan Didik Gilingwesi yang dihubungi iMNews.id setelah Gusti Moeng menyatakan kraton terbuka untuk kerjasama itu, pihaknya akan menyampaikan kabar ini kepada pamong makam. Namun secara sepihak, Pakasa Cabang Kudus merasa senang gagasan pamong makam Sunan Kudus direspon positif oleh kraton. Bahkan Gusti Moeng menunggu tindak-lanjut berupa pembicaraan serius soal rencana itu.
“Kabar ini membuat Pakasa Kudus ikut gembira. Akan segera kami sampaikan kepada Gus Ova selaku utusan pamong makam. Mudah-mudahan perkembangan ini segera ditindaklanjuti sampai ke proses selanjutnya, sowan bersama-sama ke kraton. Bagaimanapun, gagasan ini adalah sarana rasional yang bisa menyambung ikatan antara keluarga besar keturunan Sunan Kudus dengan Mataram Surakarta,” ujarnya.

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro itu mengakui, dirinya adalah salah satu trah keturunan darah-dalem Sunan Kudus dari garis Panembahan Makaos (Mangaos). Tetapi juga punya darah keturunan KRT Prana Kusumadjati yang dikenal dengan Kyai Glongsor dan memiliki nama trah “Alap-alap Gilingwesi”. Di sisi lain lagi, dalam dirinya juga mengalir darah keturunan/trah Sinuhun PB X.
Tokoh “representasi” hubungan keluarga keturunan Sunan Kudus dan Mataram Surakarta yang menjabat Ketua Pakasa Cabang Kudus itu juga menyebutkan, mengenai gagasan jamasan pusaka Sunan Kudus, dirinya masih mengingat referensi soal itu. Menurutnya, tokoh Wali Sanga ini diyakini punya pusaka banyak, tetapi selama ini nyaris tidak pernah tampak ke permukaan, karena dirawat keluarga keturunannya.

“Yang saya tahu, ya yang sering dijamasi tiap habis pelaksanaan perayaan Idhul Adha. Yaitu ada lima buah. Tetapi sebenarnya ada banyak. Hanya tak pernah tampak ke permukaan atau diperlihatkan kepada publik. Karena, memang pada dirawat keluarga keturunan Sunan Kudus. Jamasannya, ya sekitar tiga hari setelah perayaan Idhul Adha, berurutan/bersamaan dengan bagi-bagi daging kerbau itu”.
“Orang luar tidak boleh merekam (foto/video) pusaka Sunan Kudus yang dijamas. Tetapi, ada brosur yang memperlihatkan salah satunya berupa keris. La, keris dalam brisur event jamasan itu yang bernama Kiai Carubuk atau Kiai Cintaka, saya tidak tahu. Karena saya belum pernah menjadi pamong makam atau anggota yayasan, walau saya masih trah keturunan Sunan Kudus juga,” ujar Ketua Pakasa Kudus itu.

Ketua Pamong Makam Kyai Glongsor Astana Pajimatan Desa Rendeng, Kecamatan Kota itu menyebutkan, lima pusaka yang sudah banyak diketahui publik itu adalah keris Kiai Carubuk, Kiai Cintaka, tombak Kiai Trisula, tombak Kiai Cakra dan pedang yang konon sudah ada bersama masuknya Islam ke tanah Jawa. Sedangkan dirinya mendapat pesan Sang Kakek agar merawat keris berbahan batu jenis “Bethok”.
Menurut pecinta karya tosan-aji ini, walau dirinya tidak aktif sebagai pamong makam atau yayasan pengurus Menara, Masjid dan Makam Sunan Kudus, tetapi akses informasi setiap kegiatan keadamaan di Menara Kudus selalu didapat. Dan, jamasan pusaka Sunan Kudus sudah sejak lama digelar rutin tiap tahun, yaitu tiap datang perayaan Idhul Adha, yang diikuti pembagian daging kerbau dan jamasan pusaka.

Pelaksanaan jamasan pusaka itu, dilakukan sesuai pengetahuan kalangan pamong makam atau pengurus yayasan. Tetapi, kelihatannya ada perubahan sikap dan perkembangan suasana di kalangan pengurus dan pamong, yang diduga karena banyak informasi mengenai peran kraton dalam berbagai upacara adat di daerah-daerah. Beberapa upacara adat itu adalah jamasan pusaka, haul, ziarah dan kirab budaya.
Jamasan pusaka, pernah lama berlangsung di Masjid Demak untuk menjamasi sejumlah pusaka peninggalan Kraton Demak yang disimpan pengurus yayasan makam/masjid. Tiap datang bulan Sura, ada rombongan utusan-dalem dari kraton yang ditugaskan untuk membawa abon-abon uba-rampe jamasan ke Masjid Demak. Namun tradisi yang dilakukan bersama kraton itu terhenti satu dekade lalu, karena event ini menjadi “rebutan”. (won-i1)
