“Kirab Nyadran” Adipati Tjakra Adiningrat Resmi Jadi Kalender Event

  • Post author:
  • Post published:February 18, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing “Kirab Nyadran” Adipati Tjakra Adiningrat Resmi Jadi Kalender Event
KOMPLEKS MAKAM : Ketika kali pertama dikunjungi dalam ekspedisi pencarian sekaligus ziarah yang dilakukan Gusti Moeng bersama rombongan dari Kraton Mataram Surakarta di tahun 2018. Makam Adipati Tjakra Adiningrat di dalam kompleks Astana Pajimatan saat kali pertama dilihat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seakan Menjadi Karya, “Menyambut Tampilnya” Sinuhun PB XIV Hangabehi

IMNEWS.ID – SALAH satu manfaat nyata aktivitas seni-budaya (Jawa) yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta, akhirnya diterima dan mendapat pengakuan. Pemkab Pamekasan (Madura) berharap, seluruh elemen masyarakat mendukung upacara adat kirab “nyadran” Adipati Tjakra Adiningrat, menjadi kalender event yang mulai dilaksanakan tahun 2026 ini.

Kebahagiaan dan kebanggaan tentu tidak hanya dirasakan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Pamekasan, Jatim itu. Karena, dalam upacara pelepasan kirab yang digelar di rumah dinas Wakil Bupati H Sukriyanto, dalam sambutannya Bupati Pamekasan Dr KH Kholilurrahman SH MSi berniat menjadikan ritual dan kirab itu sebagai kalender event tetap dan rutin tiap tahun.

“Kami juga tentu senang sekali, kalau upacara adat untuk memuliakan leluhur eyang Adipati Tjakra Adiningrat ini dijadikan kalender event pariwisata, rutin tiap tahun dan didukung penuh semua elemen masyarakat Kabupaten Pamekasan. Ini berarti, para leluhur kita meninggalkan sesuatu yang memberi banyak manfaat kepada kita,” ujar Gusti Moeng.

GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) memberi penjelasan mengenai inti kegiatan ritual, juga kaitan latar-belakang sejarahnya dengan Kraton Mataram Surakarta, ketika ditanya beberapa wartawan di lokasi start kirab, rumah dinas Wakil Bupati Pamekasan, Senin (16/2). Gusti Moeng membawa rombongan dari kraton 65 orang terdiri dari berbagai elemen.

KUNJUNGAN BUDAYA : Kunjungan budaya sekaligus kunjungan silaturahmi dilakukan Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin Gusti Moeng, saat diterima Pemkab Pamekasan dalam sebuah acara penyambutan di Pendapa kabupaten Pamekasan tahun 2020. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Iya, ini merupakan tahun kelima (bukan keenam-Red) kami mengadakan kirab untuk Nyadran eyang Adipati Tjakra Adiningrat. Beliau adalah mertua Sinuhun PB IV. Dua putrinya yaitu KR Handaya dan KR Sakaptinah, dijadikan permaisuri oleh Sinuhun PB IV. Yang pertama melahirkan Sinuhun PB V, yang kedua melahirkan PB VII dan VIII. Jadi, kami ini punya darah Madura”.

“Adipati Tjakradiningrat adalah keturunan Adipati Ronggosukowati. Tjakra Adiningrat itu bukan Tjakradiningrat lo. Beda. Karena, kalau Tjakradiningarat dari (Kabupaten) Bangkalan. Dari PB IV melahirkan PB V yang melahirkan PB VI. Disela dua kakak PB V yang jadi PB VII dan PB VIII, lalu diteruskan putra PB VI yang jadi PB IX sampai kini,” jelas Gusti Moeng.

Dalam wawancara itu, Gusti Moeng juga menjelaskan bahwa start kirab yang sudah berjalan lima kali dari kantor Bakorwil (bukan Dinas Kebudayaan-Red), mulai tahun 2026 ini pindah dari kompleks rumah dinas Wakil Bupati Pamekasan. Pindahnya lokasi start, karena Pemkab mempersiapkan ritual itu menjadi kalender event pariwisata milik masyarakat Pamekasan.

“Kami juga senang. Karena Kraton Mataram Surakarta masih memberi manfaat bagi masyarakat luas. Sekarang, kirabnya tidak hanya rombongan dari kraton. Kami membawa Korsik Drumband Bregada Prajurit Tamtama, para sentana, abdi-dalem dan elemen lain. Pemkab melibatkan beberapa elemen masyarakat setempat. Startnya jadi agak jauh sedikit,” ujar Gusti Moeng.

MAKAM UMUM : Untuk menuju “cungkup” makam Adipati Ronggosukowati maupun “cungkup” makam Adipati Tjakra Adiningrat, harus melewati jalan setapak di tengah pemakaman umum yang menjadi satu kompleks di Astana Pajimatan Desa Kolpajung, Kecamatan Kota, Pamekasan itu.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Perihal rencana Pemkab menjadikan ritual “Nyadran” ke makam Adipati Tjakra Adiningrat di Astana Pajimatan Kolpajung, Kecamatan Kota, Kabupaten Pamekasan, disebut-sebut dalam sambutan Dr KH Kholilurrahman SH MSi saat melepas kirab. KPH Edy Wirabhumi yang ada dalam rombongan itu menyebutkan, elemen dari Kraton Sumenep dan Bangkalan juga ikut terlibat.

“Bahkan, ke depan semua elemen dari semua kabupaten di Madura akan ikut gabung dalam kirab”, ujar KPH Edy Wirabhumi. Dia juga menyebutkan, dalam upacara itu diserahkan naskah sejarah kepada Bupati Pamekasan. Menutup upacara, Wakil Bupati H Sukriyanto melepas barisan kirab yang dipandu Bregada Korsik Drumband Prajurit Tamtama untuk memulai bergerak.

Perjalanan kirab memakan waktu sekitar 30 menit, karena rutenya sedikit lebih jauh dari rute lama kompleks kantor Bakorwil yang dulunya adalah kantor Adipati Tjakra Adiningrat, Bupati Pamekasan di zaman Sinuhun PB IV. Karena peserta kirab sudah melibatkan beberapa elemen masyarakat setempat dan didukung Pemkab, warga yang menyaksikan juga semakin banyak.

Peristiwa budaya bernuansa spiritual religi yang punya potensi besar di bidang pariwisata ini, adalah kali pertama rintisan kalender event dan didukung Pemkab setempat. Sebelumnya, selama 5 tahun berturut-turut, kirab prosesi “Nyadran” ke kompleks Makam Adipati Ronggosukowati hanya didukung rombongan dari kraton plus komunitas budaya setempat.

MEMBERI NILAI : Hadirnya Bregada Korsik Drumband Prajurit Tamtama khas simbolik Kraton Mataram Surakarta, memberi bobot dan nilai ideal prosesi kirab “nyadran” di bulan “Ruwah” di makam Adipati Tjakra Adiningrat. Event itu layak menjadi milik Pamekasan, Madura. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gusti Moeng menyebut, perjalanan “Tout de Ruwah” untuk “nyadran” ke makam mertua Sinuhun PB IV yaitu Adipati Tjakara Adiningrat adalah agenda ziarah paling jauh yang selalu jatuh di akhir bulan Ruwah. Sebelumnya, “nyadran” sudah dilakukan di lokasi makam para tokoh leluhur Dinasti Mataram yang tersebar di wilayah lebih dekat dengan Kraton Mataram Surakarta.

Yaitu ke Astana Pajimatan Laweyan, tempat Ki Ageng Henis, KR Handaya (prameswari PB IV) dan para leluhur lain. Rangkaian ziarahnya ke beberapa lokasi makam di Pengging (Boyolali). Kemudian ke Sragen dan Karanganyar, satu perjalanan ke Astana Pajimatan Imogiri, Kutha Gedhe dan Banyusumurup, Ponorogo, Astana Pajimatan Tegalarum, Pati, Magelang dan Madura.

SUASANA BARU : Gusti Moeng saat “nyekar” di pusara Adipati Tjakra Adiningrat. Dia memimpin rombongan 65 orang, sebagai utusan-dalem Sinuhun PB XIV Hangabehi menjalankan tugas dalam suasana berbeda. Jadi event Pemkab, di saat pemimpin baru Kraton Mataram Surakarta “hadir”. (foto : iMNews.id/Dok)

Dalam siaran pers Kraton Mataram Surakarta, Gusti Moeng menyebut, bahwa pelaksanaan “Kirab Sadranan dan Napak Tilas” di Pamekasan adalah menjalankan tugas utusan-dalem Sinuhun PB XIV Hangabehi. Yaitu merupakan upaya menyambung kembali ikatan keluarga Dinasti Mataram Surakarta dengan Madura. Melalui “nyadran” itu, kraton ingin menegaskan kesinambungan keduanya.  

Fakta genealogis, peran trah Tjakra Adiningrat dalam suksesi tahta di Kraton Mataram Surakarta, sudah terjalin sejak abad 18, bahkan sebelumnya. Selain hubungan pernikahan,  hubungan kekeluargaan juga terwujud dalam karya tari “Srimpi Ludira Madu” oleh Sinuhun PB IV dan tari “Bedaya Dura Dasih” oleh Sinuhun PB V, untuk “mendokumentasi” hubungan itu. (won-i1)