Sebelum dan Sesudahnya Dihadang Hujan, Juga tak Gunakan Keris “Singkir”
KUDUS, iMNews.id – Senin (3/2/2026) semalam, warga Pakasa Cabang Kudus menggelar ritual “Nyadran” di makam luluhur trah Sunan Kudus, yaitu Kyai Glongsor atau KRT Prana Kusumadjati. Ritual “Ruwahan” itu ditandai dengan penggantian “luwur” atau “langse” (selubung) makam di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu.
Ada 64 warga Pakasa cabang yang hadir dalam “Nyadran” di bulan Ruwah Tahun Dal 1959 atau Sya’ban 1447 Hijriyah di tahun 2026 ini, yang dipimpin langsung KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus). Karena ruang makam sempit, lokasi doa digelar di makam dan kediaman ibunda Ketua Pakasa.
“Pengalaman saat buka luwur seminggu yang lalu, sebelum dan sesudah acara turun hujan deras. Padahal, yang hadir banyak. Tetapi, ruang cungkup makam memang kecil sekali. Hanya muat sekitar 10 orang. Yang kemarin, doanya di gang dekat makam. Saat Nyadran dan ganti luwur semalam, saya pindam rumah ibu, karena dekat”.

“Paling hanya 30-an meter dari makam. Masih sekampung, di Rendeng Timur Nalapraya, Desa Rendeng. Semalam juga hujan deras, sebelum dan sesudahnya. Tapi saya tidak cari pinjama keris ‘singkir’. Kalau pinjamnya mendadak, belum pasti boleh. Jaminannya cukup berat. Mobil saya harus ditinggal di sana,” ujar KRRA Panembahan.
Perihal keris “singkir” yang dua kali digunakan untuk sarana memohon agar hujan ditahan pada HUT Pakasa ke-93 dan 94 (2024 dan 2025) lalu, adalah milik orang berbeda yang dipinjam untuk alat pendukung tugas sebagai “pawang hujan”. Karena jaminan saat dipinjam cukup berat, untuk ritual “Nyadran” kali ini tidak pinjam.
KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro yang dihubungi iMNews.id siang tadi menjelaskan, untuk mengatasi hujan yang menghadang saat ritual buka “luwur”, Senin (26/1) dan ganti “luwur”, Senin (2/2), menempuh cara lain. Yaitu mengutus para santri Majelis Taklim miliknya untuk berdoa di masjid.

“Yang semalam juga begitu. Hujan deras. Tapi saya sengaja tidak cari pinjaman keris. Karena, jaminannya harus meninggal mobil yang sering saya pakai ke kraton itu. Dua pemilik keris ‘singkir’ itu tidak mau dibayar berapapun untuk sewa. Dan kalau cuma dua jam dipinjam lalu dikembalikan, mobil juga bisa langsung diambil”.
“Ini ‘kan waktunya singkat. Mobilnya juga dipakai untuk antar-jemput perlengkapan ritual dari rumah ke makam. Jadi, diatasi dengan doa saja. Wong ya dikabulkan. Semalam, sebelum acara dimulai pukul 19.00 WIB hujan deras. Setelah selesai pukul 21.00 WIB lebih, hujan lagi deras sekali,” tambah Ketua Pakasa Cabang Kudus itu.

Semalam, 64 warga Pakasa cabang yang hadir hampir semuanya langsung menuju kediaman ibunda KRRA Panembahan Didik Singonegoro, yaitu Nyi MT Hj Tarmini Budayaningtyas (85). Doa, tahlil dan dzikir berlangsung di kediaman ibundanya yang dipimpin langsung Ketua Pamong Makam dan Terompet Kyai Glongsor itu.
Tetapi disebutkn, ada beberapa yang ditugasi menyiapkan uba-tampe untuk ganti “luwur”, langsung ke makam. Di makam, doa juga dilakukan sebelum mengganti “luwur” yang baru, dan dipimpin langsung KRRA Panembahan Didik Singonegoro. Tak hanya langse makam yang diganti, tetapi juga bungkus songsong (payung) di dalam cungkup.

Hingga kini, warga Pakasa Cabang Kudus baru memiliki event andalan ritual ganti “luwur” dan jamasan makam Kyai Glongsor. Saat musim haul dan peringatan HUT RI, terompet pusaka Kyai Glongsor menjadi objek event kirab budaya. Dalam beberapa kali, event kirab “Mapag Wulan Siam” atau menyambut Ramadhan juga sudah dikenal luas.
Menurut Juru-Kunci II makam Pangeran Puger itu, dirinya belum bisa menindaklanjuti penemuan makam Adipati Tirtakusuma, Bupati Kudus di zaman Sinuhun Amangkurat IV. Karena, lokasi makam yang ada di kompleks kantor Dinas PU Pemkab Kudus itu sudah tak tampak. Padahal, tokoh itu adalah ayah KR Kentjana yang menurunkan Sinuhun PB II. (won-i1)
