Dirangkai Jamasan Terompet Pusaka di Makam Kyai Glongsor di Rendeng Wetan
KUDUS, iMNews.id – Dihadang hujan deras, Senin Pon (26/1) semalam, 59 warga Pakasa Cabang Kudus menggelar ritual “Buka Luwur” atau “Larap Langse” (buka selibung) makam Kyai Glongsor di Astana Pajimatan Rendeng Wetan, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Ritual itu digelar untuk menyambut bulan Ruwah Tahun Dal 1959.
“Semalam, pengurus bersama anggota memulai agenda di bulan Ruwah dengan Buka Luwur di makam Mbah (Kyai) Glongsor. Karena hujan deras sejak sebelum pukul 19.00 WIB, saya mengutus 15 orang warga untuk berdoa di masjid. Doa untuk minta hujan reda, dan dikabulkan,” ujar KRRA Panembahan Didik Singonegoro menjawab iMNews.id.

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) yang dimintai konfirmasi iMNews.id, Selasa (26/1) siang tadi menambahkan, ritual Buka Luwur digelar mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB dalam suasana dingin walau hujan sudah reda. Doa, dzikir dan tahlil digelar di luar makam karena ruang sempit.
Disebutkan, memasuki bulan Ruwah, Pakasa Cabang Kudus sejak terbentuk sekitar 5 tahun lalu rutin menggelar ritual “Buka Luwur” makam tokoh leluhur trah keturunan Sunan Kudus. Bersamaan ritual itu, juga dilakukan jamasan terhadap makam dan terompet pusaka peninggalan Kyai Glongsor atau KRT Prana Kusumadjati.

Karena semalam bersamaan ada dua orang dari keluarga dekatnya yang meninggal, sehabis memimpin doa dan tahlil, KRRA Panembahan Didik Singonegoro dan keluarga kecilnya melayat. Lokasi famili yang meninggal dekat kompleks makam di Kampung Rendeng Wetan, Desa Rendeng yang tidak jauh dari pabrik gula terkenal PG Rendeng.
Selain itu, lingkungan makam mantan tokoh prajurit pengawal sejak zaman Sinuhun Amangkurat Jawi hingga Sinuhun PB II di Kraton Mataram Kartasura itu, juga dekat sekali dengan kediaman beberapa saudara dekat KRRA Panembahan Didik. Termasuk rumah ibundanya, Nyi MT Hj Tarmini Budayaningtyas dan lokasi makam Kyai Glongsor.

Semalam, selubung atau “luwur” makam dilepas dan Selasa (2/2) akan diganti baru atau “Ganti Luwuer” bersamaan dengan ritual “Nyadran”. Setelah “Nyadran” ke berbagai lokasi makam yang berkait dengan keluarga besar trah Sunan Kudus, berlanjut dengan gelar tradisi “Mapag Wulan Siam” berupa ritual dan kirab budaya.
“Kami sudah merencanakan, kalau ada dana yang cukup, ritual Mapag Wulan Siam akan kami libatkan sekitar 1.000 orang. Dan, kami akan ngaturi rawuh Sinuhun PB XIV Hangabehi, seperti tahun 2024. Tetapi kalau dananya tidak cukup, ya hanya wilujengan mengumpulkan sekitar 200 orang saja,” ujar KRRA Panembahan Didik.

Perihal doa meminta hujan reda, Ketua Pakasa Cabang Kudus yang juga Ketua Pengurus Makam dan Pusaka Terompet Kyai Glongsor itu menyebut hanya meminta 15 warganya berdoa saja di masjid. Dia mengaku tidak perlu mengeluarkan pusaka “singkir” berupa keris jumbo dan standar, seperti yang dibawa ke acara HUT Pakasa 2025.
Pakasa Cabang Kudus yang dipimpin KRRA Panembahan Didik Singonegoro belakangan semakin dikenal sebagai cabang Pakasa yang selalu mendapat tugas sebagai “pawang hujan”. Dan faktanya, setidaknya pada event HUT Pakasa tahun 2024 dan 2025, puncak acara berupa kirab budaya terbebas dari hujan karena doa dan keris “singkir”. (won-i1)
