Era Baru Perjalanan Kraton Mataram Surakarta, Mengikuti “Irama” Republik (seri 2 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:January 26, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Era Baru Perjalanan Kraton Mataram Surakarta, Mengikuti “Irama” Republik (seri 2 – bersambung)
JATUH-BANGUN : Gusti Moeng jatuh-bangun berjuang bersama seluruh elemen masyarakat adat di bawah Bebadan Kabinet 2004 dan LDA, sedang "melawan" kesewenangan dalam "insiden mirip operasi militer" (IMOM) 2017 yang berinfiltrasi melalui PB XIII. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Insiden 2017 “Melahirkan” Ontran-ontran “Raja Kembar Kedua” Tahun 2025.

IMNEWS.ID – PERKEMBANGAN situasi dan kondisi akibat langsung dan ekses negatif dari persaingan tahta antara dua tokoh “keturunan” Sinuhun PB XIII, pelan-pelan mulai keluar dari “gelanggangnya”. Medan “persaingan” (perlawanan) bergeser dari “habitatnya” (lokasi riil), karena sengaja dibawa keluar salah satu di antaranya.

Pergeseran medan “pertempuran” itu bukan untuk mencari lokasi bidik atau strategi memperluas gelanggang untuk memenangkan pertempuran, tetapi karena beberapa faktor lain. Salah satu faktor itu adalah posisi yang makin terdorong keluar gelanggang dan terpojok di luar arena, akibat beberapa persoalan dari luar mulai bermunculan.

Kalau ibarat dalam peperangan riil, “habitat” di dalam kraton yang seharusnya menjadi benteng untuk melindungi dalam rangka bertahan atau menyerang, tak lagi disa “difungsikan” dengan baik. Karena pelan-pelan harus menghadapi beberapa “persoalan” di luar habitat, ruang terbuka yang ada terpaksa menjadi bentengnya.

BAGIAN EDUKASI : Perjuangan Gusti Moeng bersama Bebadan Kabinet 2004 dan seluruh elemen masyarakat adat, menjadi edukasi yang baik bagi KGPH Hangabehi yang selalu ikut mengawal setiap aksi “melawan” kesewenangan dalam IMOM 2017. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Salah satu “benteng” di ruang terbuka itu adalah plaform medsos, yang selama ini diandalkan kelompok pesaing alias kelompok “sebrang”, untuk “menyerang” sekaligus “bertahan”. Beruntun dan bertubi-tubi, “pesaing” atau “musuh” (ibarat perang-Red) yang dihadapi bergantian muncul, bertambah banyak dan berhadapan dengan publik.

Kini, yang dihadapi pesaing dari “sebrang” bertambah luas, karena serangan sebagai bentuk perlawannya melalui platform medsos atau dunia maya yang sudah “dihuni” jutaan orang “netizen”. Tak hanya itu, beberapa lembaga tinggi negara seperti Kemenbud, juga mulai pasang kuda-kuda karena sudah ada “ancaman” hendak digempur.

Kalau dianalisis lebih jauh, suasana yang sedang dihadapi Kraton Mataram Surakarta kini, mengindikasikan beberapa hal. Pertama indikasi masyarakat adat yang sudah berhasil “dibelah” oleh berbagai simbol modernitas, hingga sifat dan sikap dasarnya tergerus/tererosi. Kedua, terpengaruh arus irama politik rezim penguasa.

BASIS KEGIATAN : Kediaman Gusti Syu di ndalem Kayonan Baluwarti, menjadi basis kegiatan “pergerakan” melawan kesewenangan IMOM 2017. KPH Broto Adiningrat (alm) menjadi salah satu sentana yang keras menentang sikap Sinuhun PB XIII. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Akibat dari dua hal di atas, lahir indikasi ketiga yaitu suasana kelompok dari sebagian masyarakat adat yang memperlihatkan cara pandang, sikap, pikiran dan perilaku pribadi-pribadi yang pragmatis. Cirinya, hanya mengejar keuntungan pribadi, menghalalkan segala cara dan merendahkan standar etika publik dirinya.

Ketiga indikasi ini begitu menonjol kelihatan dalam sejumlah video tayangan aksi-aksi mereka di beberapa platform medsos pribadi, yang muncul sejak awal proses pergantian tahta. Media iMNews.id belum punya referensi secara khusus apakah beberapa indikasi di atas juga muncul di kalangan masyarakat adat kraton lain?

Meski data-data secara khusus dan spesifik belum ada, tetapi dari berita dan  informasi media selama Forum Komunikasi dan Informasi Kraton Nusantara (FKIKN) berkiprah hingga sebelum pandemi lalu, banyak melukiskan situasi dan kondisi rata-rata masyarakat adat kraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir yang “memilukan”.

DUKUNGAN MORAL : KPH Raditya Lintang Sasangka menjadi salah seorang sentana-dalem yang sempat hadir memberi dukungan moral kepada Gusti Moeng yang sedang berjuang bersama seluruh elemen masyarakat adat untuk melawan kesewenangan IMOM 2017. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Banyak anggota FKIKN (kini anggota DPP MAKN-Red), satu demi satu berjatuhan sejak memasuki era NKRI di tahun 1945. Meski juga banyak yang “jatuh” sebelumnya, bahkan ada yang mengalami tragedi mirip “genosida”. Dalam analisis iMNews.id, banyak korban akibat faktor lain, tetapi juga banyak nasibnya serupa Mataram Surakarta.

Dalam analisis itu pula, yang terjadi pada Kraton Mataram Surakarta sejak “ontran-ontran Raja-Kembar” 2004, “insiden mirip operasi militer” 2017 dan friksi “Raja Kembar” kedua 2025, bisa dimaknai beberapa hal. Yaitu melanjutkan “skenario” peniadaan Mataram sejak awal NKRI, bertahan dari gempuran modernitas atau sebab lain.  

Era Sinuhun PB XIII (2004-2025) menjadi “pintu masuk” yang sangat “ramah” bagi para “infiltran”, hingga berhasil “memecah” kerukunan keluarga di insiden tahun 2017 yang menjadi modal lahirnya “ontran-ontran” Raja Kembar kedua 2025. Kini, Bebadan Kabinet 2004 bersama para kerabat di LDA dan semua elemen menghadapi itu.

DENGAN TERPAKSA : Selama berjuang mencari rasa keadilan demi mengembalikan harkat, martabat dan kewibawaan kraton, Gusti Moeng “dengan terpaksa” menggugat Pemprov yang menahan bantuan dana hibah untuk kraton tanpa alasan jelas. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sejak “insiden mirip operasi militer 2017” hingga lahir friksi “Raja Kembar kedua 2025, telah menegaskan garis pembelah keluarga besar dan masyarakat adat antara yang tetap berjalan “on the (right) track” dan yang “menyimpang”. Di situ juga ditegaskan mana kelompok “The Right Man and The Right Place” dan mana yang sesat.

Belakangan, ada perkembangan situasi dan kondisi yang terdengar “menjanjikan” atau idealistik. Hadirnya Kementerian Kebudayaan dari era rezim pemerintah di bawah Presiden Prabowo, terkesan menjadi “dewa penolong” masyarakat adat di bawah kepemimpinan Gusti Moeng, yang telah lama berjuang jatuh-bangun “menjaga” kraton.

Berjuang mengembalikan harkat, martabat dan kewibawaan kraton serta menjaganya bersama seluruh elemen masyarakat adat yang dipimpin, mirip perahu besar yang bisa sampai di dermaga rujuan. Tetapi di sisi lain, sesampai di darat, masyarakat adat Mataram Surakarta juga disambut berbagai potensi ancaman saat pergantian tahta. (Won Poerwono – bersambung/i1)