Jumatan di Masjid Ki Ageng Sela Batal, Karena Wapres ke Masjid Agung

  • Post author:
  • Post published:January 16, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:3 mins read
You are currently viewing Jumatan di Masjid Ki Ageng Sela Batal, Karena Wapres ke Masjid Agung
MIRIP TELEVISI : Lima tokoh penting yang duduk berjejer "sedingklik" (sebangku-Red) di warung sate kambing muda pak Joko di seberang Pasar Klewer, siang tadi, dari arah depan atau arah para wartawan memotret, mirip layar televisi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Suasana Hangat dan Segar di Warung Sate Depan Pasar Klewer

SURAKARTA, iMNews.id – Entah siapa yang punya ide atau yang merekomendasi, sehabis shalat Jumat bersama di kagungan-dalem Masjid Agung, Sinuhun PB XIV Hangabehi “tampak ikut arus” berjalan kaki keluar pintu selatan masjid. Perjalanan ke arah barat, berhenti di sebuah warung sate kambing yang berseberangan dengan Pasar Klewer.

Perjalanan sekitar 200 meter dan hanya memakan waktu sekitar lima menit itu, akhirnya memperlihatkan sebuah pemandangan menarik. Karena warung sate kambing muda “pak Joko” itu, bila dilihat dari depan (arah timur), mirip televisi yang memperlihatkan suasana para tokoh penting sedang duduk berjejer di atas “bangku”.

Batas lebar warung seperti menjadi bingkai layar televisi itu, dan sajian acaranya adalah peristiwa para tokoh penting yang sedang duduk menanti “pesanan”. Dari kiri tampak Wapres Gibran, sedangkan Jan Ethes (anak lelakinya) berada di paling ujung selatan, tidak nampak. Di sebelah kiri Gibran, duduk Sinuhun PB XIV Hangabehi.

DIALOG HANGAT : Dialog hangat justru terjadi antara Wapres Gibran, Wali Kota Respati Ardi dan Ketua Takmir Masjid Agung KRT Muhtarom Tafsir Anom di depan Sinuhun PB XIV Hangabehi seusai shalat Jumat, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena “dingklik” panjang warung rata-rata standar menjadi tempat duduk berjejer banyak, maka yang tampak mirip di “layar televisi” itu sampai lima orang. Di sisi kiri Sinuhun Hangabehi ada KGPH Purubaya, Maha Menteri KGPH Tedjowulan dan Wali Kota Surakarta Respati Ardi. Di belakang mereka, juga ada beberapa orang kerabat.

Warung sate yang tiba-tiba menjadi destinasi berkumpul para tokoh penting yang berkait dengan peristiwa pergantian tahta (sempat) “panas” di Kraton Mataram Surakarta itu, tentu membikin repot penjualnya. Karenanya, sekitar 30 menit kemudian dari rombongan tiba, pesanan masakan sate satu-persatu baru bisa tersaji.

Walau ada waktu lebih 30 menit bertemu di warung sate itu, tetapi tak terlihat ada dialog di antara kelima tokoh itu. Begitu pula dialog pibadi secara bergantian oleh Wapres Gibran dengan ketiga tokoh dari krato dan Wali Kota Respati Ardi. Meskipun, mereka duduk berdekatan, misalnya antara Wapres Gibran dan Sinuhun Hangabehi.

DIALOG KECIL : Dialog kecil juga terjadi antara Wapres Gibran dengan Maha Menteri KGPH Tedjowulan yang disaksikan KGPH Purubaya di topengan Masjid Agung seusai shalat Jumat bersama. Sinuhun PB XIV Hangabehi ada di belakang mereka. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Antara Sinuhun PB XIV Hangabehi dengan adiknya, KGPH Purubaya-pun juga begitu, tak tampak sempat berdialog. Apalagi antara KGPH Purubaya dengan Maha Menteri KGPH Tedjowulan. Yang tampak banyak berdialog justru KGPH Tedjowulan dengan Wali Kota Respati Ardi, walau tak bisa didengar apa yang mereka bicarakan dari jarak 5 meter.

Shalat Jumat bersama yang memperlihatkan kehadiran Wapres Gibran, Wali Kota Respati Ardi, Maha Menteri KGPH Tedowulan, Sinuhun PB XIV Hangabehi dan KGPH Purubaya, menjadi peristiwa baru, istimewa dan ada unsur senasi atau kejutan. Meskipun, tak jelas arah “penampakan” bersama di antara para tokoh penting itu.

Yang jelas, shalat Jumat Sinuhun PB XIV Hangabehi di Masjid Agung, siang tadi, adalah di luar syarat wajib yang sudah terpenuhi. Sesuai agenda, sebenarnya dia melakukan perjalanan spiritual ke Masjid Ki Ageng Sela di Kabupaten Grobogan. Tetapi dibatalkan mendadak, karena “diajak” Jumatan bersama Wapres Gibran. (won-i1)