Ada Edukasi Tentang Banyak Hal, Salah Satunya Sikap Memuliakan Leluhur
IMNEWS.ID – PADA seri sebelumnya (iMNews.id, 11/1/2026) disebutkan, perjalanan spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi untuk menggenapi syarat bagi seorang “ratu” agar “ngerti laku”. Dan intinya dimaksudkan, agar ada keseimbangan dalam dirinya antara “sesuatu” yang didapat perjalanan spiritual religi dan spiritual kebatinan.
Tetapi, perjalanan spiritual itu ketika dikaitkan dengan “Lelaku ing Satengahing Rame” seperti penggalan kalimat pada judul besar di atas, tentu punya makna lain. Yaitu ada sisi edukasi tentang banyak hal dari “lelaku” yang dijalankan Sinuhun PB XIV Hangabehi, sebelum tiba menjalani tahap terakhir berupa jumenengan nata.

Edukasi paling jelas yang tak sengaja bisa dimaknai publik secara luas, adalah sikap menahan diri untuk sabar menunggu saat yang paling tepat. Yaitu bersikap “ora nggege mangsa” atau menunggu “sangat” (saat yang tepat-Red), karena yang dilakukan adalah urusan spiritual kebatinan yang harus menjadi ciri “wong Jawa”.
Pelajaran “aja nggege mangsa” atau memaksakan diri dengan memperpendek proses atau menyingkat waktu, adalah pesan bijak kearifan budaya Jawa yang sudah banyak dibuktikan. Dan kalimat bijak yang sering ditandaskan Gusti Moeng dengan istilah “mengikuti kehendak alam” itu, kini sedang “dijalani” Sinuhun PB XIV Hangabehi.

Karena dalam proses perjalanan spiritual juga tak boleh dipaksakan dengan cara-cara pragmatis sebagai ciri gaya pemikiran modern, maka tidak bisa ditentukan atau didekte pihak/orang lain. Terutama, ditentukan/didikte soal lokasinya seperti yang mulai terdengar dari kalangan pengurus Pakasa cabang, karena ada agenda “pribadi”.
Intinya, perjalanan spiritual harus jauh dari ambisi/ego perorangan/kelompok. Walau ada unsur “kebanggaan” yang menjadi alasannya, tetapi bisa dimaknai sebagai kepentingan. Apalagi lokasi yang ditunjuk (didekte), tidak berkait langsung dengan leluhur Dinasti Mataram. Kalau Masjid Cipta Mulya (Pengging), “justru harus”.

Selain Masjid Cipta Mulya (Pengging) di Kabupaten Boyolali, lokasi yang masih rasional sebagai tujuan perjalanan spiritual berikutnya bisa di Masjid Ki Ageng Sela di kompleks Astana Pajimatan Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Masjid leluhur langsung Ki Ageng Henis itu, pernah “digunakan” PB X.
Masjid Demak peninggalan Sunan Kalijaga di Kabupaten Demak dan Masjid Sunan Kudus/Muria di, sebenarnya juga rasional menjadi tujuan perjalanan spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi. Tetapi, kedua masjid itu tidak sepenuhnya berada di bawah otoritas adat dengan Kraton Mataram Surakarta, dan sulit mengkondisikannya.

Bila ada kesulitan teknis untuk mengkondisikannya ketika hendak disinggahi dalam rangka menjalankan urusan spiritual religi dan kebatinannya, berarti ada unsur kurang nyaman. Karena ada yang bisa membuat suasana kurang nyaman, memang lebih baik dihindari. Selain itu, ada perjalanan spiritual yang juga penting diwujudkan.
Perjalanan spiritual kebatinan itu, adalah memetik kembang Wijayakusuma di Pulau Nusakambangan yang harus lengkap dengan berbagai tatacaranya. Yaitu wilujengan yang bisa dilakukan di wilayah Kedu, Magelang dan Banyumas (Dulangmas). Patih Sindureja I (T Pranantaka) yang diutus untuk PB II, “singgah” di wilayah itu. (Won Poerwono – bersambung/i1)
