Bersamaan Suasana “Masa Berkabung” Wafatnya PB XIII dan Heboh “Raja Kembar”
SURAKARTA, iMNews.id – Bagaimanapun, gelar peringatan HUT ke-94 Pakasa di tahun 2025 ini tetap memberi kesan sukses dan meriah dalam kadar yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Walaupun, event itu digelar dalam serba keterbatasannya sejak dibuka, Jumat malam (26/12) hingga puncak acara Sabtu (27/12) siang tadi.

Sukses dan meriah itu tampak dari sajian dan pelaksanaan yang mampu melebihi situasi dan kondisi yang serba terbatas itu. Setidaknya, beberapa hal itu yang terekam oleh iMNews.id sampai puncak pelaksanaan HUT ke-94 yang dipusatkan di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, dari Sabtu (27/12) hingga Jumat (26/12).

Serba keterbatasannya terdapat pada suasananya yang masih terasa dalam masa berkabung akibat wafatnya Sinuhun PB XIII, 2 November. Tetapi dibarengi adanya heboh persaingan “Raja Kembar”. Situasi dan kondisi ekonomi secara umum kini juga sedang tidak baik, sebagian wilayah Tanah Air belakangan sedang dilanda bencana.

Namun, melihat antusiasme di pusat dan sumbernya Budaya Jawa serta masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, segala aktivitas yang terskpresi dalam dua hari (26-27/12) peringatan HUT ke-94, sungguh jauh berbeda. Sajian demi sajian dan pelaksanaan secara umum, mampu menerobos segala keterbatasan yang ada dan meriah.

Ada 19 cabang Pakasa yang hadir mengirim kontingennya untuk menyajikan potensi seni budaya lokalnya di ajang peringatan HUT yang dipusatkan di Pendapa Pagelaran. Selama dua hari, sejumlah tim kesenian kontingen cabang-cabang Pakasa peserta, bergiliran tampil di halaman Pendapa Pagelaran dan di tempat upacara, ruang pendapa.
“Karena ini pestanya warga Pakasa cabang, maka yang ditampilkan segala potensi seni budaya lokal yang ada di cabang-cabang,” ungkap tandas KPH Edy Wirabhumi dalam sambutan peringatan HUT ke-94 dan pengantar acara yang berkait di saat upacara pembukaan berlangsung. Banyak hal lain juga diungkap dalam sambutannya.

Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertiyah) selaku Pengageng Sasana Wilapa yang juga Pangarsa LDA juga memberi sambutan. Dia menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dan partisipasi warga Pakasa dari berbagai cabang, juga elemen masyarakat adat lain. Tanpa Pakasa, Kraton Mataram Surakarta makin berat “melangkah”.
Gusti Moeng juga minta maaf karena menerima kehadiran para warga Pakasa cabang dan elemen masyarakat adat lain untuk menyukseskan HUT ke-94 Pakasa itu, dalam segala keterbatasan. Sebagai salah satu ungkapan terima kasihnya, selaku pimpinan jajaran Bebadan Kabinet 2004, dia menyerahkan sertifikat kepada semua pimpinan grup reog.

Ada ratusan grup reog yang tersebar di Nusantara, yang mengirim perwakilan untuk menerima sertifikat itu. Menurut KPH Edy, reog Ponorogo yang sudah diakui Unesco, harus mendunia dan dikenal masyarakat di mana-mana. Kirab budaya dari Pendapa Pagelaran menuju depan Balai Kota dan kembali ke start, menjadi puncak HUT Pakasa. (won-i1)




