Sekitar 500 Warga Pakasa Akan Ikuti Shalat Jumat Terakhir 26 Desember
IMNEWS.ID – JUMAT Pahing, 19 Desember 2025, adalah jadwal shalat Jumat keenam yang sudah dijalani Sinuhun PB XIV Hangabehi. Syarat Jumatan di kagungan-dalem Masjid Agung selama 7 kali untuk meneladani Sinuhun PB X atas anjuran Maha Menteri KGPH Tedjowulan, tinggal sekali akan dijalani seminggu lagi, yaitu tanggal 26 Desember.
Sebagai syarat yang harus dilakukan sebelum mengikuti jumenengan nata dalam waktu yang tak lama lagi, sudah dipenuhi Sinuhun PB XIV Hangabehi dengan tekun dan kesan penuh ketenteraman batin. Media iMNews.id yang mengikuti selama enam kali syarat itu dijalankan, selalu melahirkan suasana suka-cita sekeluar dari Masjid Agung.

Karena, publik yang kebetulan bersamaan shalat di Masjid Agung, dari Jumat ke Jumat menjadi tahu, paham dan hafal. Tahu bahwa yang datang diikuti rombongan semakin bertambah banyak, adalah tokoh yang sedang ramai ditayangkan di platform medsos pribadi. Kebetulan, Sinuhun KGPH Hangabehi benar-benar dari “tak dikenal”.
Rasa penasaran publik untuk melihat dari dekat dan memahami wujud fisik dan sikapnya, tentu semakin besar. Dari tahu menjadi paham tentang apa yang sebenarnya terjadi di Kraton Mataram Surakarta karena heboh di plarform medsos itu, banyak yang mendorong publik mengenal lebih dekat, bersalaman dan minta foto bersama.

Lukisan suasana hangat dan berkesan menenteramkan selama enam kali Sinuhun PB XIV Hangabehi, sampai pada puncaknya saat shalat Jumat (19/12) kemarin. Karena, ada seorang ibu yang berteriak kegirangan saat diizinkan bersalaman dan berfoto bersama sambil merangkul. Momentum ini, tentu memberi tafsir positif dan dalam.
Bila dianalisis lebih lanjut, ekspresi kegirangan seorang ibu itu menandakan bahwa dia mulai mengenal sosok Sinuhun XIV KGPH Hangabehi dari sebelumnya “tak dikenal”. Setelah dikenal bahkan diizinkan berfoto, suasana hangat dan tulus-ikhlas dia rasakan, yang mungkin saja tak didapat dari tokoh yang lebih dulu dikenalinya.
Ilustrasi ini adalah tafsir, yang lahir dari fakta di lapangan atas ekspresi yang tampak saat Sinuhun PB XIV Hangabehi 6 kali shalat Jumat di Masjid Agung. Fakta riil itu sulit diubah sifatnya, karena siapa saja yang berinteraksi dalam momentum itu mengalir natural begitu saja. Apalagi dilandasi sikap yang tulus-ikhlas.
Sangat beda suasananya ketika tokoh pesaingnya dari “seberang” yang baru menjalani tiga dari enam kali shalat Jumat itu. Tiga kali absen shalat Jumat di Masjid Agung tak ada penjelasan pindah Jumatan ke mana?. Tetapi, menjalani syarat shalat Jumat tujuh kali berturut-turut di Masjid Agung, jelas sudah tidak bisa terpenuhi.

Jadi, tidak hanya soal sudah gagal memenuhi persyaratan menunaikan ibadah shalat Jumat. Tetapi, ada hal lain sangat mencolok yang tak disadari bisa membuat kesan lebih buruk. Yaitu, sekeluar dari shalat Jumat, tokoh “seberang” ini nyaris tak ada yang menyambut, minta bersalaman ayau memintanya berfoto bersama.
Satu-satunya alasan publik sesama jamaah atau bukan menyambut, karena dalam dua kali shalat Jumat sebelumnya, ada yang membagi-bagikan uang. Jadi, suasana heboh setiap tokoh “seberang” ini selesai Jumatan di Masjid Agung, karena menyambut uang kertas pecahan Rp 10 ribu, Rp 5 Ribu dan Rp 20 ribu bukan yang lain.
Tetapi sayang, mungkin tidak ada informasi diberikan kepada publik pada Jumat 19 Desember kemarin. Karena, publik dibuat “kecelik” tidak ada yang “bagi-bagi” uang. Kelihatannya si tokoh “seberang” absen lagi untuk kali ketiga dari wajib shalat tujuh kali itu. KPP Haryo Sinawung Waluyoputro memastikan soal itu.
“Kalau datang Jumatan, saya pasti melihat. Karena, biasanya sama-sama menggunakan ruang khusus di Masjid Agung. Dari rombongannya, biasanya sudah tampak satu-dua orang, baik sebelum maupun sesudah shalat Jumat. Ini tadi sama sekali tidak ada. Jadi, pasti tidak shalat di sini,” jelas Wakil Pengageng Karti Praja itu, kemarin.

Shalat Jumat keenam, rombongan yang mengiringi Sinuhun PB XIV untuk ikut Jumatan di Masjid Agung, kemarin, jumlahnya lebih lebih dari sebelumnya. Ada lebih dari 100 masyarakat adat berbagai elemen, berjalan kaki bersama saat berangkat dari kraton maupun sebaliknya. Jumlah warga elemen Pakasa cabang, bertambah banyak.
Ada sejumlah “pangarsa” Pakasa cabang dan rombongan utusan yang hadir mengawal Sinuhun PB XIV Hangabehi. Bahkan, warga Pasipamarta juga bertambah banyak yang bergabung, setelah bersepakat dalam pertemuan Minggu Kliwon di ndalem Kayonan. KP Siswantodiningrat selaku Ketua Pasipamarta yang memimpin, di luar pejabat Bebadan.

Karena, KP Puspitodiningrat (Sekretaris Pengageng Sasana Wilapa) juga hadir selain Wakil Pengageng Sasana Wilapa (KP Siswantodiningrat). Jadi, jajaran Bebadan Kabinet 2004 benar-benar ikut memperkuat, bahkan menjadi lembaga pemandu tatacara Sinuhun PB XIV Hangabehi menjalani syarat shalat 7 kali di Masjid Agung itu.
Oleh sebab itu, maka tidak aneh apabila KP Haryo Sinawung Waluyoputro (Wakil Pengageng Karti Praja) juga selalu ada dalam rombongan pengawal Sinuhun. Karena pejabat termuda di jajaran Bebadan Kabinet 2004 ini, sudah sering menunjukkan naluri tanggap, sigap dan tegasnya dalam mengawal setiap upacara adat di kraton.

Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng), tetap eksis dan selalu aktif memandu jalannya organ kelembagaan Kraton Mataram Surakarta. Keberadaannya masih sah menjalankan tugas mengawal masa transisi alih kepemimpinan, hingga Bebadan baru nanti terbentuk dan melakukan serah-terima.
Sebuah proses perjalanan rasional yang terjadi di lembaga manapun, bahwa kerja dan tugas rutin tidak perlu berubah/berganti, walau pimpinannya berubah/berganti. Hal inilah yang ditandaskan KPH Edy Wirabhumi (Pimpinan Eksekutif LHKS), saat menjawab pertanyaan para wartawan soal permintaan semua “kunci pintu” dari “seberang”. (Won Poerwono-bersambung/i1)




