Para Pengurus Pakasa Cabang Memandang, KGPH Hangabehi “Lebih Layak” (seri 4 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:November 27, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Para Pengurus Pakasa Cabang Memandang, KGPH Hangabehi “Lebih Layak” (seri 4 – bersambung)
MENYIAPKAN SYARAT : KGPH Hangabehi sedang "menyiapkan syarat" dengan menanam bibit tanaman kembang Wijayakusuma di samping cungkup makam Sinuhun Amangkurat Agung di kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, Tegal/Slawi, awal tahun lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pakasa Pacitan : “Jangan Hanya Karena Ambisi, Menghalalkan Segala Cara…”

IMNEWS.ID – MASIH ada tiga pimpinan Pakasa cabang dari Kabupaten Pacitan (Cabang Bhumi Wengker), Kabupaten Nganjuk (Cabang Nganjuk) dan Kabupaten Banjarnegara yang pernah punya riwayat sebagai “daerah istimewa” bagi Kraton Mataram Surakarta. Dari Pacitan (Jatim), KRAT Heru Arif Pianto Wedyonagoro (Ketua cabang) berharap dengan randas, agar tidak menghalalkan segala cara hanya karena punya ambisi “berkuasa”.

“Jangan hanya karena ambisi berkuasa, sampai menghalalkan segala cara untuk merebut/memperolehnya. Termasuk sampai ‘nerak wewaler’ (aturan tegas). Karena, kraton sebagai lembaga masyarakat adat Dinasti Mataram yang turun-temurun, jelas memiliki aturan yang bernama paugeran adat. Wewaler di dalamnya, selalu dihindari, dihormati dan dijaga bersama di setiap pergantian dinasti,” ujar KRAT Heru Arif.

Penjelasan Ketua Pakasa Bhumi Wengker itu adalah bagian dari jawaban atas empat pertanyaan jajak-pendapat yang diedarkan iMNews.id kepada 11 Pakasa cabang (iMNews.id, 24/11). Penjelasan tegas dan tandas itu merupakan bagian dari solusi dan sumbangan pemikiran dari Pakasa Pacitan. Tetapi cabang ini juga memiliki semangat yang sama dengan 9 cabang lain, langsung menunjuk nama KGPH Hangabehi.

Di luar pertanyaan, pimpinan Pakasa cabang Pacitan langsung menyebut nama Sang Adipati Anom yang dinilainya paling layak diantar bersama-sama mencapai tahtanya sebagai Sinuhun PB XIV. Menurutnya, KGPH Hangabehi benar-benar mencerminkan kepribadian seorang pangeran, putra-dalem, calon pemimpin, benar-benar “njawani” dan sangat patut menjadi suri-teladan bagi masyarakat adat bahkan masyarakat luas.

PIMPIN NYADRAN : KGPH Hangabehi memimpin rombongan utusan-dalem Kraton Mataram Surakarta untuk melaksanakaan ritual “nyadran” di makam Sinuhun Amangkurat Agung di kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, Tegal/Slawi, awal tahun lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Saya bersama warga Pakasa Cabang Pacitan memang baru kali ini mengalami langsung pergantian tahta di kraton, disertai ontran-ontran. Tetapi, hal yang mungkin dianggap sedikit mengganggu kenyamanan itu, tak menggoyahkan semangat Pakasa Bhumi Wengker. Itu sebuah dinamika yang bisa terjadi di mana saja. Pakasa Pacitan tidak akan kendor suwita, tetapi justru semakin cinta dan makin kuat mengabdi”.

“Kami tetap semangat mengabdi. Kami justru mendorong dan berdoa, semoga Kraton Mataram Surakarta Hadiningrat ‘tansah kuncara, tambah ngrembaka, hanjayeng bawana’ dan selalu memegang teguh paugeran adat yang diwariskan para leluhur Dinasti Mataram”, tandas KRAT Heru. Bersama itu, pimpinan Pakasa Cabang Nganjuk (Jatim) dan Pakasa Cabang Banjarnegara juga mengirim saran, solusi dan dukungannya.

KRAT Eko Budi Tirtonagoro (Ketua Pakasa Cabang Banjarnegara) merasa beruntung pernah didatangi KGPH Hangabehi dan rombongan, ketika pengurusnya menggelar sebuah upacara adat. Tetapi, cabang ini merasa bangga karena saat Sinuhun PB IX wafat menjelang jumenengan nata Sinuhun PB X, makam Ki Ageng Giring pernah pernah menjadi salah satu lokasi penting, yaitu untuk menyanggarkan bunga Wijayakusuma.

“Kami warga Pakasa Banjarnegara ikut bangga, karena Banjarnegara pernah menjadi ‘daerah istimewa’ bagi nagari Mataram Islam Surakarta. Kami hanya mendapat cerita dari kalangan sesepuh. Bahwa, ada syarat untuk jumenengan nata di kraton, ada utusan untuk mengambil bunga Wijayakusuma ke (pulau) Nusakambangan. Sebelum dibawa ke kraton, bunga itu disanggarkan di makam Kia Ageng Giring,” ujar KRAT Eko.

PRIBADI RAMAH : Ketika berada di tengah suasana warga Pakasa Cabang Nganjuk yang sedang menggelar upacara wisuda, KGPH Hangabehi tampak sekali sebagai pribadi yang ramah bergaul dengan para kawula, termasuk seniman karawitan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Namun, lanjut KRAT Eko Budi Tirtonagoro, dirinya mengaku tidak mendapatkan cerita lengkap soal tradisi itu. Terutama, setelah untuk penobatan Sinuhun PB X di tahun 1893 itu, apakah tradisi mengambil syarat kembang Wijayakusuma ke Nusakambangan untuk jumenengan nata Dinuhun Paku Buwana masih dilakukan? Untuk yang sedang berproses menuju tahta sekarang inipun, disebutkan belum ada kabar untuk itu.

Sepenggal cerita itu menempatkan Pakasa Cabang Banjarnegara punya peran penting bagi Kraton Mataram Surakarta pada masa lalu. Karena, utusan dari kraton yang mengambil kembang Wijayakusuma dari (Pulau) Nusakambangan, kini masuk Kabupaten Cilacap, lalu disanggarkan (diistirahatkan) semalam di makam kompleks Ki Ageng Giring (dulu pesanggrahan) sebelum dibawa ke kraton untuk upacara jumenengan nata.

Di luar kisah itu, Pakasa Cabang Banjarnegara memberi tiga solusi sebagai sumbangan pemikiran menggenapi jawaban jajak-pendapat. Solusinya (1) berupa dukungan dalam wujud apapun, wajib diberikan kalangan anggota Pakasa dari cabang manapun. (2) Pemasangan “banner” ucapan dukungan kepada KGPH Hangabehi di manapun sejauh memungkinkan bisa dipasang. (3) Wajib tuga kawal bagi Pakasa semua cabang.

Selain itu, ada 10 poin gabungan antara jawaban untuk tiga pertanyaan jajak-pendapat, dan selebihnya adalah eskpresi di luar pertanyaan sebagai dukungan yang langsung tertuju pada nama KGPH Hangabehi. Yaitu mengenai syarat putra tertua dari putra/putri Sinuhun PB XIII, sudah berkeluarga, aktif dalam kegiatan budaya di dalam dan di luar kraton, bahkan luar negeri, berkepribadian baik dan berwibawa.

Walau pengurus “new” Pakasa cabang rata-rata baru terbentuk mulai tahun 2016, tetapi Pakasa Banjarnegara sudah pernah mendapat kunjungan KGPH Hangabehi bersama KRMH Boby Suryo Manikmoyo saat “sambang daerah”. (foto : iMNews.id/Dok)

Pakasa Banjarnegara juga menyebut syarat bagi seorang calon Sinuhun PB XIV, harus layak sebagai teladan/panutan, selalu menciptakan kesejukan/kedamaian dan tidak congkak, tekun beribadah, tunduk/taat pada paugeran adat dan tidak memaksakan kehendak serta tidak egois. Sebagai ilustrasi, makam Ki Ageng Giring di Desa Gumelem, Kecamatan Mandiraja, kini menjadi destinasi wisata religi Pakasa Banjarnegara.

Jawaban atas 4 pertanyaan jajak-pendapat yang kurang lebih sama, diungkapkan pimpinan Pakasa Cabang Nganjuk. Dengan tegas pula, KRAT Sukoco Joyonagoro (Ketua Pakasa) menjawab, mendukung KGPH Hangabehi untuk mencapai tahta sebagai Sinuhun PB XIV adalah keharusan dan wajib bagi Pakasa Nganjuk. Walau baru ikut mendengar kraton menghadapi persoalan pergantian tahta, Pakasa Nganjuk tetap setia “suwita”.

Di luar jajak-pendapat, ada pernyataan menarik dari KP Budayaningrat yang bisa bermanfaat bagi publik secara luas termasuk masyarakat adat. Pernyataan “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara itu membenarkan cerita KRAT Eko Budi Tirtonagoro. Di Kraton Mataram Surakarta dulu pernah ada tradisi mengambil syarat kembang Wijayakusuma di Nusakambangan, tetapi data yang ada hanya saat jumenengan PB X.

“Benar. Data yang saya dapat, itu dari naskah yang melukiskan jumenengan-dalem Sinuhun Paku Buwana X (1893-1939). Di situ disjelaskan, ada abdi-dalem yang diutus ke Nusakambangan, untuk memetika kembang Wijayakusuma. Tanaman bunga itu ada di goa yang sekarang dinamakan goa Malikhul Khusna, asma-dalem Sinuhun PB X ketika masih muda. Tetapi, data-data sebelum itu dan sesudahnya, tidak ada,” ujarnya.

WERUH KAWULA : Pakasa Cabang Pacitan memang termauk kepengurusan cabang masih baru tidak seperti cabang-cabang pendahulunya. Tetapi KGPH Hangabehi adalah sosok calon pemimpin yang “weruh kawula”, mau mengenal dan merangkul semua kawulanya. (foto : iMNews.id/Dok)

Menurut KP Budayaningrat, tidak adanya catatan tentang riwayat serupa untuk para Raja sebelum Sinuhun PB X, bisa berarti memang tidak pernah ada tradisi itu atau ada tradisi tetapi tidak ada dokumen catatannya. Tetapi setelah Sinuhun PB X, juga disebut tidak ada catatan tentang riwayat tradisi serupa untuk jumenengan nata Sinuhun PB XI, PB XII apalagi Sinuhun PB XIII.  

“Jangankan syarat kembang Wijayakusuma, shalat Jumat saja tidak dijalani Sinuhun PB XIII. Saya ikut bersyukur dan senang, (Maha Menteri) Kanjeng Gusti (KGPH) Tedjowulan kersa dhawuh mengingatkan Kanjeng Gusti (KGPH) Hangabehi untuk shalat Jumat tujuh kali di Masjid Agung. Dan saya akan sangat bangga, Sinuhun PB XIV nanti tekun dan rajin beribadah, shalat lima waktu,” ujar KP Budayaningrat. (Won Poerwono – bersambung/i1)