Para Pengurus Pakasa Cabang Memandang, KGPH Hangabehi “Lebih Layak” (seri 1 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:November 24, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Para Pengurus Pakasa Cabang Memandang, KGPH Hangabehi “Lebih Layak” (seri 1 – bersambung)
SOSOK BERTANGGUNGJAWAB: KGPH Hangabehi adalah sosok calon pemimpin yang bertanggungjawab. Dia tak pernah melewatkan tugasnya selalu mencermati setiap perkembangan pekerjaan revitalisasi Panggung Sangga Buwana. (foto : iMNews.id/Dok)

Jajak-Pendapat Terbatas di Kalangan Ketua Pakasa Cabang

IMNEWS.ID – SAMPAI Senin Kliwon (20/11/205) ini, perjalanan waktu sejak peristiwa wafatnya Sinuhun PB XIII sudah menginjak 22 hari. Masih separo waktu untuk menggenapi perjalanan 40 hari, yang oleh masyarakat Jawa terutama lingkungan kraton, menjadi tahap sakral. Karena pada hitungan itu, tepat sekali untuk menggelar upacara adat “donga wilujengan pengetan patahpuluh dina surud-dalem”.

Peringatan 40 hari wafatnya Sinuhun PB XIII, diperkirakan jatuh di minggu kedua bulan Desember 2025 ini. Setelah itu, masih ada tahapan berikut yaitu upacara adat “donga wilujengan pengetan satus dina surud-dalem”, yang diperkirakan jatuh pada minggu kedua Februari 2026. Tetapi anehnya, bukan soal upacara adat peringatan wafatnya yang diperhatikan publik, melainkan justru peristiwa heboh sensasinya.

Peristiwa heboh bernuansa sensasi yang diselingi ekspresi ambisi dan emosi itu, agaknya lebih menonjol memenuhi ruang publik platform medsos beberapa pribadi yang terus “membormbarder” belakangan ini. Sementara, peristiwa upacara adat yang sudah ratusan tahun menjadi tradisi masyarakat etnik Jawa terutama di kalangan internal adat Kraton Mataram Surakarta, seakan tenggelam dan dianggap tak dikenal.

Trend ketertarikan publik di atas, aneh menurut ukuran umum dalam bingkai Budaya Jawa, tetapi dianggap biasa atau “sudah tidak berguna” di zaman sekarang. Publik secara luas, mungkin termasuk kalangan masyarakat adat elemen tertentu, merasa menjadi manusia (masyarakat) modern ketika dirinya lebih tertarik dengan berbagai persoalan trendy di medsos, apalagi yang viral, termasuk soal persaingan tahta.

LABUH KARYA : KGPH Hangabehi adalah sosok calon “Narendra kang labuh karya”. Dia punya jejak perhatian pada bidang tosan-aji dan berbagai kegiatan dalam rangka pelestarian karya itu. Karena, 100 tahun kelak akan menjadi label karyanya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melihat trend informasi viral dari sekitar peristiwa proses pergantian tahta di Kraton Mataram Surakarta dalam sekitar 3 minggu ini, sudah membuktikan bahwa ada ketimpangan informasi yang berakibat timpangnya pemahaman publik terhadap esensi peristiwanya, yaitu wafatnya Sinuhun PB XIII. Ketimpangan itu, terkesan akibat opini terbentuk oleh membanjirnya informasi dari beberapa platform medsos pribadi.

Sampai sejauh itu, di kalangan kerabat terutama sentana-dalem yang setiap hari masih melakukan aktivitas kedinasan seperti biasa di kantor Bebadan masing-masing, pasti ada diskusi yang setiap saat bisa terjadi. Begitu pula, dialog dengan pihak-pihak di posisi kunci, pasti terjadi dan ada kesepakatan. Namun, di kalangan Pakasa cabang yang menjadi elemen masyarakat adat paling besar, terkesan senyap.

Senyap atau hening bisa oleh banyak hal penyebabnya, tetapi dari hasil iMNews.id merekam suasana itu, suasana tersebut lebih besar disebabkan oleh permintaan Pakasa Punjer dan pimpinan Lembaga Dewan Adat (LDA). Mengingat, hingga kini masih berada dalam masa berkabung hingga 40 hari, atau bahkan 100 hari. Karenanya, warga Pakasa cabang yang di semua daerah (kabupaten/kota), diharap tenang dan menunggu.

Meski banyak yang benar-benar tak bersuara atau “tiarap”, namun ada Pakasa cabang yang punya inisiatif pribadi. Misalnya, perwakilan Pakasa Cabang Ngawi (Jatim) yang terdiri KRT Suyono S Adiwijoyo (Ketua Harian Cabang) yang tiba-tiba “muncul”, Jumat (21/11). Kehadiran rombongan perwakilan Pakasa Ngawi itu, langsung bergabung mengikuti di belakang KGPH Hangabehi yang sedang berjalan menuju Masjid Agung.

MATA INTERNASIONAL : Karya dan ketokohan KGPH Hangabehi di bidang pelestarian “tosan aji”, sudah mulai dikenal di mata internasional. Ia bersama rombongan pecinta keris, berpameran selama seminggu di Den Haag, Belanda, akhir Oktober.(foto : iMNews.id/Dok)

Baik secara kebetulan atau sudah direncanakan, pemandangan saat KGPH Hangabehi berjalan kaki dari kraton untuk melakukan shalat Jumat di kagungan-dalem Masjid Agung, 21/11 itu, patut diapresiasi. Selain merupakan bentuk dukungan riil yang membesarkan hati, langkah itu adalah sangat positif, simpatik, ideal, tepat dan baik untuk ditiru. Karena, aktivitas yang dilakukan juga teladan baik.

Namun, memang baru inisiatif itu yang tampak di permukaan, yang kebetulan KGPH Hangabehi sedang menjalani syarat shalat Jumat 7 kali secara khusus di Masjid Agung, sesuai arahan Maha Menteri KGPH Tedjowulan. Saran ini, disebut hanya meneladani yang sudah dilakukan Sinuhun PB X saat jumeneng nata (1893-1939), yang konon malah selama 40 kali shalat Jumat di kagungan-dalem Masjid Agung.

Bersama-sama menunaikan shalat Jumat di Masjid Agung yang kebetulan sedang manjalani syarat untuk kali kedua, memang ideal dan simpatik dari sisi apapun. Itu juga merupakan bentuk komunikasi yang halus dalam makna yang jelas dan tegas pada hari-hari ini. Bahkan, itulah bentuk dan sarana satu-satunya yang ideal bisa dilakukan warga Pakasa, bila mengingat sepertinya tidak tersedia “saluran” lain.

“Saluran komunikasi” memang sedang “terganggu” karena memang ada permintaan untuk hening dan senyap sementara waktu. Bagi yang bisa memahami persoalan yang sedang terjadi, mungkin akan tetap tenang dalam senyap dan hening. Tetapi, bagi yang sama sekali tidak punya pengalaman dan belum bisa memahami, pasti akan menjadikannya gelisah dan bertanya-tanya dalam suasana senyap dan hening ini.

MEMBACA MANTRA : Dalam upacara adat “jamasan” keris, erat kaitannya dengan doa secara khusus yang disebut “mantra”. KGPH Hangabehi memiliki kapasitas kemampuan di bidang itu saat pameran selama seminggu di Den Haag, Belanda, akhir Oktober.(foto : iMNews.id/Dok)

Media iMNews.id memandang bisa melahirkan berbagai kemungkinan ketika warga Pakasa yang anggotanya belasan ribu orang dari 40-an cabang itu, hanya diminta untuk diam dan hening tak berkepastian. Untuk itu, jajak-pendapat ringan dilakukan terhadap belasan ketua Pakasa cabang. Ada 4 pertanyaan disampaikan kepada para ketua cabang dimaksud, untuk dijawab lewat WA baik secara tertulis maupun rekaman suara.

Belasan “Pangarsa” (ketua) Pakasa itu mungkin belum representatif mewakili seluruh jumlah cabang yang menurut catatan Pakasa Punjer (Pusat), ada 40-an yang sudah terbentuk. Tetapi, dari jumlah itu banyak kepengurusan yang sudah habis masa bhaktinya, tetapi belum resmi diperpanjang atau terbentuk pengurus baru. Ada pula yang masih aktif tetapi sangat jarang melakukan komunikasi, kurang responsif.

Ada 4 pertanyaan mendasar yang ringan disampaikan kepada belasan ketua Pakasa cabang. Sebelum disebutkan 4 pertanyaan yang menggunakan kalimat campuran antara Bahasa Jawa “krama” dengan Bahasa Indonesia itu, perlu diketahui bahwa para ketua Pakasa yang menjadi objek jajak-pendapat rata-rata figur pilihan. Terpilih terutama karena pengalamannya memahami kraton dan Budaya Jawa, lebih 5 tahun.

Pengalaman memahami kraton dan Budaya Jawa tidak identik sebagai anggota atau pengurus Pakasa, karena sebelum Pakasa cabang terbentuk di berbagai daerah, didahului dengan munculnya para “sutresna budaya”. Mereka itu mengenal Budaya Jawa dan pengetahuan tentang kraton, dari berbagai sumber dan cara. Ada yang mengenal lewat media massa, organisasi/profesi atau melalui kerabatnya yang abdi-dalem.

AWAL PERJALANAN : Penampilan KGPH Hangabehi bersama komunitas pecinta dari Indonesia di acara pameran keris yang digelar di Museum Indonesia di Den Haag, Belanda, akhir Oktober 2025, adalah awal perjalanan untuk masa depan. (foto : iMNews.id/Dok)

Empat pertanyaan itu adalah, (1) Sebagai pimpinan/pengurus Pakasa cabang, apakah baru kali pertama mendengar, melihat (dari media) dan merasakan ada “ontran-ontran” pergantian tahta di kraton?. (2) Apakah memiliki ide solusi (sumbangan pemikiran) untuk menyelesaikan itu?. (3) Apakah adanya persaingan dalam pergantian tahta yang panas ini menjadikan kendor pengabdian atau justru menambah semangat?.

Pertanyaan terakhir, (4) Apakah peristiwa wafatnya Sinuhun PB XIII dan berbagai ekspresi yang muncul akibat proses pergantian tahta di kraton merupakan pengalaman pertama/baru bagi anda?. Dari pertanyaan yang disebar, ada yang sudah langsung menjawab, tetapi banyak yang belum karena berbagai sebab. Beberapa jawaban yang menonjol walau tidak ditanyakan, yaitu KGPH Hangabehi “lebih layak” jumeneng nata. (Won Poerwono – bersambung/i1)