Dua Ruang Display Museum Dikerjakan Saat Layanan Wisata Libur 40 Hari

  • Post author:
  • Post published:November 20, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Dua Ruang Display Museum Dikerjakan Saat Layanan Wisata Libur 40 Hari
SEDANG MENGECAT : Seorang pekerja teman Kiki (40), sedang berada di puncak "tutup-saji" Panggung Sangga Buwana, untuk mengecat ulang patung "Naga Muluk Tinitihan Janma" yang juga berfungsi sebagai penangka petir bangunan menara itu, belum lama ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tahap Penyelesaian Menara Panggung Sangga Buwana Juga Leluasa

SURAKARTA, iMNews.id – Hingga Kamis (20/11) ini, baru 18 hari waktu berjalan dari saat Sinuhun PB XIII wafat, Minggu 2 November 2025. Namun, suasana di Kraton Mataram Surakarta sudah “panas” oleh persaingan untuk memperebutkan tahta Sinuhun PB XIV. Dalam suasana seperti itu, tanggung-jawab pengerjaan proyek revitalisasi dua ruang display museum dan menara Panggung Sangga Buwana tidak bisa berhenti.

“Ya, memang benar kraton sedang berkabung dan diikuti persiapan proses menuju jumenengan Sinuhun PB XIV sebagai pengganti yang sudah surud. Tetapi, ada tanggung-jawab yang mau atau tidak mau harus dikerjakan sesuai kesepakatan. Yaitu pekerjaan revitalisasi ruang display museum dan Panggung Sangga Buwana. Karena, ada batas waktu yang tidak bisa dilanggar,” ujar KRMH Suryo Kusumo Wibowo.

KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu) yang dimintai konfirmasi iMNews.id, Kamis (20/11) siang tadi, membenarkan bahwa pekerjaan proyek di dua lokasi terpisah di kraton itu hingga kini terus berjalan. Revitalisasi Panggung Sangga Buwana disebut tinggal tahap penyelesaian saja, sedang renovasi dua ruang display museum baru berjalan sekitar dua minggu dan diharapkan cepat selesai.

Seperti pernah disebutkan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) saat menguji para siswa “babaran” (angkatan) 5 Sanggar Paes Tata-Busana Pengantin Jawa gagrag Surakarta, belum lama ini (iMNews.id, 29/10), dua pekerjaan revitalisasi di dua bangunan penting di kraton itu sedianya diharapkan selesai bersamaan awal November ini. Tetapi, pekerjaan sempat terhenti karena Sinuhun PB XIII wafat.

DENGAN TAMBANG : Karena semuanya harus dikerjakan secara manual, untuk menaikkan kusen kayu jati seberat 70-an kg dan lembaran papan kayu lantai di enam lantai Panggung Sangga Buwana, cukup dikerjakan dengan tambang yang diikat di rangkaian batang bambu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau tetap ada toleransi di saat kraton sedang berduka hingga 40 hari, bahkan hingga 100 hari, tetapi pekerjaan proyek revitalisasi dua bangunan bersejarah itu harus terus berjalan. Menurut keduanya, waktu pengerjaan proyek itu ada batas waktunya sesuai yang sudah disepakati dalam kontrak. Karenanya, walau suasana berkabung dan layanan kunjungan wisata libur panjang, proyek harus tetap berjalan.

“Layanan kunjungan wisata diputuskan libur panjang sampai 40 hari. Yang sudah terlanjur di awal masa berkabung itu, karena sudah disepakati juga. Pihak UIN Sunan Ampel (Surabaya) sudah setahun lalu mengajukan surat permohonan untuk melakukan studi kepustakaan di Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta. Jadi, ya tidak bijaksana kalau ditolak,” ujar salah seorang wayah-dalem Sinuhun PB XII itu.

Mengenai revitalisasi Panggung Sangga Buwana, seperti pernah disebut Ir Suwadi selaku pengawas perencanaan proyek, waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan secara manual sekitar tiga bulan. Pekerjaan didominasi penggantian materi kayu yang sudah rusak di beberapa titik lokasi, mulai dai kusen, lantai, pagar dan tangga di ruang menara yang secara keseluruhan ada enam lantai, sampai tutup saji di puncaknya.

Ir Suwadi yang banyak berpengalaman dalam pekerjaan renovasi bangunan kuno di kompleks kraton sejak tahun 1990-an itu, juga banyak mengenal dan memahami bangunan Panggung Sangga Buwana. Sebab itu, dia mengaku paham betul di mana titik lokasi kerusakan, derajat kerusakan, kalkulasi (prosentasi) kerusakan dan semua bagian struktur menara yang pernah dibangun Sinuhun PB III (1749-1788) itu.

DISINGKIRKAN SEMENTARA : Karena ruang display sedang dipugar, sejumlah barang cagar budaya pengisi Museum Art Gallery Kraton Mataram Surakarta disingkirkan sementara ke luar ruangan. KRMH Suryo Kusumo Wibowo menunjukkan sebuah benda unik. (foto : iMNews.id/Dok)

“Saat renovasi yang pertama, termasuk renovasi ringan. Hanya mengganti beberapa lembar papan lantai dan tangga. La yang sekarang ini, jauh lebih banyak. Karena sedikit terlambat akibat berbagai faktor. Seharusnya selama enam tahun (2017-2022) kemarin itu, sudah dilakukan renovasi. Tetapi Bebadan (Kabinet 2004) berada di luar kraton. Dan baru sekarang, alhamdulillah bisa dilakukan,” ujar Ir Suwadi.

Pekerjaan renovasi Panggung Sangga Buwana yang punya ketinggian 30-an meter, disebutkan tetap menggunakan teknologi manual hampir “full”. Hanya sekitar 10 orang tenaga yang dilibatkan, semuanya memiliki kemampuan teknis berpengalaman mengerjakan proyek perbaikan bangunan kraton. Kalau gedung-gedung modern memakai stager sca-folding kerangka besi, proyek menara itu hanya memakai batang bambu.

Kiki (40) selaku koordinator pekerja yang juga abdi-dalem setempat menyatakan, menjalankan pekerjaan proyek perbaikan bangunan-bangunan di kraton tidak boleh disamakan dengan pekerjaan proyek bangunan kebanyakan di luar kraton. Semua harus dilakukan secara manual, dan tiap-tiap tahapannya menggunakan pertimbangan spiritual religi, misalnya donga wilujengan ketika akan pekerjaan akan dimulai.

“La wong mau menebang pohon jati yang akan dijadikan materi bangunan saja harus mencari hari yang tepat, lalau diadakan wilujengan terlebih dulu. Begitu pula ketika mau menggergaji gelondong kayu jati, dijadikan potongan-potongan sesuai yang dibutuhkan. Semuanya harus penuh perhitungan dan diadakan wilujengan. Jadi, tidak bisa disrempeng dengan mesin seperti proyek di luar,” ujar Kiki.

RUANG TOPENG : Ruang pamer aneka jenis topeng karya kriya dari zaman Kediri hingga Mataram dan berakhir di Mataram Islam Surakarta, tersimpan di almari yang menempel tembok ruang museum yang kini sedang dipugar. (foto : iMNews.id/Dok)

Kiki yang sudah menjadi abdi-dalem tetap di bagian “rumah-tangga” (Keparak) sejak awal tahun 2000, punya banyak pengalaman di bidang pekerjaan teknik konstruksi khas kraton. Terlebih saat Panggung Sangga Buwana kembali direvitalisasi setelah lebih 20 tahun hanya direnovasi kecil-kecilan. Dia ikut merencanakan teknis memanjat “tutup saji” atau puncak menara, karena harus mengecat ulang patungnya.

Patung logam yang menjadi hiasan pucuk puncak Panggung Sangga Buwana bukan sekadar hiasan belaka. Patung yang terbuat dari besi itu, melukiskan “Sengkalan Memet” yang disebut “Naga Muluk Tinitihan Janma”, yang menunjukkan tahun ketika Sinuhun PB III membangun menara itu. Patung itu juga berfungsi sebagai penangkal petir.

Kiki juga melukiskan, untuk menaikkan lembaran “blabag” (papan) sepanjang 2 meter, lebar 25 cm dan tebal 3 cm, cukup diikat “dhadhung” (tambang) berukuran besar lalu “dikerek” (ditarik) ke atas tempat mengikat “dhadhung” di antara 6 lantainya. Saat iMNews.id melihat dari dekat prosesnya, ada 30-an lembar papan yang dinaikkan secara manual. Hal serupa juga dilakukan untuk sejumlah kusen pintu ukuran besar.

Oleh kalangan kerabat, kegiatan pekerjaan proyek ini justru harus diberi kesempatan untuk mengerjakan terus sesuai perencanaan yang sudah dimiliki. Selain ada kesepakatan soal batas waktu, kegiatan itu bisa mengisi kekosongan di masa berkabung agar kraton tetap tampak hidup. Walau kegiatan layanan kunjungan wisata libur sampai 40 hari, kegiatan dinas di kantor-kantor bebadan tetap berjalan.

UNTUK PENGANTIN : Upacara adat mantu di kraton seperti yang dialami Gusti Moeng di tahun 1990-an, sebagai pengantin wanita harus diangkut “kremun” (Joli Jempana) untuk upacara “panggih”. Ada beberapa joli peninggalan Mataram yang tersimpan di museum kraton hingga kini. (foto : iMNews.id/Dok)

Sementara itu, khusus untuk penambahan ruang display museum dalam revitalisasi tahap 1 ini, menurut KRMH Suryo Kusumo Wibowo ada 7 tenaga konservasi dan 5 tenaga teknis pemugaran yang diturunkan Badan Pemeliharaan Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jateng-DIY. Dia menegaskan, proses pengerjaannya sesuai SOP standar operasioal prosedur (SOP) pemeliharaan benda/artefak cagar budaya, tidak asal bongkar-pasang.

Dia juga menegaskan, dua ruang display yang sedang direvitalisasi itu kelak akan dijadikan ruang tambahan untuk memajang sekitar 200 item benda purbakala bersejarah berkait dengan Kraton Mataram hingga Surakarta. Sejumlah benda itu lama hanya tersimpan di ruang tertutup di lantai, karena ruang display sudah habis. Namun dia memastikan sejumlah benda budaya itu dalam kondisi aman dan utuh. (won-i1)