Gunungan, Simbol Upacara Adat di Kraton Paling Populer, Sarana Doa dan Sarat Makna (seri 3 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 29, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Gunungan, Simbol Upacara Adat di Kraton Paling Populer, Sarana Doa dan Sarat Makna (seri 3 – bersambung)
SEJUMLAH PASANG : Pada era baru sehabis kerusuhan 1998, Kraton Mataram Surakarta pernah mengarak hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud sejumnlah pasang atau belasan buah. Dari berbagai sisi dan segi, wujud rupa Gunungan memang tampak "berkelas", karena digunakan untuk "wilujengan nagari". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gunungan Garebeg Mulud, Garebeg Syawal dan Garebeg Besar, Penuh Makna dan Edukasi Kehidupan

IMNEWS.ID – TIGA jenis upacara adat kategori “Garebeg” yang digelar Kraton Mataram Surakarta, memiliki alasan yang rasional baik alasan, tujuan dan kelembagaan yang menggelar/menyelenggarakannya. Tiga jenis kegiatan berunsur adat, tradisi, seni dan budaya itu, adalah bagian dari semua aset upacara adat milik kraton. Semua digagas, disusun, dicipta dan dibangun menjadi rangkaian tatacara, dalam waktu panjang.

Semua rangkaian tiap-tiap jenis upacara adat, Sekaten Garebeg Mulud misalnya, adalah ekspresi doa masyarakat adat penerus Dinasti Mataram sampai di Surakarta Hadiningrat, bersama semua elemennya. Oleh sebab itu, kalau di kraton menggelar “kirab” arak-arakan (Garebeg-Red) prosesi membawa “Gunungan” (uba-rampe-Red), itu sejatinya adalah aktivitas ekspresi dalam doa yang berisi permohonan kepada Sang Khalik.

Seperti yang sering terucap melalui lafal doa sejumlah tokoh abdi-dalem juru-suranata hingga RT Irawan Wijaya Pujodipuro sekarang ini, kalimat doa permohonan itu adalah permintaan keselamatan dan lestarinya kraton dan seisinya. Tetapi tidak lupa, doa permohonan untuk meminta kepada Tuhan YME agar keselamatan dan kesejahteraan diberikan kepada bangsa Indonesia dan NKRI beserta seluruh isinya.

AGUNG DAN INDAH : “Kampuh” merah-putih yang menjadi penutup bagian bawah “Gunungan” bernama “Ancak Tantaka”, selain menjadikan agung dan indah, komposisi warna lambang/simbol NKRI itu sejatinya adalah “Sang Dwi Warna Gula Klapa”, cirikhas ikonik Kraton Mataram Surakarta yang berasal dari Majapahit. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Nyuwun kawilujenganipun lan lestantunipun Kraton Mataram Surakarta lan saisinipun”. “Ugi nyuwun kawilujengan lan lestantunipun bangsa Indonesia lan nagari RI lan saisinipun”. Demikian kurang lebih inti dari isi doa yang selalu dipanjatkan abdi-dalem juru-suranata, berganti-ganti generasi. Karena upacara adat di kraton simbol doa permohonan skala besar, maka disebut upacara adat “wilujengan nagari”.

Karena upacara adat adalah “wilujengan nagari”, maka ekspresi arak-arakan prosesi atau “garebeg” dalam format kirab yang mengarak “gunungan” atau dalam bentuk “uba-rampe” lain, pemandangan keramaiannya  ketika digelar Kraton Mataram Surakarta, adalah ekspresi ritus doa. Agar beda dengan kirab non-upacara adat seperti peringatan Hari Jadi Pakasa, misalnya, jelas ada unsur-unsur pembedanya.

Unsur-unsur pembeda itu, sama sekali tidak menyertakan komponen-komponen upacara adat yang sudah menjadi simbol “donga panyuwunan” bernuansa religi keagamaan. Jadi, walaupun ada kirab atau arak-arakan prosesi misalnya peringatan Hari Jadi Pakasa, bisa dipastikan tidak akan menyertakan bentuk “Gunungan”, gamelan pusaka, uba-rampe, peralatan dan tempat-tempat rute kirab yang sering digunakan dalam upacara adat.

“SAKWISE KADONGANAN” : Karena ada wujud yang didoakan dalam “wilujengan nagari” yaitu “Gunungan”, maka “sakwise kadonganan” (setelah didoakan) dibagi-bagikan secara merata kepada semua yang “ngalab berkah” di depan Masjid Agung. Selain Garebeg Mulud, dua jenis ritual Garebeg lain, juga disimbolkan “Gunungan”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sebagai ilustrasi, isi doa secara esensial untuk berbagai jenis upacara adat yang berkait dengan hari besar keagamaan, memang agak berbeda dengan ritual khusus haul peringatan wafat atau “khol” seorang tokoh leluhur Dinasti Mataram. Karena, dalam kalimat doa itu ada “panyuwunan” untuk seseorang tokoh yang sudah meninggal, agar diberi tempat yang sesuai dengan amal kebaikannya selain “donga kawilujengan”.

Sampai di sini menjadi lebih jelas beda antara “kirab garebeg” dan prosesi yang membawa “gunungan”, yang sedang menjadi eforia masyarakat di berbagai pedesaan di Jawa. Walau juga bisa disebut upacara adat, tetapi itu bukan “wilujengan nagari”. Karena haul, tradisi “Bersih Desa”, jamasan dan “Ganti Luwur” atau sejenisnya yang digelar di desa-desa, levelnya kecil yang disebut ritual “kenduri” atau “tumpengan”.

Bahkan event-event di berbagai desa itu, rata-rata diselenggarakan bukan atas dasar ekspresi permohonan doa atau keinginan secara kolektif. Tetapi, sekadar kegiatan keramaian untuk memberi pemandangan segar, yang digagas dan direncanakan hanya untuk tontonan dan hiburan semata. Sama-sama digelar di lingkungan kraton dan ada kirab, tetapi peringatan Hari Jadi atau HUT Pakasa berbeda, karena bukan upacara adat.

SEMANGATNYA BAIK : Sebuah rangkaian yang menyerupai “gunungan” ini, adalah wujud simbol donga wilujengan di level desa yang disebut “tumpeng”. Semangat meniru simbol upacara adat di Kraton Mataram Surakarta, memang baik. Tetapi perlu pemahaman lebih intensif, agar publik benar-benar paham makna dan tujuannya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Menjadi ilustrasi pula, ketika ada keramaian kirab budaya di berbagai wilayah untuk peringatan Hari Jadi atau HUT kabupaten/kota setempat. Kirab yang digelar juga meriah dan diikuti warga dalam jumlah banyak, aneka properti dan didukung berbagai komponen. Karena, kirab yang demikian bukan bagian dari upacara adat, apalagi dengan format “wilujengan nagari”, karena yang terjadi hanya eforia arak-arakan belaka.

Kirab dalam rangka Hari Jadi/HUT kabupaten yang ada, belakangan memang dipadukan dengan unsur ritual atau upacara adat haul wafat tokoh leluhur, misalnya pendiri kabupaten. Event seperti ini sudah dicoba di Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Jepara, yang diinisiasi didukung warga Pakasa setempat dan dari sisi tertentu sukses. Level “tumpengan” atau “kenduri” ini terwujud karena ada “kerja-sama” dengan Pemda.

Namun dalam event di tingkat desa maupun kabupaten itu, nilai edukasi budaya dan penghayatan nilai-nilai spiritual religi/kebatinannya tak menyatu dengan simbol-simbol dalam kirab dan upacaranya. Beberapa TV, berbagai akun pribadi medsos dan berbagai platform media di internet dari wilayah Jatim, Jateng utara dan DIY, banyak “memberitakan” peristiwa eforia yang justru berkesan jauh dari nilai-nilai idealistik.

“NGALAB BERKAH” : Perilaku berebut atau upaya untuk mendapatkan apem Keong Mas yang disebar saat berlangsung ritual tradisi Saparan di Pengging, Banyudono, Boyolali, medio September 2025 lalu, mirip “ngalab berkah” hajad-dalem Gunungan di kraton. Sebelumnya, apem disebar dari menara buatan yang tinggi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Terlebih ketika ekspresi hiburan musik live dan rekaman bergerak atau “mobile” yang bernama “Sound Horeg”, digabungkan ke dalam arak-arakan kirab itu. Semua sajian kirab itu berubah total hanya berkesan sebagai hingar-bingar, heboh dan hiburan belaka dengan polusi auditif berlebihan. Dari sana jelas tak mungkin lahir nilai-nilai positif, makna ideal dan edukasi fundamental, kecuali hiburan sesaat.

Begitu pula ketika hajad-dalem Gunungan sebagai upacara adat dan “wilujengan nagari” yang digelar di kraton lalu ditiru di desa-desa, menurut KP Budayaningrat sesuai “paugeran” di kraton tidak boleh. Menjawab pertanyaan iMNews.id siang tadi, tokoh dari “Lembaga Kapujanggan” di kraton itu menyebut, dalam struktur sosial masyarakat adat, “Gunungan” hanya boleh diadakan untuk kegiatan upacara adat di kraton.

“Kalau di masyarakat, untuk keperluan pribadi bisa dibuat ‘inthuk-inthuk’, untuk tingkat desa dan kabupaten ‘tumpengan’. Semua ritualnya bisa disebut ‘kenduri’. Kalau kraton, levelnya sudah ‘wilujengan nagari’. Wujud simbolnya ‘Gunungan’, keperluannya macam-macam, sesuai hari besar keagamaan apa?. Semua jenis upacara adat di kraton, lengkap dengan tatacaranya yang sakral,” tunjuknya. (Won Poerwono – bersambung/i1)