


Pakasa Jepara dan Ponorogo Sudah Merambah Generasi Muda
IMNEWS.ID – WALAU rata-rata umurnya baru 1 – 6 tahun, bila dihitung dari masa “Pakasa Reborn” mulai tahun 2004, tetapi sepak-terjang organisasi Pakasa di tingkat cabang di sejumlah daerah, rata-rata menunjukkan ada semangat dan kegairahan untuk terus bergerak, berkembang dan maju secara kesinambungan untuk menembus masa depan yang panjang. Hal yang berkesinambungan inilah yang begitu cepat direspon dan ditindaklanjuti oleh Pakasa Cabang Jepara dan Cabang “Gebang Tinatar” Kabupaten Ponorogo (Jatim), yang secara samar-samar dan tidak langsung juga diikuti oleh beberapa cabang lain.
Penulis yang sempat mengikuti sepak-terjang dua Pakasa cabang itu dalam kegiatan yang digelar di masing-masing daerahnya di tahun 2022 ini, menyaksikan langsung bagaimana pendekatan, pengenalan dan upaya merangkul kalangan generasi muda Pakasa itu secara riil dilakukan di lapangan. Proses pendekatan, pengenalan dan upaya merangkul itu memang butuh waktu, kesabaran dan segala daya dukungnya dalam irama estetika budaya Jawa, yang sifatnya evolusif dan gradual, bukan revolusif dan bukan pula radikal, serta hasilnya baru bisa dipetik dalam satu atau dua dekade.
Meski dua Pakasa cabang itu sudah memulai melakukan hal yang sama dalam rangka proses regenerasi, tetapi ada perbedaan alasan dan tujuan akibat perbedaan situasi dan kondisi daerah tempat masing-masing cabang itu lahir, tumbuh dan berkembang. Pakasa Cabang Jepara baru berusia 2 tahun dan Pakasa Gebang Tinatar sudah 6 tahun, tetapi yang satu langsung “to the point” menyasar kawula muda pada tahap pengembangan, sedangkan Pakasa Gebang Tinatar sudah tersedia potensi kawula muda berlimpah-ruah termasuk dari kalangan pesantren yang rata-rata dari keluarga Pakasa yang proses pendekatan, pengenalan dan upaya merangkulnya cukup dalam waktu singkat.

Memang, proses pendekatan, pengenalan dan upaya merangkul belum tentu akan mendapat hasil akhir sesuai yang diharapkan, atau justru malah bisa melebihi ekspektasi, karena semua tergantung dengan bagaimana proses itu dilalui yang sangat berkait dengan dinamika sosial, budaya, ekonomi bahkan politik dalam skala kecil maupun besar di yang terjadi. Karena situasi dan kondisi serta dinamika seperti inilah yang mewarnai dan dialami sejak organisasi Pakasa dilahirkan Sinuhun PB X pada 29 Nobember 1931, yang berjalan seiring perjalanan lembaga “nagari” Mataram Surakarta dengan suasana pasang-surutnya hingga masih ada wujudnya sekarang ini.
“Untuk kepengurusan awal saat Cabang Jepara Berdiri, Pakasa banyak didukung kalangan usia dewasa di atas 40 tahun. Karena memang butuh modal untuk berpikir, merencanakan dan mengumpulkan segala macam sumber daya untuk menggerakkannya. Ketika memasuki proses pengembangan untuk melahirkan pengurus anak cabang, komposisisinya bisa terbalik 60 persen kawula muda dan 40 persen usia dewasa. Atau bisa fifty-fifty. Itupun bisa dievaluasi dari waktu ke waktu, yang 60 persen kawula muda bisa menjadi 70 persen. Yang jelas, sekarang simpatisan generasi muda Pakasa Jepara juga melimpah,” jelas KRA Bambang Setiawan Adiningrat, yang dihubungi iMNews.id, belum lama ini.
Keterlibatan kalangan generasi muda dalam jumlah lebih banyak dari yang dewasa, bisa dilihat saat iMNews.id mengikuti event ritual kirab budaya “Lurup Hinggil Eyang Sentono” di kompleks makam tokoh pejabat Kraton Mataram (Kerta-Plered) yang menjadi cikal-bakal desa di Astana Pajimatan Desa Sukodono, akhir Oktober. Dari 200-an peserta kirab dan ritual ganti selubung makam (Lurup Hinggil), 70 persen adalah kalangan generasi muda usia 30 ke bawah dari kalangan siswa, mahasiswa dan pesantren (Lembah Manah-Red). Begitu pula kegiatan-kegiatan berskala desa, kecamatan hingga berskala nasional seperti kirab Hari Pahlawan, generasi muda Pakasa tampak sedang menebar pesona daya tarik untuk menggandeng kawula muda lainnya bergabung ke Pakasa Cabang Jepara.

(iMNews.id/Won Poerwono)
Tebar pesona daya tarik yang lebih agresif dan lebih pro-aktif menjemput bola, jelas dilakukan Pakasa Cabang Ponorogo yang sudah tampak “bukan orang lain” bagi kalangan lembaga pendidikan khususnya tingkat SMA dan kalangan pesantren khususnya di Pondok Pesantren Tanfidzul Qur’an, Desa Pulisari, Kecamatan Jambon. Hasil akhir dari pendekatan, pengenalan dan upaya merangkul dengan tebar pesona daya tarik yang lebih agresif dan lebih pro-aktif menjemput bola, pasti akan dipetik di kemudian hari yang lebih menjanjikan, mengingat warga Kabupaten Ponorogo mayoritas warga Pakasa yang selalu terawat ikatan kekerabatannya dalam waktu yang panjang.
Hal yang disebut lebih pro-aktif menjemput bola itu ditunjukkan dengan kunjungan silaturahmi Ketua Pakasa Cabang KRRA MN Gendut ke sekolah-sekolah setingkat SMA dan pesantren. Menurut KRAT Sunarso Suro Agul-agul (Sekretaris Cabang), ada beberapa SD dan SMP yang rata-rata memiliki kegiatan seni “jathilan” dan “Kethek Ogleng” diajak berwisata budaya ke Kraton Mataram Surakarta saat menggelar upacara adat untuk tampil memeriahkan. Juga kalangan siswa SMA diajak mengikuti tahlil dan dzikir upacara adat khol Sinuhun PB XII, beberapa waktu lalu.
Kemampuan tebar pesona daya tarik dan modal dasar ketersediaan SDM masyarakat Kabupaten Klaten, sebenarnya tidak jauh berbeda jauh dengan masyarakat Kabupaten Ponorogo, karena jumlah warga Pakasa yang terdaftar memohon KTA sama-sama di angka 3 ribuan dengan ribuan pula jumlah simpatisan yang umumnya kalangan generasi muda. Namun, Pakasa Klaten tak seagresif Ponorogo, mungkin karena kalangan pengurusnya belum bisa berbagi tugas atau mendistribusikan peran untuk sejumlah tugas, atau mungkin proses pendekatan, pengenalan dan upaya merangkul langsung datang bersinergi ke lembaga-lembaga sekolah belum bisa dilakukan.

“Pakasa Cabang Klaten sudah lengkap memiliki pengurus anak cabang di semua kecamatan, yaitu 26 kecamatan. Bahkan ada dua kecamatan yang pengurusnya dobel (dualisme kepengurusan-Red). Yang memohon KTA ada 3 ribu lebih, tetapi baru sebagian yang bisa diwujudkan karena menunggu giliran. Ketertiban secara administrasi belum berjalan baik. Kalangan pengurus dan anggota Pakasa sebagian besar usia dewasa, bahkan sudah sepuh, maka kurang produktif. Tantangannya datang dari kalangan internal yang ingin mendirikan organisasi tandingan serupa Pakasa. Tepat tanggal 29 November kemarin, Pakasa Klaten menggelar wilujengan Hari Jadi, ditandai lomba macapat untuk kalangan pelajar,” jelas KP Probonagoro selaku Ketua Pakasa Cabang Klaten yang dihubungi iMNews.id secara terpisah, kemarin.
Sukses dalam pengembangan dan berkegiatan yang dialami Pakasa Ponorogo, Cabang Klaten dan juga Pakasa Cabang Jepara, tentu menjadi cita-cita cabang-cabang lain seperti Pakasa Cabang Trenggalek yang baru berdiri 2 tahun tetapi banyak menghadapi tantangan, di antaranya dari otoritas pemerintah kabupaten setempat yang “tidak akomodatif”. Sedangkan Pakasa Cabang Nganjuk yang diketuai KRAT Sukoco baru setahun berdiri, kini juga sedang berusaha mencari jalan untuk mengembangkan organisasinya, begitu pula Pakasa Cabang Pati yang kepengurusannya baru ditetapkan dan dilantik beberapa bulan lalu.
Dari catatan KRMH Kusumo Wibowo selaku pengurus Pakasa Punjer di Kraton Mataram Surakarta, hingga kini sudah ada 19 Pakasa cabang yang terbentuk, termasuk Pakasa Cabang Blitar (Jatim) yang dilantik dan ditetapkan bulan November kemarin. Dengan 19 cabang Pakasa, bila semuanya bisa membawa kontingen seni budaya dan tampil pada peringatan Hari Jadi 91 Tahun Pakasa yang akan digelar akhir Desember hingga 2 Januari 2023 nanti, pasti akan mewujudkan event seni budaya khas Jawa yang meriah, indah dan membanggakan, apalagi memiliki implikasi prospektif di bidang industri pariwisata yang bisa menghasilkan devisa negara. (Won Poerwono-habis/i1)