Menbud Fadli Zon di Museum Kraton, Kunjungan “Membangkitkan” Kenangan (seri 5 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 8, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Menbud Fadli Zon di Museum Kraton, Kunjungan “Membangkitkan” Kenangan (seri 5 – bersambung)
PANTANG DIPERMALUKAN : Sosok Gembong Supriyanto (alm), adalah tokoh otodidak di bidang bisnis hiburan tradisi "Pekan Syawalan". Kreasi inovatif yang belum "mapan" itu inginnya selalu tampil "perfect", hingga pantang dipermalukan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena Operasional Pekan Syawalan Rugi, Gembong Rela Jual Rumah untuk Tombok

IMNEWS.ID – SAMPAI tersaji di empat seri sebelumnya, banyak sekali “kenangan” yang berhasil dibangkitkan oleh peristiwa kunjungan Menbud RI Fadli Zon di kraton, Kamis (26/3). Kenangan itu, tentu lahir dari soal patung kepala raksasa “Canthik Perahu” khas Sinuhun PB IV, yang sudah menjadi pusaka di museum Kraton Mataram Surakarta bernama Kiai Rajamala yang sempat disebut-sebut Gusti Moeng.

Kenangan tentang karya senirupa kriya kayu patung Canthik Rajamala, seperti yang dijelaskan Gusti Moeng saat berdialog dengan Menbud RI Fadli Zon, siang itu (iMNews.id, 26/3), salah satunya tentu bersinggungan dengan Pekan Syawalan di Taman Jurug. Karena karya kreasi Gembong Supriyanto (almh) itu, ingin merefleksi Canthik Rajamala “karya” GRM Sugandhi saat ayahandanya Sinuhun PB IV bertahta.

Itu adalah imajinasi Gembong Supriyanto, mantan kreator sirkuit “Moto Cross” (1975-1979) dan pegawai Diskotek “La Playa” (1970-1975) sekaligus EO “Pekan Syawalan” (1979-2004), yang semuanya berada di Taman Jurug. Imajinasi yang lahir dari keberadaan Bengawan Solo yang menjadi pembatas bagian timur Taman Jurug itu, juga mengambil kisah petualangan Mas Karebet yang juga bernama Jaka Tingkir.

Jadi, Gembong punya imajinasi tentang kreasi tradisi Pekan Syawalan, dengan mengambil dua simbol yaitu Canthik Rajamala dan petualangan Jaka Tingkir dengan “getheK”, yang ternyata merupakan dua sejarah tentang kraton dan tokohnya yang berbeda zaman, bahkan terpaut sekitar dua abad. Tetapi, kreasi inovatif Gembong itu tetap dalam bingkai sejarah Mataram, dari Pajang hingga Mataram Surakarta.

AWAL-MULA : Di saat Pekan Syawalan dengan fokus acara kirab gethek Jaka Tingkir, awal-mulanya sederhana. Yaitu mengkreasi gethek yang bisa ditumpangi tokoh Jaka Tingkir dan rangkaian propertinya, misalnya replika beberapa ekor buaya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Persoalan mengurai urutan sejarah secara kronologis dan menjelaskan hal ini kepada publik sebagai edukasi yang ideal bagi generasi bangsa, memang tak pernah terpikirkan oleh Gembong. Maklum, dia adalah seorang praktisi murni hasil meramu pengalamannya di lapangan, baik di bidang manajemen hiburan malam (diskotek), manajemen teknis penyediaan sirkuit balap “Moto Cross” maupun EO pasar tradisi.

Oleh sebab itu, Gembong sama sekali tak pernah melakukan berbagai kajian teoritis mengenai berbagai hal yang berkait dengan kegiatan yang akan digelar. Begitu pula, tak ada kajian pasar secara teoritis mengenai aspek ekonomis matematis tentang kegiatan yang sudah dilakukan untuk evaluasi bagi kelanjutan ke depan. Semua yang dilakukan, nyaris spontanitas dan “on the spot” di lapangan.

Dalam benaknya hanya ada lintasan berkegiatan, berbasis seni, budaya dan tradisi serta adat yang berkiblat ke Kraton Mataram Surakarta, selebihnya ke Kadipaten Mangkunegaran. Karena punya asumsi bahwa tiap Datang Lebaran masyarakat butuh hiburan, maka Taman Jurug tempatnya bekerja, harus bisa mewadahi itu. Karena hanya punya kebon-binatang (bon-bin), maka perlu sajian lain sebagai daya tarik.

Karena masih banyak ruang tersedia di kawasan bon-bin Taman Jurug, maka di benak Gembong punya pemikiran harus ada kios-kios atau kavling dasaran untuk sejumlah pedagang dan bakul oprokan. Makanan, minuman dan aneka jajanan yang disukai pera pengunjung Pekan Syawalan, menjadi dasar penyediaan ruang untuk para pedagangnya. Aneka jenis wahana mainan yang menarik dan masih murah pada zamannya, tentu ada.

KONSEP HIBURAN : Karena dasar tujuan utama “Pekan Syawalan” untuk mengundang pengunjung sebanyak-banyaknya ke Taman Jurug, maka tokoh pemeran Jaka Tingkir yang dihadirkan tokoh pelawak terkenal saat itu, misalnya Dono Warkop. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ruang untuk para pengusaha jasa berbagai jenis hiburan, tersedia luas di Taman Jurug. Maka, lambat-laun ada pengusaha jasa grup aneka wahana seperti yang terkenal di Klaten 1-2 dekade lalu, selalu hadir dengan aneka jenis wahana, mulai dari permainan ketangkasan, komedi putar, goa hantu dan sebagainya. Gembong tidak lupa menyediakan ruang khusus untuk musik dangdut “live”, yang trend saat itu.

Karena dasar pemikiran Gembong sajian Pekan Syawalan harus berbasis tradisi, seni dan budaya Jawa, maka di sela-sela gegap-gempita aneka jenis hiburan di Taman Jurug saat lepas Lebaran atau H1-7 selalu disediakan ruang untuk sajian berbagai kesenian tradisional. Mulai dari musik keroncong di Sanggar Gesang, wayang kulit, ketoprak, tayub, klenengan, jaran dor hingga sajian seni reog Ponorogo.

Pekan Syawalan yang digelar Gembong Supriyanto, pelaksana sekaligus pimpinan EO Tiger Enterprize dan Solo Gema Budaya lebih dari 2 dekade itu, tentu semakin jauh gaungnya, ke luar wilayah Surakarta bahkan ke luar Jawa. Karena, berbagai sarana promosi digunakan, mulai dari radio (swasta dan RRI), berbagai media cetak dan menyebar pamflet sampai ke terminal dan stasiun KA di perantauan seperti Jakarta.

Tak hanya itu, Gembong juga rajin dalam soal promo eventnya yang dilakukan secara manual, membawa mobil bak terbuka berkeliling ke desa-desa di kabupaten sekitar Kota Surakarta. Melalui mikropun dari sound system di mobil bak terbukanya, loudspeaker-nya menyuarakan jadwal acara dan ragam sajian Pekan Syawalan selama seminggu penuh. Tokoh Panakawan menebar pamflet/brosur acara Pekan Syawalan.

MAKIN SERIUS : Ketika Gembong semakin menyadari makna kesejarahan event yang digelar, maka tokoh pemeran Jaka Tingkir sudah tidak “sembarang orang”. Pemilihan KGPH Hangabehi, waktu itu, menandakan event Pekan Syawalan makin serius. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selama seminggu sebelum Lebaran (H1), berbagai jenis media promosi dilakukan untuk mengundang pengunjung Pekan Syawalan. Promonya yang manual hanya dilakukan  pagi hingga sore, sekitar pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Begitu juga berbagai sajian acaranya di arena Pekan Syawalan, hanya berlangsung mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Karena, Taman Jurug tak punya sarana untuk beroperasi di malam hari.

Sebegitu banyak jenis dan ragam sajian Pekan Syawalan, hampir semuanya harus dibiayai EO yang memborong event “Pekan Syawalan”. Termasuk, biaya mendatangkan tokoh pemeran Jaka Tingkir dan properti perlengkapan penampilannya, misalnya artis dari Jakarta. Maka, Gembong selaku EO dan penanggung jawab pelaksanaannya, yang bertanggung-jawab terutama operasional Pekan Syawalan selama seminggu itu.

Selama dua dekade menjalankan “bisnis” hiburan yang berbasis tradisi dan tambahan unsur modern itu, Gembong bisa disebut “tangguh”. Walaupun lebih sering “jatuh-bangun” karena antara pemasukan dan pengeluaran, tidak seimbang. Manajemen tradisional yang condong ke arah “tidak disiplin”, membuatnya sering “kebobolan” alias “tidak setimpal” yang didapat, kalau tidak boleh disebut “rugi”.

Karena manajemen tunggal diterapkan untuk mengurus berbagai kebutuhan operasional Pekan Syawalan, maka bebannya (fisik, teknis dan pemikiran) terlalu besar dibanding kemampuannya membagi dan mengelolanya. Karena, mulai mencari grup penyaji, membayar mereka, promosi keliling sampai “among tamu” dilakukan sendiri. Di sinilah, titik lemah sering muncul dan mengganggu sistem kontrol pda dirinya.

PARA PELAWAK : Para pelawak pemeran Jaka Tingkir di Pekan Syawalan, dimaknai unsur hiburannya. Hadirnya aktor laga Advent Bangun, karena unsur daya-tariknya. Terakhir, Gembong melibatkan tokoh dari lingkungan kraton karena berbagai alasan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sistem kontrol yang sering terganggu karena padatnya urusan yang ditampung, membuatnya tak punya ruang dan waktu untuk mengkalkulasi sumber-sumber income. Begitu pula, tak banyak waktu, tenaga dan pemikiran untuk berkomunikasi dengan para relasi dalam rangka mencari dukungan sponsor, yang bisa meringankan beban pembiayaan event. Gembong lemah dalam kalkulasi, spekulasi dan insting bisnis.

Soal kelemahan Gembong dalam hal itu, teman-teman akrabnya sudah sangat memahami dan memakluminya. Mereka semua yang sering diajak “bergelut” tiap event Pekan Syawalan, sudah sangat paham sifat dan kebiasaan Gembong. Kalau habis Pekan Syawalan sering tampak “kethil-kethil”, itu pertanda rugi. Dan semua bisa maklum  jika “rumah” Gembong sampai dijual, untuk tombok kerugian “Pekan Syawalan”. (Won Poerwono – bersambung/i1)