Semangat “Membangun” Ikon Kota di Saat Kraton Mengalami “Marginalisasi”
IMNEWS.ID – GAGASAN Gembong Supriyanto (alm) mengkreasi sebuah keramaian dan tontongan berbasis tradisi yang diberi nama “Pekan Syawalan” di Taman Jurug (1989-2004), memang bukan pekerjaan seorang pebisnis hiburan profesional. Maka sejak gagasan lahir dari imaginasi seorang kreator sirkuit “Moto Cross” itu, tak mengenal penyusunan perencanaan berdasar konsep ideal maupun operasional.
Gembong adalah seorang praktisi murni di lapangan, berkreasi berdasar pengalaman dan perkembangan penalarannya, dari yang dilihat dan dialami di lapangan. Baginya, tak ada teori ilmiah maupun penelitian ilmiah untuk mempraktikkan dan membuktikan apa yang dipahaminya di lapangan. Maka, ketika mengkreasi “Pekan Syawalan”, tentu berdasar dari apa yang dilihat dan dipahami di lapangan.

Memang, figur tokoh satu ini pernah berpengalaman ketika di Taman Jurug dijadikan “lokalisasi” bagi jasa hiburan “modern” seperti diskotek sebelum berubah menjadi sirkuit “Moto Cross” di tahun 1975-an. Mungkin itu yang ikut memberinya bekal pengalaman mengelola usaha jasa hiburan. Meskipun, event “Pekan Syawalan” sangat jauh beda sifat dan karakter komoditas dan pemasarannya, khususnya sasaran pasar.
Karena berbekal beberapa pengalaman dan “pengetahuan”, event “Pekan Syawalan” berhasil digelar Gembong, dari tahun ke tahun selalu ada kemajuan dari sisi sajian. Karena di dalamnya disajikan berbagai panggung hiburan tradisional selama “sepekan” ditambah keramaian pasar, maka menjadi daya tarik tambahan terhadap eksistensi kebon binatang yang ada, apalagi ditambah kirab gethek Jaka Tingkir.

Di seri sebelumnya (iMNews.id, 5/4), sudah disinggung antara landasan fundamental sejarah tentang gethek Jaka Tingkir dan Canthik Perahu Rajamala. Dua ikon sejarah dari dua zaman berbeda yang terpaut sekitar 2 abad ini, sangat mungkin saat itu belum dipahami Gembong. Sampai yang bersangkutan “pensiun” dari kegiatan di Jurug 2005 dan meninggal sekitar 3 tahun lalu, mungkin belum memahami soal itu.
Terlepas dari ekspresi kirab gethek Jaka Tingkir yang salah satunya menggunakan simbol Canthik Rajamala tetapi ada hal penting yang belum dipahaminya, tetapi gagasan Gembong untuk menyajikan hiburan berbasis tradisi dan budaya, apalagi berkiblat ke kraton perlu diapresiasi. Faktanya, “tradisi” Pekan Syawalan itu telah menjadi ikon Taman Jurug, bahkan ikon Kota Surakarta, yang dikenal luas.

Membangun ikon di suatu tempat yang bisa terkoneksi dengan lingkungan terdekat sampai yang terjauh, butuh proses waktu panjang dan sangat perlu inovasi untuk bisa “berhasil” dan dikenal luas seperti “Pekan Syawalan”. “Keberhasilan” Gembong, terbukti mengalahkan ikon Taman Jurug sebagai kebon binatang, walau sampai berganti nama Raman Satwa Taru Jurug (TSTJ) dan kini Taman Safari Jurug.
Sejak Gembong pensiun “total” dari “Pekan Syawalan” di Taman Jurug dan berbagai kegiatan lain di luar itu, memang semakin tidak terdengar suara gegap-gempita jika tiba saat lepas Lebaran di taman rekreasi pinggir Bengawan Solo itu. Ketika dianalisis, memang ada beberapa alasan yang melatar-belakangi fakta-fakta itu. Bahkan ada bandingan soal hiburan di tempat lain, yang bisa memperkaya wawasan.

Sebelum merunut ke beberapa persoalan lebih dalam, memang perlu dipahami suasana perkembangan di bidang hiburan yang berbasis modern, khususnya yang tersaji di Kota Surakarta yang punya spesifikasi unik ini. Dengan spesifikasi khusus dan unik itu, faktanya Kota Surakarta pernah punya aset “Kebon Raja” yang memadukan antara sarana ritual “Malem Selikuran”, kebon binatang dan pemandangan “Segaran”.
Sajian tiga unsur itu, jelas merupakan peninggalan zaman Sinuhun PB X bertahta (1893-1939), bahkan dipadukan dengan sarana edukasi pengetahuan yang ada di Museum Radya Pustaka. Konsep yang dibangun Sinuhun PB X ini sangat tepat karena museum yang bisa dilengkapi perpustakaan, bisa menjadi sarana rekreasi otak dan memori, sedangkan bon-bin menjadi sarana rekreasi batin dan pemikiran yang segar.

Tetapi, fakta perkembangan zaman berbicara lain, terlebih sejak NKRI lahir dan Kraton Mataram Surakarta menjadi bagian di dalamnya. Ternyata, tak banyak pemimpin negara dan bangsa ini yang bisa memahami rangkaian pemikiran futuristik Sinuhun PB X itu. Terlebih, ketika bangsa dan negera ini “membiarkan” supremasi politik partai yang mendominasi kekuasaan, dan rela mengorbankan kearifan budaya.
Dominasi kekuasaan di tangan parpol, membuat Taman Sriwedari kehilangan “Kebon Raja”, karena bon-binnya dipindah ke Taman Jurug. “Segaran” dan “kupel limasan” yang “dibangun” Sinuhun PB X sebagai tempat ritual “Malem Selikuran”, “disewakan” menjadi restoran. Sebagian lain dari keseluruhan lahan yang sudah digugat para ahli waris mulai tahun 1970-an, dirubah Pemkot menjadi kios-renteng dan dijual.

Sejak itu, “Kebon Raja” perlahan-lahan mati. Taman Sriwedari, perlahan-lahan juga pudar namanya. Yang tersisa tinggal Museum Radya Pustaka, yang isinya nyaris berubah menjadi “duplikat” dan barang-barang asli dari aset kraton yang dipajang di situ, kini sulit dijamin apakah masih asli. Belakangan muncul kabar, museum akan diambil-alih Pemkot, yang tentu akan dipertahankan LDA sebagai pelindung aset.
Gedung WO Sriwedari yang mulai dirintis sejak Sinuhun PB X, kini masih eksis. Tetapi, sebuah taman hiburan yang menyewa sebagian Taman Sriwedari sejak 1985 dan panggung hiburan musiknya sudah menjadi ikon Kota Surakarta, sekitar 10 tahun lalu berakhir. Belum ada percobaan serius memberi solusi untuk melestarikan ikon ini di tempat lain. Yang jelas, nasibnya bisa sama dengan ikon “Pekan Syawalan”.

“Pekan Syawalan” mungkin masih bisa dibangkitkan dan eksis kembali menjadi event berbasis tradisi dan Budaya Jawa yang berorientasi pada kraton. Dari dasar konsepsinya, tinggal melengkapi dan meluruskan saja agar tidak menyimpang dari fakta sejarah, lalu bisa “meracuni” pengetahuan publik. Karena faktanya, objek bonbin yang “bermodal” Kebon Raja (1970-an), kini juga tak punya efek “ideal”.
Soal hiburan berbasis modern atau semi-modern, memang sulit dikembangkan di Kota Surakarta. Karena, sejarah perjalanan hiburan di Taman Jurug, kemudian di Bale Kambang dan yang diekspresikan di Pamedan Mangkunegaran, Benteng Vastenberg juga De’Tjalamadoe, tak bisa bertahan lama. Dari beberapa lokasi hiburan itu, hampir tak ada yang ideal untuk mengedukasi generasi bangsa, dalam pelestarian budaya.

Dalam persoalan sajian jasa hiburan, apalagi yang sudah masuk bisnis industri hiburan seperti di Pamedan Mangkunegaran, Benteng Vastenberg dan De’Tjalamadoe, memang sudah sangat jauh dari wilayah urusan kraton. Maka, sajian hiburan di beberapa tempat itu tak punya dukungan legitimasi dari masyarakat, yang menjadi “pasar” atau “konsumennya”. Berbeda dengan Pekan Syawalan yang berbasis tradisi.
Belakangan, Pemkot memang masih “bermain mata” dengan tokoh yang selama ini menginisiasi ritual “Malem Selikuran” di Taman Sriwedari. Tetapi, “legalitasnya” sulit dipertanggungjawabkan dalam waktu yang panjang ke depan. Terlebih, daya dukung legitimasi dan materi utama ritual itu, sudah ditarik Bebadan Kabinet 2004 kembali ke Masjid Agung. Kini, kraton kembali menjadi ikon, dari marginalisasi. (Won Poerwono – bersambung/i1)
