Ketua Pakasa Magelang Akan Pimpin Tim dan Rombongan ke Donan, Nusakambangan
MAGELANG, iMNews.id – Setelah dua dekade lebih tak pernah disebut-sebut ke ruang publik, kini nama kembang Wijaya Kusuma muncul kembali mulai menjadi perbincangan publik. Bahkan, Minggu (15/3) kemarin di “ndalem wetan” Dusun Trojayan, Desa Paremono, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, ada pertemuan sejumlah unsur pimpinan Pakasa dari beberapa cabang, untuk membahas rencana memetik bunga itu.
Rencana memetik bunga Wijaya Kusuma, seperti dijelaskan KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat (Ketua Pakasa Cabang Magelang) bukan sekadar kegiatan ritual biasa. Tetapi karena ada alasan rasional, yaitu untuk keperluan menggenapi syarat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi. Untuk itu, rapat yang diikuti sekitar 50 orang sore kemarin, telah menetapkan tim pemetik dan rombongan pendukungnya.

“Jadi sebenarnya, sejak ada ‘dhawuh’ dari Pakasa Punjer (Rabu, 11/3) pengurus Pakasa Cabang Magelang sudah menggelar rapat, sehubungan dengan diskusi yang sebelumnya kami lakukan dengan pihak kraton dan narasumber. Intinya, kami sanggup menjalankan tugas untuk membentuk tim/panitia persiapan dan pemetik sekar Wijaya Kusuma. Saya yang diminta jadi ketuanya yang diamini dalam rapat kemarin”.
“Mungkin masih akan ada rapat sekali lagi, bisa lewat zoom meeting, untuk membahas detil urutan acara dan tatacaranya. Kami bekerjasama dengan semua utusan Pakasa cabang sebagai tim pendukung dalam pelaksanaan. Kami juga bekerjasama dengan Pemkab Magelang. Dan, tentu bekerjasama dengan Pakasa Cabang Cilacap yang menjadi sumber informasi lokasi kembang Wijaya Kusuma,” ujar KRAT Bagiyono.

Ketua Pakasa Cabang (Kabupaten) Magelang yang dihubungi iMNews.id siang tadi lebih lanjut menegaskan, semua utusan Pakasa cabang yang hadir pada intinya mendukung rencana hingga pelaksanaan memetik kembang Wijaya Kusuma itu. Bahkan, melalui para utusan, pengurus Pakasa cabang lain yang berhalangan hadir menitip pesan, siap mendukung pelaksanaan ritual “hamiwaha sekar” Wijaya Kusuma itu.
Rapat yang dijadwalkan dimulai pukul 15.00 WIB kemarin, diawali dengan ziarah ke makam Ki Ageng Karotangan di Astana Pajimatan/Pasarean Ageng Paremono, Desa Paremono, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang yang masih sekompleks dengan lokasi rapat. Ziarah dan doa dipusatkan di makam Patih Sindureja, yang berjasa memetik kembang Wijaya Kusuma saat Sinuhun PB II jumeneng di Kraton Kartasura.

Jejak sejarah jasa-jasa Patih Sindureja yang berhasil memetik bunga Wijaya Kusuma itu, menurut penelitia sejarah Ki Dr Purwadi masih bisa dilacak dalam sata manuskrip. Dari kajian yang dilakukan, yang dilakukan Patih Sindureja diyakini meneladani tatacara yang dilakukan pada zaman rezim penguasa atau raja-raja Mataram sebelumnya, dan dijadikan pedoman raja-raja Mataram Islam setelah PB II.
Namun, bagaimana “lampah-lampah” tatacara adat pemetikan bunga yang lambang “kehidupan” dan “kawicaksanan” para pemimpin dari zaman sebelum Mataram, bahkan sebelum Kraton Demak itu?, data-data manuskrip belum disiapkan. KRAT Bagiyono hanya menyebutkan rencana (tatacara) urutan waktu ziarah dari Minggu (15/3) kemarin, diulang pada 2 Mei mendatang diteruskan berangkat ke Cilacap.

“Sesuai petunjuk dari tim spiritual Pakasa Magelang, yang bertugas memetik hanya seorang yang punya kriteria jujur, amanah, dapat dipercaya dan tanpa pamrih. Setelah sampai di Cilacap, tim diiring para petugas yang telah ditunjuk melakukan ritual donga wilujengan di lokasi kembang, sebelum memetik kembang. Semua diharap mengenakan busana Jawi warna putih,” ujar KRAT Bagiyono menyebut urutan acaranya.
Menurutnya, hasil kesepakatan rapat dan tim spiritual akan dilanjutkan diskusi pada pertemuan berikut (zoom meeting) untuk membahas detail tatacaranya. Sementara, KP Budayaningrat yang dihubungi iMNews.id di tempat terpisah siang tadi menyebutkan, tatacara adat metik sekar Wijaya Kusuma tertulis dalam naskah manuskrip “Biwadhanata” dan Babad, yang keduanya ada di Sasana Pustaka kraton.

Sementara itu, menurut KRAT Bagiyono ada tugas yang sudah mulai dikerjakan di lokasi kembang Wijaya Kusuma berada, yaitu Desa Donan, pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Pengurus Pakasa Cabang Cilacap dipimpin ketuanya, KRA Rudy sudah melakukan surve dan persiapan lain, termasuk lokasi yang akan dijadikan tempat menyanggarkan, setelah diarak dalam kirab dari tempat memetik.
Surve itu termasuk untuk memastikan di mana lokasi pohon Wijaya Kusuma berada di Desa Donan itu, apakah ada satu titik atau lebih dari satu titik? Berikut memastikan rute yang bisa dipetik lebih strategis, agar mudah dibawa ke lokasi “penyanggaran”. Informasi mengenai masa berbunga kembang Wijaya Kusuma juga akan dipastikan, agar tim yang bertugas memetik benar-benar tepat waktu masa berbunga.

“Kalau saya kok ‘insya Allah ada (berbunga). Dengan berbekal madhep-mantep, tulus dan ikhlas hanya untuk Kraton (Mataram) Surakarta, segalanya akan dimudahkan dan diberi petunjuk,” ujar KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat yakin. Walau informasi mengenai titik lokasi pohon Wijaya Kusuma belum diperoleh secara detil, begitu juga informasi masa berbunganya, tetapi dirinya yakin tim akan mendapatkannya.
Dalam rapat kemarin, disebut ada sambutan dari Badan Kesbangpol dan Dinas Dikbud Pemkab Magelang. Dari Pakasa Punjer, KPH Edy Wirabhumi menyampaikan terima kasih kepada semua yang sudah berkumpul rapat di Magelang. Pakasa Cabang Magelang ditunjuk sebagai lokasi rapat dan ditugaskan membentuk tim pemetik kembang, karena Patih Sindureja yang sukses memetik bunga itu, makamnya ada di Magelang.

“Karena pertimbangan itu, maka Punjer dhawuh kepada Pakasa Magelang. Punjer akan membantu memfasilitasi acara itu sesuai kemampuan yang ada di punjer,” ujar KPH Edy Wirabhumi melalui zoom meeting. Meski begitu, ekspresi yang terungkap dari semua yang memberikan sambutan, saran dan usulan pada rapat itu, semuanya memberi harapan dan dukungan besar untuk mewujudkan kerja adat yang langka itu.
Bahkan, sebelum utusan pengurus Pakasa cabang memberi saran dan usulan, ada sambutan dukungan dari keluarga atau pengurus makam Pasarean Agung Paremono yang juga hadir dalam pertemuan itu. Dari utusan cabang, tampak perwakilan Pakasa Klaten, Ponorogo, Ngawi, Nganjuk, Pati dan Pakasa Cabang Jepara. Rapat berikut (kedua) untuk membahas berbagai hal lebih detil, akan digelar di Pakasa Cilacap.

Selain mendukung penuh, KP Bambang S Adiningrat (Ketua Pakasa Cabang Jepara) menyampaikan beberapa usulan. Di antaranya harus ada alternatif opsi hari/tanggal pemetikan di bulan April, tetapi Pakasa Cabang Magelang mendapat petunjuk waktu, 2-3 Mei. Mengenai durasi waktu proses persiapan dan pemetikan, usulan Pakasa Jepara tidak hanya sehari sudah bisa diakomodasi menjadi dua hari, 2-3 Mei.
Pakasa Cabang Jepara juga mengusulkan agar setelah pemetikan, ada prosesi untuk membawa ke lokasi “penyanggaran” dalam sebuah kirab. Pihaknya akan menyiapkan pasukan Bregada Prajurit Suraparaja 50-an orang. Keberangkatan tim pemetik dan pendukung, juga diusulkan dari Kraton Mataram Surakarta. Mengenai usulan ini, KRAT Bagiyono menyebutkan akan dirumuskan lagi di rapat kedua dalam waktu dekat. (won-i1)
