Untuk Menyambung Tali Silaturahmi yang Putus Sejak Mataram Kartasura
KUDUS, iMNews.id – Pengurus makam Sunan Kudus menginginkan berlangsungnya tradisi jamasan pusaka peninggalan Sunan Kudus dilakukan dengan tatacara adat Kraton Mataram Surakarta. Untuk keperluan itu, yayasan pengurus makam berencana akan bersama Pakasa Cabang Kudus datang berkonsultasi ke kraton. Selain tatacaranya, tradisi jamasan juga diharapkan dihadiri utusan-dalem dari Kraton Surakarta.
“Jadi, hasil pembicaraan kami tadi, ada gagasan dan rencana seperti itu. Intinya, pengurus makam ingin mengeratkan tali silaturahmi dengan Kraton Mataram Surakarta. Karena diketahui, ada trah keturunan Sunan Kudus (KR Kentjana Kudus) yang menjadi permaisuri Sinuhun Amangkurat IV (ibu Sinuhun PB II). Salah satunya melalui jamasan pusaka Sunan Kudus,” ujar KRRA Panembahan Didik, semalam.

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro selaku Ketua Pakasa Cabang Kudus yang dimintai konfirmasi iMNews.id semalam (Rabu, 4/3) menyebutkan, yayasan pengurus makam Sunan Kudus mengutus Gus Ova datang ke rumahnya, semalam. Kedatangannya ke rumah diutus pengurus untuk menyampaikan gagasan kepada dirinya (Ketua Pakasa Kudus), mengenai rencana “melibatkan” Kraton Mataram Surakarta.
“Pelibatan” kraton mulai dalam bentuk meminta izin, bimbingan mengenai tatacara adat kraton dalam jamasan pusaka sampai rencana menghadirkan utusan-dalem untuk melakukan jamasan pusaka. Bahkan bila memungkinkan, ada keinginan menghadirkan tokoh-tokoh penting dari Bebadan Kabinet 2004 (Gusti Moeng), Pakasa Punjer (KPH Edy Wirabhumi) atau tokoh lain dalam upacara adat jamasan pusaka tersebut.

Dijelaskan juga, dalam dialog dan “jagongan” santai di kediaman Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus semalam disepakati menjadi rencana bersama antara pamong makam dan pengurus Pakasa Cabang Kudus. Dari hasil diskusi dan pemahaman yang sebelumnya dilakukan pamong makam dan dari Pakasa cabang, diperoleh referensi bahwa Sunan Kudus termasuk menjadi leluhur Dinasti Mataram.
Seperti yang tertulis dalam sejarah dan hasil kajian peneliti Ki Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja), keturunan Sunan Kudus telah menjalin ikatan kekeluargaan dengan Dinasti Mataram saat kraton berada di Ibu Kota Kartasura. Karena, puteri Adipati Tirtakusuma diambil sebagai permaisuri Sinuhun Amangkurat IV (Jawi), yang menurunkan Sinuhun PB II sebagai Raja ke-9 Kraton Mataram.

Adipati Tirtakusuma adalah trah darah-dalem keturunan (generasi 6-7) Sunan Kudus, yang mengambil menantu Sinuhun Amangkurat IV atau Jawi (1719-1727). Dari puterinya, KR Kentjana Kudus, lahirlah putra mahkota yang kemudian jumeneng nata sebagai Sinuhun PB II (1727-1749) di Kraton Mataram Islam yang berIbu-Kota di Kartasura. Darah Sunan Kudus mengalir ke Dinasti Mataram melalui Sinuhun PB II.
“Latar-belakang sejarah ini yang mendorong pengurus makam untuk menyambung kembali, tali silaturahmi antara Sunan Kudus dengan Kraton Mataram Surakarta. Melalui tradisi jamasan pusaka dan dukungan kraton, akan menjadi sarana/jembatan mengeratkan kembali hubungan kekeluargaan dan silaturahmi itu. Pakasa Cabang Kudus sangat mendukung gagasan itu,” tandas KRRA Panembahan Didik Singonegoro.

Menurut Ketua Pamong Makam Kyai Glongsor yang juga trah darah-dalem Sinuhun PB X itu, dukungan yang diberikan untuk mewujudkan gagasan pamong makam Sunan Kudus itu karena ada alasan kuat. Selain selaku Ketua Pakasa Cabang Kudus yang bisa menjadi mitra dalam urusan pelestarian adat, tradisi dan budaya khas Kraton Mataram Surakarta di Kudus, dirinya juga salah satu trah darah-dalem Sunan Kudus.
Disebutkan, untuk keperluan itu Pakasa Kudus dan pamong makam Sunan Kudus sepakat akan bersama-sama ke kraton untuk berkonsultasi, utamanya dengan Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA. Konsultasi itu mungkin baru bisa dilakukan setelah Lebaran, karena di bulan puasa ini masing-masing punya kesibukan. Tetapi setidaknya pengurus Pakasa Cabang Kudus akan “mendahului” saat menghadiri “Malem Selikuran”.

Di tempat terpisah, Ki Dr Purwadi menyebutkan, hubungan antara Sunan Kudus dan Mataram Islam Kartasura hingga Surakarta, tak hanya sebatas ikatan kekluargaan dan silaturahmi. Dalam kajian sejarah yang dilakukan menunjukkan, keluarga besar KR Kentjana Kudus menjadi tulang-punggung secara ekonomis dalam menyusun rencana pindah Ibu Kota Mataram dari Kartasura ke Surakarta dan membangun Ibu Kota baru.
“Peran tokoh wanita yaitu KR Kentjana Kudus dalam pembiayaan pindahan Kraton Mataram Islam dan membangun semua infrastruktur Ibu Kota baru di Surakarta Hadiningrat, besar sekali. Dukungannya kepada Sinuhun PB II, penting sekali. Memindahkan Ibu Kota dan membangun Ibu Kota baru bagi sebuah ‘negara’ Mataram, butuh biaya besar. Salah satunya dari keluarga permaisuri yang pengusaha kuat”.

“Saat itu, Keluarga Adipati Tirtakusuma terpandang karena punya kemampuan ekonomi kuat. Keluarga punya beberapa usaha antara lain di bidang mebel, kayu, minyak dan pengelolaan pelabuhan. Salah satunya ditangani KR Kentjana. Dukungannya total untuk Sinuhun PB II sampai Ibu Kota baru Surakarta berdiri. Bahkan masih mengalir saat sang cucu (PB III) naik tahta dan meneruskan pembangunan,” ujar Ki Dr Purwadi.
Menurut hematnya, pada titik singgung antara eksistensi Sunan Kudus dan Dinasti Mataram ini yang strategis untuk dikembangkan menjadi berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi banyak pihak. Karena, titik singgung ikatan keluarga antara keturunan Sunan Kudus dengan tokoh pemimpin dari Dinasti Mataram ini, lebih rasional diterima publik dan menjadi alasan berbagai kegiatan pelestarian budaya.

Prospek pengembangan sisi aktivitas pelestarian budayanya, bagi Pakasa Cabang Kudus jauh lebih strategis untuk kepentingan publik secara luas. Baik dalam pengelolaan aktivitas pelestarian dalam event yang punya potensi pengembangan unsur kepariwisataannya, maupun unsur ikatan emosional, kultural dan historikal keluarga trah darah-dalem Sunan Kudus sebagai materi dukungan utamanya.
Pakasa Cabang Kudus akan mendukung sepenuhnya, sampai gagasan pelibatan beberapa pihak dalam event jamasan pusaka Sunan Kudus ini terwujud. Karena, selama ini Pakasa belum memiliki event andalan yang bisa menjadi ikon cabang Kudus. Tugas pelestarian Budaya Jawa dan tradisi adat Kraton Mataram Surakarta, akan menjadi mudah karena ada tema yang berbasis nama besar leluhur Sunan Kudus dan Mataram. (won-i1)
