Kemarin, Ziarah ke Pasarean Ageng Paremono dan Penyerahan Pikukuh di Brebes
PAMEKASAN, iMNews.id – Rombongan utusan-dalem dari Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin Gusti Moeng, Senin (16/2) siang besok akan “nyadran” ke pulau Madura. Lokasi yang akan diziarahi, yaitu makam leluhur Dinasti Mataram, Adipati Tjakra Adiningrat III di Astana Pajimatan Desa Kolpajung, Kecamatan Kota, Pamekasan.
Ritual tradisi kraton di bulan “Ruwah” Tahun Dal 1959 di Kabupaten Pamekasan, Madura (Jatim), Senin besok, menjadi akhir atau menutup seluruh rangkaian kegiatan “nyadran” di tahun 2026 ini. Seperti pernah disebutkan KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa), kegiatan “nyadran” di Pamekasan tahun ini agak berbeda.

“Pemkab Pamekasan dan masyarakat setempat mempersiapkan diri untuk menyukseskan kegiatan ‘nyadran” ini sebagai event andalan setempat. Pemkab mengemas kegiatan ini sebagai event patiwisata, yang akan dilanjutkan rutin tiap tahun sebagai kegiatan tetap masyarakat setempat,” ujarnya mengutip penjelasan Gusti Moeng.
Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa Lembaga Dewan Adat (LDA) yang akan memimpin rombongan “Nyadran” dari Kraton Mataram Surakarta sebelumnya menegaskan, kelihatannya mulai tahun 2026 ini kegiatan “nyadran” di makam Adipati Honggosukowati dijadikan event pariwiata. Kraton sudah lima kali menggelar event ini.

Event di bidang wisata spiritual yang “dirintis” Kraton Mataram Surakarta, bermula dari niat Gusti Moeng bersama empat saudara perempuan seibu yang membuktikan adanya makam mertua Sinuhun PB IV, yaitu Adipati Tjakra Adiningrat III. Pelacakan sampai di kompleks makam Asta Tinggi di Kabupaten Sumenep di tahun 2018 dan 2019.
Dalam pelacakan sekaligus “nyadran” itu, juga dilakukan prosesi upacara adat khas Kraton Mataram Surakarta, kirab membawa uba-rampe ziarah atau “nyekar” yang dipandu Bregada Prajurit Korsik Tamtama. Akhirnya, tahun 2020 di saat pandemi masuk tanah Air, Gusti Moeng menemukan lokasi makam Adipati Tjakra Adiningrat III.

Begitu lokasi makam ditemukan berada di satu kompleks dengan makam Adipati Ronggosukowati di Desa Kolpajung, Kecamatan Kota, Kabupaten Pamekasan, langsung melakukan prosesi “nyadran” pertama dengan protokol kebesaran khas Kraton Mataram Surakarta. Kirab dipandu Bregada Prajurit Korsik Tamtama dilakukan mulai tahun 2020.
Rintisan kegiatan ziarah ke makam leluhur Dinasti Mataram di pulau Madura itu, juga dilakukan Gusti Moeng dan rombongan dengan misi seni budaya di tahun 2020 itu. Malam sebelum melakukan ziarah ke makam mertua Sinuhun PB IV itu, kraton menyajikan tari koleksinya dalam resepsi sambutan di pendapa kabupaten.

Dari serangkaian peristiwa itu yang dilanjutkan dengan dialog pada kesempatan berikutnya, Pemkab Pamekasan, Madura diyakini menangkap peluang merangkai sebuah kegiatan budaya yang memiliki aspek pengembangan di bidang kepariwisataan. Pada event “nyadran” tahun 2026 ini, menjadi awal gelar event wisata spiritual “Nyadran”.
Event “nyadran” yang dimotori dan memiliki label kuat simbol Kraton Mataram Surakarta ini, sangat strategis dan bisa mengakar di lingkungan masyarakat Madur khususnya Kabupaten Pamekasan, Karena, event itu sebagai upaya warga setempat memuliakan leluhur yang pernah menjadi pemimpin mereka, yaitu Adipati Tjakra Adiningrat.

Makam Adipati Tjakra Adiningrat I-III, berada di kompleks makam yang sama dengan makam Adipati Ranggasukawati (Ronggosukowati-Red). Adipati Tjakra Adiningrat, menurunkan KR Handayawati dan KR Sakaptinah, yang berturut-turut diambil sebagai permaisuri Sinuhun PB IV. Kedua permaisuri menurunkan Sinuhun PB V dan PB VII.
Senin pagi (16/2) besok, Pemkab Pamekasan akan menggelar event kirab budaya dalam rangka “nyadran” di Astana Pajimatan Ronggosukowati, Desa Kolpajung, Kecamatan Kota. Selain rombongan dari kraton terutama Bregada Prajurit Korsik Tamtama, akan diperkuat elemen masyarakat di sana, termasuk embrio Pakasa dan komunitas budaya.

Sebelumnya, rombongan utusan-dalem yang dipimpin KPP Wijoyo Adiningrat (Wakil Pengageng Mandra Budaya) mendapat tugas memimpin ritual “Nyadran” dua lokasi makam leluhur Dinasti Mataram di Kabupaten Magelang, Jumat (13/2). Yaitu di makam BRAy Kleting Kuning di Desa Pucanganom (Srumbung) dan Pasarean Ageng Paremono, Mungkid.
Di dua lokasi makam itu, Pakasa Cabang Magelang yang dipimpin KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat mengorganisasi ritual religi untuk menyambut bulan “Ruwah” itu. Tradisi masyarakat Jawa mendoakan para leluhurnya sebelum memasuki bulan Ramadan dengan tatacara adat dari Kraton Mataram Surakarta, disosialisasikan dengan baik oleh Pakasa.

Sementara itu, Sabtu (14/2), KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa) mendapat tugas memimpin rombongan utusan-dalem untuk menyerahkan “pikukuh” trah keturunan darah-dalem Sinuhun Amangkurat Agung yang berada di Kabupaten Brebes. Pikukuh diserahkan Dr KRT KH Nuridin Syamsudin di Ponpes Asanniyah, Kedawon, Brebes.
Dalam empat bulan terakhir sejak peristiwa Sinuhun PB XIII wafat 2 November 2025, dinamika sosial di internal masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta sangat dinamis. Hari-harinya tampak sangat sibuk, Bebadan Kabinet 2004 harus berbagi tugas melakukan ritual “Nyadran”, di sela-sela proses pergantian tahta yang panas. (won-i1)
