Memasuki Bulan Ruwah, Safari “Tour de Makam” Kraton Kembali Berjalan

  • Post author:
  • Post published:January 22, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Memasuki Bulan Ruwah, Safari “Tour de Makam” Kraton Kembali Berjalan
MAKAM KR HANDAYA : Gusti Moeng tak pernah melewatkan berdoa dan nyekar pusara KR Handaya, saat musim Nyadran di bulan Ruwah tiba, mengawali Ruwahan tahun 2026, hari ini. Permaisuri Sinuhun PB IV itu, melahirkan Sinuhun PB V. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sehari Tadi, Gusti Moeng Pimpin Ziarah Makam Leluhur Dinasti di 4 Daerah

SURAKARTA, iMNews.id – Mulai Rabu (21/1/2026) atau tepat di tanggal 2 Ruwah Tahun Je 1959, Kraton Mataram Surakarta kembali menjalankan tradisi rutin memasuki bulan Ruwah dalam kalender Jawa. Gusti Moeng memimpin rombongan utusan-dalem untuk bersafari “Tour de Makam”, berkeliling menziarahi makam leluhur Dinasti Mataram.

Dalam sehari mulai pukul 08.00 WIB hingga hampir magrib Rabu tadi, rombongan bisa menziarahi lebih dari 4 titik lokasi makam leluhur Dinasti Mataram yang tersebar di 4 kabupaten. Dimulai dari makam Ki Ageng Henis di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, rombongan sekitar 100-an orang mengawali ziarah.

NYEKAR BERSAMA : Gusti Moeng, Gusti Ayu (adik) dan Gusti Madu (KGPH Madu Kusumanagoro-kakak), tampak “nyekar” bersama dalam tradisi “nyadran” mengawali bulan di bulan Ruwah di makam Sri Makurung Handayaningrat, Pengging, Boyolali. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Doa, dzikir, tahlil dan shalawat Sultanagungan dikumandangkan di Masjid Ki Ageng Henis, dipimpin abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro menjadi pembuka “Ruwahan” atau “Nyadran” (Tour de Makam). Selesai doa, dilanjutkan tabur bunga di makam Ki Ageng Henis dan sejumlah tokoh leluhur yang bersemayam di situ.

Salah satu tokoh itu, adalah Kanjeng Ratu Handaya (Ratu Ageng)yang merupakan prameswari Sinuhun PB IV yang melahirkan Sinuhun PB V. Dia tidak jadi satu dimakamkan di Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), karena diambil istri saat Sinuhun PB IV masih berstatus Pangeran Adipati Anom atau putra mahkota.

KEBESARAN KARTASURA : Kebesaran Kraton Matam Islam Kartasura, banyak ditulis oleh Pujangga Kyai Jasadipoera I yang sedang diziarahi Gusti Moeng dan rombongan di makam Pengging, Rabu pagi tadi. Salah satu karyanya adalah Serat Cebolek. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Mengapa eyang KR Handaya tidak sumare di Imogiri, alasannya itu. Kalau Eyang KT Sakaptinah, makamnya jadi satu dengan Sinuhun PB IV di Imogiri,” ujar Gusti Moeng menjawab pertanyaan iMNews.id di sela-sela “nyekar”, pagi tadi. Di situ juga bersemayam Nyai Sewakul, tokoh wanita kaya-raya yang “mendukung” Sinuhun PB III.

Dari Laweyan, Surakarta, rombongan dipimpin Gusti Moeng menuju makam Adipati Sri Makurung Handayaningrat yang berjarak sekitar 15 KM. Kompleks makam pertama di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali itu, adalah bagian dari beberapa tiik lokasi makam leluhur Dinasti Mataram yang ada di kawasan Pengging.

MENURUNKAN PUJANGGA : Pujangga Kyai Jasadipoera II yang sedang diziarahi Gusti Moeng dan Gusti Ayu, adalah tokoh yang menurunkan Pujangga besar Ranggawarsita. Ziarah di kompleks makam para tokoh pujangga itu, berlangsung Rabu pagi tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Menurut Gusti Moeng dan juga sejarawan Ki Dr Purwadi (Ketua Lokantara Jogja) yang berada di dalam rombongan “Tour de Makam”, “Kadipaten Pengging” yang dipimpin Ki Ageng Sri Makurung Handyaningrat, adalah bekas pusat Kraton Pengging. Dalam perjalanan kraton-kraton di Jawa, bekas kerajaan sudah biasa kemudian jadi makam.

Dari makam Sri Makurung Handayaningrat yang bercirikhas tak bercungkup dan hanya dinaungi beberapa payung ukuran besar warna kuning itu, rombongan pindah ke makam Pujangga Kyai Jasadipoera (Yosodipura) I-III. Di Makam yang bersebelahan dengan Masjid Cipta Mulya, Pengging, Gusti Moeng mengawali nyekar lalu diikuti semua yang ziarah.  

MENEGASKAN POSISI : Gusti Moeng sempat memberi penjelasan untuk keperluan edukasi publik secara luas. Bahwa kompleks makam atau petilasan Kebo Kenanga di Pengging atau di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali adalah pusat Kraton Pengging. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada sekitar 70-an yang mengikuti ziarah di Pengging, ikut berdoa dan tabur bunga setelah Gusti Moeng dan rombongan dari kraton. Selain Gusti Moeng, juga ikut serta Gusti Ayu (GKR Ayu Koes Indriyah), sang kakak yaitu KGPH Madu Kusumanagoro bersama istri beberapa anak dan cucunya. Juga tampak beberapa wayah-dalem Sinuhun PB XII.

Dari makam Pujangga Jasadipoera, rombongan bergerak menuju makam KRT Padmagara yang pernah menjabat Bupati Pekalongan dan Pemalang. Tokoh itu disebut Gusti Moeng adalah cicit Sinuhun Amangkurat Agung yang bermakam di Slawi/Tegal. Dari tokoh itu lahirlah KRAy Pradapaningrum, ibunda Gusti Moeng dan 9 saudara kandungnya.

SEMAKIN INDAH : Kompleks makam Sultan Hadiwijaya di Astana Pajimatan Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen yang tampak sedang diziarahi Gusti Moeng dan Gusti Madu itu, kini semakin indah dan makin mudah diakses peziarah. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Titik lokasi makam terakhir di Kabupaten Boyolali yang dikunjungi adalah kompleks makam atau “petilasan” Ki Ageng Kebo Kenanga yang merupakan ayah Jaka Tingkir (Mas Karebet) yang kemudian menjadi Raja di Kraton Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Menurut Gusti Moeng, makam itu adalah bekas pusat Kraton Pengging.

Tetapi, lanjutnya, eyang Kebo Kenanga justru ikut dimakamkan di satu kompleks dengan sanga putra, yaitu Sultan Hadiwijaya di Astana Pajimatan Butuh, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Ziarah di makam Jaka Tingkir di Desa Gedongan berakhir, “Tour de Nyadran” berakhir di makam para pustakawan kraton di Bothok, Karanganyar. (won-i1)