Edukasi Riwayat Semua Lokasi Peninggalan Para Leluhur Dinasti Mataram
IMNEWS.ID – SELAIN edukasi tentang kesabaran dan sikap tidak memaksakan diri atau “nggege mangsa”, dalam seri sebelumnya (iMNews.id, 13/1/2026) Sinuhun PB XIV Hangabehi sedang meneladani perlunya memiliki keseimbangan. Yaitu edukasi tentang spiritual religi dan spiritual kebatinan yang diperlukan seorang pemimpin.
Dua macam lelaku yang bisa “diperoleh” sekaligus dalam perjalanan ke suatu lokasi itu, mempunyai nilai keseimbangan yang diperlukan dalam diri seorang pemimpin. Keseimbangan dua hal itu, bisa mengasah kepekaan, kewaspadaan dan sekaligus bisa mempertajam penalaran seorang pemimpin, untuk menghindari bersikap pragmatis.

(foto : iMNews.id/Won Poerwono)
Edukasi berikut yang lahir dari perjalanan spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi, adalah penyebaran informasi tentang identitas dan lokasi tempat bersejarah yang digunakan untuk “lelaku”. Baik bagi publik yang sama sekali baru mendengar, maupun pengenalan ulang atas sejumlah lokasi penting yang punya hubungan sejarah.
Pesan terpadu yang menjadi isi informasi tentang berbagai lokasi penting yang punya riwayat dan hubungan kesejarahan, sangat mungkin banyak yang tak dipahami publik. Hubungan kesejarahan itu terhubung oleh riwayat ketokohan seorang pemipin, baik dari Dinasti Mataram secara langsung, maupun para tokoh leluhur dinasti.

Misalnya Masjid Ki Ageng Sela yang berada di kompleks Astana Pajimatan Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Banyak di antara publik yang mengira, tidak ada hubungannya dengan Kraton Mataram Surakarta maupun sebelumnya. Padahal, Ki Ageng Sela adalah leluhur Ki Ageng Pemanahan yang menurunkan Dinasti Mataram.
Begitu pula dengan Masjid Ki Ageng Henis di Astana Pajimatan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Dia adalah ayah Ki Ageng Pemanahan. Lalu Masjid Puralaya di kompleks Astana Pajimatan Kutha Gedhe (Jogja) yang Jumat lalu (9/1/206) dikunjungi Sinuhun PB XIV Hangabehi, dibangun oleh Sinuhun Panembahan Senapati.

Sinuhun Panembahan Senapati adalah raja pertama Kraton Mataram Islam, yang sekaligus pendiri Dinasti Mataram. Dalam lirik gendhing iringan tari Bedhaya Ketawang, dikisahkan “perjanjian kesepakatan” antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa samudera selatan atau laut “kidul”.
Panembahan Senapati yang di masa mudanya bernama Danang Suwawijaya, adalah putra Sultan Hadiwijaya, raja Kraton Pajang (1546-1587). Sultan Hadiwijaya pada masa mudanya bernama Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Namun, leluhur Dinasti Mataram ini nyaris tak berjejak karena puing kraton nyaris habis, masjid-pun tidak ada jejak.

Edukasi tentang jejak peninggalan sejarah yang bisa dikenal publik sebagai informasi sejarah dinasti yang utuh, akan banyak memberi manfaat bagi publik secara luas. Setidaknya, bisa menjadi paket objek kunjungan wisata sejarah dan religi. Karena senyatanya, masih banyak jejak sejarah yang bisa dikenali publik.
Jejak sejarah peninggalan dinasti yang mungkin utuh dan menarik untuk dipahami, bisa memperluas kekayaan pengetahuan publik. Jika dalam waktu dekat Sinuhun PB XIV Hangabehi melakukan perjalanan spiritual ke Masjid Cipta Mulya Pengging (Boyolali), mungkin bisa menjadi pintu masuk informasi pengetahuan lebih luas lagi. (Won Poerwono – bersambung/i1)
