Menjadi Pembelajaran Menata Format Kegiatan HUT yang Lebih Baik
IMNEWS.ID – SELAIN menghasilkan capaian luar biasa karena digelar dalam kondisi serba terbatas dari segela kebutuhannya, terselenggaranya HUT ke-94 Pakasa tahun 2025 ini juga menjadi pembelajaran yang baik. Yaitu kesempatan untuk menata-laksana format peringatan lebih baik, dari tahun 2024 yang dinilai kurang.
Tetapi, semua memang kembali pada pada keputusan Sang Khalik atas semua yang kita harapkan dan rencanakan. Karena, peringatan HUT ke-93 Pakasa 2024 dianggap tidak memenuhi ekspektasi umum akibat berbareng dengan Gelar Budaya Kraton Nusantara. Ternyata, tata-laksana HUT ke-94 yang diharapkan lebih baik juga masih “tertahan”.
“Tertahannya” harapan “lebih baik” pada tata-laksana HUT ke-94 Pakasa tahun 2025 ini, jelas akibat markas Pakasa Punjer yang berada di Kraton Mataram Surakarta sedang sibuk. Kesibukannya bukan hal yang biasa, tetapi luar biasa karena harus menghormati masa berkabung akibat wafatnya Sinuhun PB XIII dan “ekses” negatifnya.
Ekses negatif yang ikut menahan “laju” keinginan menumpahkan segala potensi dalam pelaksanaan HUT ke-94, yaitu adanya heboh persaingan “Raja Kembar”. Hebohnya tidak saja dalam aksi nyata dari “dekalarasi” di depan peti jenazah, tetapi juga sampai di dunia maya, yaitu di platform medsos pribadi yang semuanya kurang berdasar.

Tetapi, memang seperti itulah realitanya yang harus diterima dengan lapang dada oleh semua yang terlibat. Dan sekali lagi, situasi dan kondisi yang dihadapi pada HUT ke-94 Pakasa tahun 2025 ini, tentu akan makin mendewasakan Pakasa dan semua yang terlibat. Karena, Pakasa kini adalah New Reborn yang harus bertranformasi.
Oleh sebab itu, sambil menata-laksana format peringatan HUTnya, Pakasa juga bisa tumbuh di alam zaman baru, serta bisa mencukupi kekurangan sesuai kebutuhannya. Oleh sebab itu, dengan segala rupa dan tatalaksananya, peringatan HUT ke-94 Pakasa 2025 bisa menjadi edukasi bersama, untuk menjadi lebih baik lagi di tahun 2026.
Sukses dan meriah sajian peringatan HUT ke-94 tahun 2025 ini, memang tidak bisa dipungkiri. Beberapa hal positif atau keuntungannya sudah disebut pada seri artikel sebelumnya, termasuk sisi kekurangannya. Dan hal positif serta kelebihan lain juga sudah bertambah dan berubah menjadi lebih baik, terutama soal sajiannya.
Karena, di HUT ke-94 tahun 2025 ini, dihadiri perwakilan grup reog dari wilayah lebih luas yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Ada perwakilan dari grup-grup reog yang diinisiasi Paguyuban Reog Katon Sumirat. Bahkan diinisiasi pemberian penghargaan berupa piagam dari kelembagaan Kraton Mataram Surakarta.

Acara pembagian piagam ini bisa dianggap sebagai “surprise” atau kejutan, tetapi bisa benar-benar tak disangka publik bahkan kalangan peserta HUT. Karena informasi soal itu sebelumnya tak disebar-luaskan secara terbuka kepada publik. Atau mungkin bagi sebagian kontingen Pakasa, sudah tak sempat memikir acara kejutan unik itu.
Terlepas dari kejutan atau tidak, pemberian sertifikat oleh Bebadan Kabinet 2004 ini pasti membanggakan kalangan grup seni reog penerimanya, Karena, kini kraton menjadi pengayom dari paguyuban kesenian yang sudah diakui Unesco sebagai heritage dunia itu. Pangar Punjer Pakasa bahkan berharap, seni reog ada di berbagai negara.

Walau mampu mengatasi segala keterbatasan yang menghimpitnya, tetapi untuk HUT ke-94 Pakasa tahun 2025 ini tetap saja membuat banyak kontingen peserta yang tertahan kepuasannya. Kalau kirab budaya HUT Pakasa 2024 barisannya lebih panjang dan bisa start dari lokasi lebih jauh (Taman Sriwedari), tahun ini “diperpendek”.
Lokasi start HUT Ke-94 tahun ini, dari Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, dan finish di tempat yang sama setelah menjalani rute berputar di depan Balai Kota Surakarta. Rute ini sangat pendek, sehingga durasi waktu tidak bisa panjang kalau jumlah tiap kontingen beranggota besar dan masing-masing menyajikan atraksi seni.

Terlepas dari segala keterbatasan itu, tata-kelola sajian seni yang lebih baik menjadi solusinya. Panggung yang tersedia di halaman Pendapa Pagaleran dan di dalam ruang pendapa, menjadi cara tepat untuk mengatasi pemendekan durasi. Karena semula HUT dirancang lima hari, tetapi diringkas menjadi dua hari saja (26-27/12).
Dalam segala keterbatasannya pula, jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan pengurus Pakasa Punjer bersama berbagai elemen lain sebagai penyelenggara, pada HUT tahun 2025 belum bisa memenuhi harapan sebagai event yang ideal dan memuaskan. Karena, konsentrasi penyelenggara terpecah oleh suasana masa berkabung dan “Raja Kembar”.

Heboh yang sempat menampilkan “ontran-ontran” dalam aksi nyata dan sajian sensasi provokatif di platform medsos beberapa tokoh “sebrang”, tentu mengganggu rasa nyaman dan konsentrasi. Terlebih, aksi itu dalam bentuk penggembokan objek wisata museum, yang berkait dengan unsur kesiapan destinasi wisata di saat libur panjang.
Dari ukuran persiapan yang normal dengan situasi dan kondisi normal, sajian itu memang kurang memuaskan. Tetapi karena semuanya berada dalam suasana kurang normal apalagi sedang mengalami kondisi luar biasa, sajian HUT ke-94 Pakasa tetap dalam level sukses dan meriah. Apalagi, jika terpenuhi segala unsur kesiapannya.

Di antaranya, kesiapan tentang kepanitiaannya agenda sajian dan durasi waktu pelaksanaannya. Selain tata kelolanya, bahkan bisa dilengkapi dengan elemen promo yang bersinergi dengan berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Elemen-elemen inilah yang sulit terpenuhi akibat kendala beberapa hal di atas.
Dan di antara tata-kelola yang berubah misalnya soal rute kirab yang berbeda antara tahun 2024 dan 2025, di sisi lain masih ada yang bisa dinikmati suksesnya. Yaitu sukses mengalihkan hujan, yang membuat kirab budaya sebagai inti event, terbebas dari hujan dan bisa dinikmati sebagai destinasi wisata pengganti museum. (Won Poerwono – habis/i1)




