Pakasa Cabang Jepara Gelar Doa dan Menggali Situs Belik “Cagar Budaya”
SURAKARTA, iMNews.id – Peringatan HUT ke-94 Pakasa di tahun 2025 akhirnya diputuskan akan digelar. Dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Pakasa Punjer, Minggu (30/11), menyepakati peringatan HUT diagendakan berlangsung tiga hari, 26-28 Desember. Kirab budaya menjadi materi utama sajian HUT, yang diharapkan lebih meriah dibanding peringatan tahun 2024.
“Poin-poin ratas yang saya catat kurang lebih itu. Tadi disebutkan soal durasi waktunya mungkin bisa berubah atau tetap pada tanggal 26-28 Desember itu. Semua tergantung situasi. Yang jelas, pada tanggal itu sudah dianggap melewati dari 40 hari masa berkabung yang diberlakukan kraton. Rapatnya terbatas, karena hanya diikuti 7 pimpinan Pakasa cabang,” ujar Ki Dr Purwadi, Minggu siang (30/11) tadi.
Tujuh pimpinan yang hadir dalam rapat itu adalah Pakasa Cabang Ponorogo yang dipimpin KP MN Gendut Wreksodiningrat (Pangarsa) bersama tombongan, perwakilan Pakasa Cabang Jepara yang dipimpin KP Bambang S Adiningrat (Pangarsa), perwakilan Pakasa Cabang Ngawi yang dipimpin KRT Suyono S Adiwijoyo (Pangarsa Padintenan) dan perwakilan Pakasa Cabang Magetan, Cabang Karanganyar dan Cabang Sukoharjo.
Ki Dr Purwadi hadir sebagai “peninjau” yang mencatat jalannya ratas yang bisa berfungsi sebagai “notulen”. Kerja pencatatan seperti yang dulu dilakukan abdi-dalem carik, sempat diingatkan KPH Raditya Lintang Sasangka sebagai hal penting yang harus selalu menyertai perjalanan kraton. Ki Dr Purwadi menyebut saat diabsen Ketua Pakasa Cabang Kudus tidak hadir, karena masih dalam kondisi sakit.

Di tempat terpisah, KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi (Ketua Pakasa Cabang Kudus) saat dihubungi iMNews.id sebelumnya menyatakan, dirinya berada di rumah menjalani rawat jalan. Ia pingsan saat mengemudi mobil dalam perjalanan menuju dokter praktik langganannya, karena bertujuan untuk berobat. Ia berharap bisa hadir megikuti ratas Pangarsa Pakasa di kraton, jika kondisinya membaik.
“Kalau kondisi saya membaik, saya akan sowan ke kraton ikut rapat Pangarsa cabang. Mudah-mudahan diberi kesempatan. Tetapi kalau terpaksa tidak bisa, saya mengirim doa saja untuk HUT ke-94 Pakasa yang tepat Sabtu (29/11). Saya akan minta izin  Pangarsa Punjer (KPH Edy Wirabhumi) kalau sampai tidak bisa sowan. La ini anak dan istri juga sakit,” ujar KRRA Panembahan Didik menjawab iMNews.id, kemarin.
Berkait dengan peringatan HUT, selain jenis acara pengisinya, ratas juga membahas pihak-pihak yang akan menjadi penyaji acaranya. Karena selain acara utama kirab budaya, event HUT Pakasa ke-94 juga dimeriahkan berbagai acara lain di panggung kesenian dan pameran karya UMKM dari kalangan Pakasa cabang. Pentas kesenian khas masing-masing cabang Pakasa akan digelar di dalam tiga hari di Pendapa Pagelaran.
Ratas berlangsung di ruang tamu kantor Badan Pengelola (BP) dipimpin KPH Edy Wirabhumi, mulai pukul 10.00 hingga pukul 12.00 WIB. Setelah itu semua peserta rapat “jagongan” santai di Bangsal Smarakata. Di tempat itu, mereka memanfaatkan pertemuan dan lokasi bangsal untuk berfoto bersama. Di tempat itu selalu ada abdi-dalem yang bertugas “tugur” giliran dari berbagai elemen masyarakat adat.

Setelah berfoto bersama, para peserta berpindah tempat ke Pendapa Sitinggil Lor, termasuk 30-an rombongan warga Pakasa dari cabang Ponorogo yang diajak KP MN Gendut Wreksodiningrat. Mereka menghadap ke Bangsal Sewayana (arah selatan) untuk berdoa yang dipimpin KP MN Gendut. Doa dipanjatkan sebagai ucap syukur untuk 94 Tahun Pakasa, sekaligus “nyenyuwun” agar kraton dan KGPH Hangabehi diberi “jalan”.
KP Bambang S Adiningrat bersama rombongan kecil dari Pakasa Cabang Jepara, juga mengikuti kegiatan selepas rapat itu sampai tuntas. Kegiatan Minggu (30/11) ini merupakan rangkaian agenda cabang Jepara, setelah semalam (Sabtu, 29/11), pengurus dan warganya menggelar doa tasyakuran di Pendapa Joglo Hadipuran, Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara. Semalam, digelar kenduri wilujengan HUT ke-94 Pakasa.
Kenduri wilujengan sebagai ekspresi peringatan HUT ke-94 yang digelar Pakasa cabang Jepara, sekitar 50-an orang. Selain doa dan kenduri, juga ada sambutan dari KP Bambang S Adiningrat selaku Ketua Pakasa Cabang Jepara. Di depan warga, pengurus dan undangan terbatas, dijelaskan eksistensi organisasi Pakasa dan kegiatan utamanya. Yaitu pelestarian Budaya Jawa dan menjaga kelangsungan kraton.
Dalam sarasehan peringatan HUT ke-94 Pakasa, selain dijelaskan mengenai tatacara “pasuwitan” sebagai abdi-dalem, juga dijelaskan mengenai organisasi Pakasa sebagai wadah “pasuwitan” para abdi-dalem dari Jepara. Donga wilujengan dipimpin Kyai MNg Wahid Diprojo yang dilanjutkan dengan potong tumpeng yang disajikan dalam wadah khas, “tenong”. KP bambang juga menjelaskan makna filosofi berbagai hal terkait.

Selain itu, juga disinggung kegiatan warga Pakasa dalam rangka peringatan HUT ke-94, sudah terlaksana sebelumnya yaitu Sabtu, 29 November, tepat di hari ultah Pakasa. Kegiatan yang melibatkan sekitar 35 orang dari itu berupa kerja bhakti menggali situs “belik” berusia ratusan tahun yang sudah terkubur lama. Belik yang seharusnya dilindungi “cagar budaya” itu, punya berkait sejarah “Ratu Kalinyamat”.
“Selain warga Pakasa, juga bersama berbagai pihak lain. Ada warga Desa Pengkol, Kecamatan Kota dan petugas BPBD. Sasaran kerja-bhakti ada beberapa objek, yaitu ‘Pesanggrahan’ Donoroso. ‘Pesanggrahan Donorojo (Desa Tulakan), dan satu lokasi lagi di Desa Mantingan. Semua lokasi itu adalah bagian perjalanan Ratu Kalinyamat. Punya nilai sejarah penting. Ini sebagai kelanjutan event Grebeg Mulud”.
Sementara itu, penggalian situs “belik” sebagai agenda kegiatan dalam ranka menyambut HUT ke-94 Pakasa di tahun 2025, menurut KP Bambang adalah sebagai tindak lanjut dari gagasan yang sudah disepakati berbagai pihak dan dalam momentum ini ditindaklanjuti. Yaitu penggalian situs “belik” yang pernah ada sejak zaman perjalanan tokoh Ratu Kalinyamat, yang tertimbun tanah entah karena faktor apa.
Situs belik yang sudah tertimbun tanah sedalam 2 meter itu, sejak Sabtu (29/11) kemarin diadakan penggalian oleh sekitar 35 orang dari berbagai elemen. Kerja bhakti dimulai dengan pemangkasan dahan pohon tinggi berukuran besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Pemangkasan dahan yang menutup tempat pertapaan ke-2 “Loji Gunung” dilakukan para petugas dari BPBD Kabupaten Jepara.

Lokasi belik tempat pertapaan Ratu Kalinyamat itu tepat berada di tengah kota yang masuk Desa Pengkol, Kecamatan Kota. Kanjeng Ratu Kalinyamat yang menjadi Bupati Jepara pertama pada zaman Kraton Pajang, punya tiga lokasi “pesanggrahan” yang digunakan untuk bertapa/meditasi. Yang pertama dekat Loji Gunung bernama Donoroso di Desa Pengkol, kedua di Desa Mantingan dan bernama Donorojo di Desa Tulakan.
Lurah Pengkol Widarso Agung Nugroho ST MM disebut menyaksikan kerja-bhakti penggalian situs “belik” bersejarah itu. Dalam dua hari hingga Minggu (30/11) ini, penggalian seluruh batas tepi lokasi mata air alami itu diharapkan selesai. Pakasa cabang akan mendukung pengembalian fungsinya dan membangun pagar batas air ukuran 7×3 meter. Peresmiannya akan ditandai dengan kirab budaya, pada April 2026. (won-i1)









