Ziarah dan Sajian Seni Laras Madya, Agenda Pakasa Pacitan Menyambut “Muludan”

  • Post author:
  • Post published:September 22, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:3 mins read
You are currently viewing Ziarah dan Sajian Seni Laras Madya, Agenda Pakasa Pacitan Menyambut “Muludan”
KETIPUNG KECIL : Ada instrumen ketipung kecil yang ditabung dengan alat bergagang di antara musik iringan seni religi "Laras Madya" milik Pakasa Cabang Pacitan. Namun, grup "Santiswaran" ini tidak diiringi musik lengkap dua intrumen "kemanak" seperti yang ada di kraton. (foto : iMNews.id/Dok)

Eksplorasi Potensi Kekayaan Seni Budaya, untuk Menjaga Eksistensi

PACITAN, iMNews.id – Sebagai cabang yang termasuk masih muda, Pakasa Cabang Bhumi Wengker Kabupaten Pacitan (Jatim) termasuk pengurus organisasi cabang yang aktif berkegiatan. Hingga kini, cabang masih mengekplorasi potensi kekayaan seni budaya khas setempat, untuk dijadikan event andalan Pakasa sebagai salah satu cara untuk menjalankan tugas pelestarian seni budaya Jawa dan pengembangan organisasi.

Untuk keperluan itu, Pakasa Cabang Pacitan belum lama ini menggelar agenda acara menyambut hari besar Maulud Nabi Muhammad SAW atau “Muludan” di tahun Dal 1959 pada 2025 ini. Agenda kegiatan itu digelar dalam beberapa tahap, mulai dari ziarah ke makam Mbah Kyai Umar Tumbu. Ziarah ke makam tokoh ulama sesepuh leluhur Pacitan, diikuti sekitar 25 warga cabang, Minggu (14/9).

LEBIH DOMINAN : Peralatan perkusi seperti terbang, ketipung kecil dan kendang karawitan Jawa menjadi lebih dominan suaranya sebagai musik iringan seni karawitan “Laras Madya” yang dibina Pakasa Cabang Pacitan ini. (foto : iMNews.id/Dok)

Menurut KRAT Heru Arif Pianto Wedyonagoro (Ketua Pakasa Cabang Pacitan), setelah ziarah dilanjutkan acara peringatan “Muludan” di kediaman warga Pakasa bernama Sukadi, di Dusun Jurugan, Desa Karanganyar, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Sabtu malam (20/9). Acara “Muludan” diisi pemabacaan ayat suci, donga wilujengan yang dipimpin ustad Marjuki dan dilanjutkan sajian seni karawitan “Laras Madya”.

“Acara Muludan dihadiri 50-an orang. Kepala Dusun (Aris Cahyono SPd) juga ikut menyambut. Bahkan, RT H Suhadi Projodiputo ST (DPRD pacitan) juga ikut hadir mendukung acara itu. Sajian tunggalnya, seni Santi Swara. Pakasa cabang baru bisa membina kelompok kesenian ini. Tiap kamis malam Jumat selalu berlatih di tempat warga yang selama ini ditetapkan menjadi sekretariat seni Santi Swara,” ujar KRAT Heru Arif.

MEMIMPIN PERTEMUAN : KRAT Heru Arif Pianto Wedyonagoro (Ketua Pakasa Cabang Pacitan), memimpin pertemuan yang digelar Pakasa Cabang Pacitan di sela-sela peringatan hari raya Maulud Nabi Muhammad SAW atau “Muludan”, Sabtu malam (20/9). (foto : iMNews.id/Dok)

KRAT Heru Arif Pianto (Ketua Pakasa Cabang Bhumi Wengker) menjelaskan beberapa hal berkait agenda kegiatan cabang menjawab pertanyaan iMNews.id, kemarin. Pakasa cabang ini, sudah beberapa kali terlibat dalam berbagai kegiatan baik yang diinisiasi pengurus cabang maupun menghadiri kegiatan seni budaya yang digelar pihak laih, misalnya peringatan hari jadi desa yang digelar salah seorang anggotanya.

Hingga kini, Pakasa Cabang Pacitan memang belum memiliki event adat, tradisi dan seni budaya khas yang menjadi andalannya. Dari haril eksplorasi yang dilakukan, pembinaan seni karawitan religi “Laras Madya” yang baru bisa dilakukan intensif selain beberapa jenis kesenian tradisi setempat, misalnya “Kethek Ogleng”. Seperti diketahui, Kabupaten Pacitan juga tidak memiliki makam leluhur Dinasti Mataram.

ZIARAH MAKAM : KRAT Heru Arif Pianto (Ketua Pakasa Cabang Pacitan) memimpin rombongan pengurus Pakasa Cabang Pacitan saat berziarah ke makam tokoh ulama setempat, Mbah Kyai Umar Tumbu di Dusun Jurugan, Desa Karanganyar, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Minggu siang (14/9). (foto : iMNews.id/Dok)

Kesenian “Laras Madya” yang berkembang di Kabupaten Pacitan seperti yang dibina Pakasa cabang, menandakan seni karawitan religi berkembang dan menyebar luas di berbagai wilayah di pulau Jawa, tengah hingga ke timur. Namun, baik nama maupun kelengkapan instrumennya berbeda-beda sesuai yang berkembang kekayaan seni lokal. Karena di Kabupaten Ponorogo terdekat Pacitan, juga ada dan bernama “Gembrung”.

Selain tidak terlihat instrumen “kemanak” seperti yang ada di grup “Laras Madya” Kraton Mataram Surakarta dan grup “Ngesti Swara” milik warga Pakasa di Desa Jatisobo, Polokarto (Sukoharjo), grup seni “Laras Madya” di Pacitan belum teridentifikasi judul-judul “gendhingnya”. Namun, di dalam iringan musik grup “doa” (santi) “suara” (swara) “milik” Pakasa Pacitan, ada “ketipung” kecil yang membuatnya beragam. (won – i1)