Semangat Membangun Rasa Hormat Leluhur Peradaban, Melalui Caos Tahlil Nyadran (seri 2 -bersambung)

  • Post author:
  • Post published:March 10, 2023
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Semangat Membangun Rasa Hormat Leluhur Peradaban, Melalui Caos Tahlil Nyadran (seri 2 -bersambung)
MEMBAGI KONSENTRASI : Setelah berada di dalam kraton, kini Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA, harus membagi konsentrasi karena ada ritual gladen tari Bedaya Ketawang tiap Anggara Kasih. (foto : iMMNews.id/Won Poerwono)

Membagi Konsentrasi di Banyak Lini Tugas, “Luar-Dalam”

IMNEWS.ID – SEMANGAT membangun rasa hormat atau “mikul dhuwur, mendhem jero” terhadap jasa-jasa para leluhur yang telah menurunkan generasi kehidupan dengan kelengkapan peradabannya, memang bisa diwujudkan dengan berbagai cara sesuai tradisi adat dan keyakinan masing-masing. Tetapi yang sudah biasa berlaku di kalangan warga peradaban Jawa, para leluhur sudah menyediakan pedomannya, yaitu sistem kalender Jawa sebagai perpaduan akulturatif antara Tahun Saka karya Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dalam rangka menegaskan bahwa Mataram adalah kraton Islam.

Oleh sebab itu, bagi warga peradaban Jawa khususnya, sudah tidak perlu ragu lagi untuk mewujudkan tiga kata kunci yaitu “mengingat”, “membalas” dan “memelihara” untuk membangun rasa hormat atau “mikul dhuwur, mendhem jero” atas segala jasa-jasa para leluhur peradaban. Dan perilaku dan sikap batin warga peradaban sangat transendental, karena ujung yang dituju adalah Sang Maha Pencipta, Allah SWT, sebagai ungkapan rasa syukur atas segala karunia dan kemurahan yang telah diberikan melalui para leluhur yang disimbolkan dengan berbagai wujud uba-rampe dan tatacara.

CAOS BHEKTI TAHLIL : Tema “Caos Bhekti Tahlil” untuk memberi label aktivitas “Nyadran” di makam para leluhur Dinasti Mataram adalah judul yang pas karena seuai realitas dan tujuannya serta wujud ekspresinya, seperti yang dilakukan di Masjid Astana Pajimatan Laweyan, Surakarta, Kamis (23/2). (foto : iMMNews.id/Won Poerwono)

Dengan begitu, aktivitas safari keliling “nyadran” yang dilakukan rombongan dari Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertiyah di bulan “Ruwah” ini, sangat tepat diberi tajuk “Caos Bhekti Tahlil”. Cara memberi (caos) sebagai ungkapan generasi kehidupan yang berbhakti (bhekti) dalam bentuk doa, dzikir dan “tahlil”, adalah semangat untuk “mengingat” jasa-jasa para leluhur, sebagai salah satu cara “membalas” jasa-jasanya dan menjadi tatacara yang bermartabat dan beradab untuk “merawat” adat dan tradisi menghargai/menghormati jasa-jasa para leluhur.

Tetapi memang ada saja hambatan untuk melakukan hal-hal yang baik dan positif, seperti yang sedang dihadapi GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng bersama semua elemen dan bebadan serta jajaran “Kabinet 2004”, yang kini berada di dalam proses transisi. Membagi tugas, fokus dan konsentrasi dalam suasana “perdamaian” yang masih alot, tentu sungguh berat bagi Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA). Karena mulai momentum “insiden Gusti Moeng kondur Ngedhaton” 17 Desember 2022, harus membagi porsi kebijakan dan perhatian yang seimbang baik bagi lingkungan internal, maupun eksternal yang sudah terbangun konstruktif cukup baik dan prospektif.

SANGSANGAN KEMBANG : Sangsangan kembang kenanga dan melati, terasa sangat sesuai dan khas untuk melengkapi ritual “Caos Bhekti Tahlil” rombongan “nyadran” dari Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin Gusti Moeng mulai dari pusara Kyai Ageng Henis, Astana Pajimatan Laweyan, Kamis (23/2). (foto : iMMNews.id/Won Poerwono)

Oleh karena itu, sangatlah wajar ketika dalam rangka menyesuaikan diri bersama seluruh elemen, bebadan “Kabinet 2004” dengan jajarannya itu, ada panggilan tugas dan kewajiban yang terpaksa “ikut menyesuaikan”. Di antaranya adalah permintaan hadir pada ritual religi haul yang digelar Pakasa Cabang Pati di beberapa titik lokasi yang begitu banyak tersebar di wilayah Kabupaten Pati, terpaksa tidak bisa dihadiri Gusti Moeng. Selain kesibukan menata-ulang segala macam infrastruktur dan fungsi kelembagaan di internal kraton, Gusti Moeng juga harus menyusun agenda dan berbagai menjalani safari keliling “Tour de Makam” untuk “nyadran” para leluhur Dinasti Mataram.

Karena dalam rangka akselerasi yang diperlukan di masa transisi setelah “insiden kembali masuk” dan proses “perdamaian”, maka pelaksanaan agenda “Nyadran Tour de Makam” bulan Ruwah tahun ini juga terasa berat, karena harus membagi lini tugas di dalam dan di luar, membagi tim petugas dan menentukan prioritas titik lokasi makam leluhur yang dipilih. Apalagi Ruwah di tahun ini, semakin masuk ke dalam musim penghujan yang kini lebih tinggi intensitasnya, karena ada tambahan cuaca ekstrim.

KESAN AKULTURATIF : Doa, tahlil dan dzikir yang digelar Gusti Moeng dan rombongan dari Kraton Mataram Surakarta saat “nyadran” di pusara makam Kyai Ageng Sri Makurung Handayaningrat di Pengging, Boyolali, suasana dan pemandangan lokasi makamnya sangat terkesan akulturatif. (foto : iMMNews.id/Won Poerwono)

Walau situasi, kondisi dan tantangannya sangat berat, tetapi agenda “Nyadran Caos Bhekti Tahlil” tetap bisa dimulai sesuai jadwal, yaitu  diawali dengan menziarahi makam Kyai Ageng Henis di Astana Pajimatan Laweyan, Kamis (23/2) dengan doa, tahlil dan dzikir yang diikuti lebih 100 orang, karena lokasi di dalam Kota Surakarta, sekitar 4 KM arah barat Kraton Mataram Surakarta. Dalam sehari itu, rombongan “Tour de Makam” yang dipimpin Gusti Moeng bisa menziarahi 5 titik lokasi makam, dari Kyai Ageng Henis meluncur ke Pengging, Banyudono, Boyolali, diawali dari makam Sri Makurung Handayaningrat dan tiga titik lokasi makam berikutnya.

Banyak kisah dan informasi sejarah menarik dari 5 titik lokasi yang “disadran” rombongan dari kraton. Karena Kyai Ageng Henis yang hidup pada zaman Kraton Mataram berIbu-kota di Kartasura, catatan hasil penelitian Dr Purwadi dari Lokantara Pusat di Jogja menyebutkan, tokoh itu banyak berperan menjadikan Desa Laweyan sebagai sentra industri sandang batik antara tahun 1645-1745. Sementara Pengging yang kini hanya dikenal sebagai sebuah desa, pada zaman Mataram Kartasura adalah wilayah kabupaten, hingga beberapa tokoh bupatinya dimakamkan di situ, termasuk “penghasil” Pujangga Jawa, yaitu RNg Jasadipura (Yosodipuro) I dan II. (Won Poerwono-i1)

Leave a Reply