Proaktif dan Ramah Publikasi, Sediakan Data Primer Menjadi Kebutuhan Penting
IMNEWS.ID – “WELL PUBLISH” (ramah publikasi) dan selalu proaktif menyebarluaskan eksistensi dan kegiatan yang menjadi yang menjadi tugas dan kewajiban masyarakat adat terutama Pakasa cabang, bisa menjadi salah satu syarat kunci keberhasilannya. Terutama keberhasilan pengembangan organisasi di tingkat cabang, hingga terbentuknya pengurus di setiap kecamatan atau tingkat anak cabang (Ancab).
Kalau arah perjalanan yang ideal ditempuh setiap Pakasa cabang mirip upaya-upaya di atas, maka Pakasa Cabang Ponorogo yang dipimpin KP MN Gendut Wreksodiningrat sangat layak dijadikan contoh. Karena, Pakasa Gebang Tinatar ini sudah membuktikan keberhasilannya menjalankan upaya-upaya itu. Warganya sangat banyak, pengurus Ancab hampir terbentuk di 22 kecamatan, potensi ritual banyak dan rutin digelar.
Tak hanya beberapa indikator yang sudah dijalankan sejak pengurus Pakasa cabang terbentuk di tahun 2016, Pakasa cabang ini juga punya indikator rajin “sowan” ke kraton setiap upacara adat yang digelar. Cabang ini, juga sudah lebih dulu punya pengurus Putri Narpa Wandawa Cabang Ponorogo, yang dibentuk sekitar 4 tahun lalu dan diketuai istri KP MN Gendut.
Pakasa cabang ini juga mampu mengikat tali silaturahmi bersama cabang-cabang di sekitarnya dalam Paguyuban Reog “Katon Sumirat”, yang diketuai KRA Sunarso Suro Agul-agul dan bersekretariat di Kabupaten Ponorogo pula. Pakasa Ponorogo menjadi koordinator sekaligus anggota “Katon Sumirat” bersama cabang Ngawi, Magetan dan Sukoharjo, bahkan Pakasa Cabang Jeparapun menjadi mitra idealnya di berbagai event.

Pakasa Cabang Jepara, termasuk cabang muda yang ramah publikasi dan selalu proaktif menyebarluaskan kegiatan budayanya. Kolaborasi ideal bersama beberapa cabang lain yang terwujud di event “Grebeg Mulud” 2024, akan ditingkatkan pada Agustus 2025 ini. Tak hanya Ponorogo, Ngawi dan Pakasa Kudus yang diundang, tetapi semua cabang untuk meraih rekor jumlah prajurit bertombak terbanyak.
Selain Jepara dan Kudus setelah Pakasa Cabang Ponorogo, memang belum begitu tampak upaya-upayanya yang masuk kategori “well publish” dan memahami manfaat teknologi informasi modern. Tetapi, memang banyak faktor yang menjadi kendalanya, terlebih situasi dan kondisi ekonomi secara nasional maupun global, memang sedang “tidak baik-baik saja”. Yang terakhir ini ikut membuat Pakasa cabang “tidak berdaya”.
Dari catatan pengurus Pakasa Punjer, ada lebih 30 cabang Pakasa yang sudah pernah resmi terbentuk pengurusnya. Tetapi, faktanya banyak yang tidak berdaya oleh faktor internal hubungan manusianya dalam kepengurusan, jauh sebelum situasi dan kondisi ekonomi nasional dan global memburuk. Seandainya ada sentuhan unsur-unsur “well publish”, mungkin beberapa Pakasa cabang lain juga bisa eksis menonjol.
Tetapi, Pakasa Cabang Kota Bekasi (Jabar) menjadi perkecualian di antara beberapa cabang selain Jepara, Ponorogo, Kudus dan Ngawi. Mungkin karena ada sentuhan unsur-unsur “well publish”, eksistensinya cepat tampak walau usianya masih sangat muda. Pakasa Magelang, cabang Kabupaten/Kota Madiun, Magetan, Nganjuk, Malang Raya, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sragen dan sebagainya, sangat potensial.

Salah satu syarat “well publish” itu, adalah ketersediaan atau kemudahan penggalian data informasi yang menjadi materi utamanya. Inilah yang menjadi faktor terbesar pendorong tercapainya eksistensi dan kemajuan perkembangan organisasi Pakasa Cabang Kudus, dalam kategori tercepat. Selain beberapa hal yang disebut dalam seri sebelumnya (iMNews.id, 20/8), masih ada beberapa potensi lain lagi.
Potensi “isu” terbentuknya pengurus Putri Narpa Wandawa Cabang Kudus dan “isu” makam Pangeran Puger, ikut mempercepat kemajuan organisasi yang diraih Pakasa cabang pimpinan KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonagoro itu. Walau sama-sama belum melembagakan peran “public relation”, tetapi dalam soal kemudahan dan ketersediaan data informasi untuk publikasi, Pakasa Cabang Kudus menjadi terdepan.
Memberi kemudahan dan ketersediaan data informasi materi publikasi begitu lengkap, adalah sisi lain yang justru menjadi kecerdikan dan kecerdasannya mempercepat terwujudnya eksistensi dan pengembangan organisasi. Karena dibanding Ponorogo, Jepara apalagi Pati, Pakasa Cabang Kudus tergolong paling “miskin” event upacara adat, mengingat potensi lokasi makam leluhur Dinasti Mataram paling sedikit.
Kini memang bisa disebut “belum sepenuhnya” punya, karena makam Pangeran Puger dan ritual kholnya, baru di tahun 2025 ini “dikenal” secara dekat. Sedangkan makam Kyai Glongsor atau KRT Prana Kusumadjati, bukan dari keluarga dekat tokoh leluhur Dinasti Mataram. Meskipun, nama besar dan pusaka “terompetnya”, punya daya tarik besar dan sudah sukses menjadi ikon 4 kali kirab budaya hingga tahun 2024.

Kini, Pakasa Cabang Kudus sedang menunggu saat kesempatan untuk mencoba menjalin komunikasi dengan masyarakat adat di dua desa di Kecamatan Undaan (Kabupaten Kudus), salah satunya Desa Kuthuk. Ritual khol tokoh “pepunden” di dua desa yang rutin tiap tahun digelar, menjadi potensi besar untuk pengembangan organisasi Pakasa Kudus. Karena, dua desa itu berada di wilayah tugas Pakasa Cabang Kudus.
Potensi daya dukung pengembangan cabang Kudus itu, tentu akan menjadi “isu” menarik untuk mendorong Kudus meningkatkan eksistensinya, selain “isu” makam Pangeran Puger dan “isu” cabang baru Putri Narpa Wandawa. Karena, pengembangan ritual khol di dua desa itu lebih rasional didukung oleh Pakasa Cabang Kudus, dibanding oleh pengurus cabang di luar Kudus yang selama ini ikut menginisiasi.
“Selaku pimpinan Pakasa Cabang Kudus agak sungkan dan pekewuh, kalau proaktif atau bahkan agresif melakukan komunikasi dengan masyarakat adat dua desa di Kecamatan Undaan itu. Karena, sudah lebih dulu berhubungan akrab dengan Pakasa cabang lain. Walau sebenarnya, pimpinan Pakasa di wilayah Pati yang berdekatan dengan dua desa itu, sudah menyatakan tidak aktif sebagai warga Pakasa”.
“Kami akan berdialog dan menjalin hubungan secara alamiah saja, agar tidak menyinggung perasaan pihak yang lebih dulu mendukungnya. Suatu saat nanti pasti akan menyadari posisinya, karena ada di wilayah kabupaten yang sama. Kami juga selalu terbuka untuk menerima kehadiran masyarakat adat dua desa itu, untuk bergabung menjadi keluarga besar Pakasa Kudus,” ujar KRRA Panembahan Didik Singonagoro.

Ketersediaan data informasi yang dibutuhkan sebagai materi publikasi, memang sangat diperhatikan Pakasa Cabang Kudus terutama pimpinannya, karena cara itu menjadi jalan terbaik untuk merubah keterbatasan. Kemudahan menggali informasi mengenai berbagai kegiatan seni budaya dari Pakasa cabang ini, juga dibuka karena sangat disadari menjadi pintu kalangan media menyebarluaskan berbagai aktivitas kegiatannya.
Pakasa Cabang Kudus yang selalu terbuka dan membantu penggalian data informasi untuk berbagai kegiatan seni budayanya, menjadi potensi penting yang menentukan sukses pengembangan organisasinya. Selain itu, figur pimpinan yang mampu mengerahkan warganya menggali potensi yang bisa diangkat menjadi event khas ikon Pakasa, adalah prestasi yang patut diapresiasi, karena bisa mengatasi kebuntuan. (Won Poerwono – habis/i1)